Dark
Light
Dark
Light

Tokoh Muda NU Buka Suara Dinamika PBNU: Semua Masalah Kembalikan Saja ke Aturan Mainnya

Tokoh Muda NU Buka Suara Dinamika PBNU: Semua Masalah Kembalikan Saja ke Aturan Mainnya

Jakarta, Arina.id — Persoalan di jajaran tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi sorotan setelah mencuatnya isu pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Tiga pengurus harian PBNU Sumantri Suwarno, Mohamad Syafi’Alielha (Savic Ali), dan Hasanuddin Ali angkat suara merespons dinamika tersebut. Salah satunya terkait poin dalam Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang menyinggung adanya indikasi pelanggaran tata kelola keuangan di lingkungan PBNU.

Bendahara PBNU, Sumantri Suwarno menegaskan bahwa pengelolaan keuangan PBNU justru sangat transparan. Akses keluar-masuk dana, kata dia, tidak hanya dimiliki oleh bendahara, tetapi juga dapat dibuka oleh pihak lain dalam struktur pengurus.

"Termasuk yang sekarang ramai itu, tidak disembunyikan. Data dipegang oleh anak-anak keuangan," ujar Sumantri dalam Podcast Ruang Publik di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Terkait risalah yang beredar, Sumantri menyebut dirinya sebagai pihak yang terdampak langsung karena menyangkut pengelolaan keuangan. Namun, ia menilai polemik ini sebagai ujian bagi para elite PBNU.

"Dalam konteks risalah itu, saya saksi sekaligus korban karena soal pengelolaan keuangan. Tapi saya melihatnya sebagai ujian, bukan buat NU, karena NU sudah terbukti 100 tahun bertahan,” katanya.

Sumantri menegaskan bahwa dirinya tidak berpihak pada siapa pun dan mengajak seluruh elite PBNU untuk duduk bersama mencari penyelesaian bersama.

Menurut dia, tugas pengurus PBNU adalah membantu jamaah mencapai potensi terbaiknya, bukan mempertahankan kepentingan internal.

"Mari kita duduk bersama supaya waktu umat NU bisa mencapai titik optimumnya dalam konteks hubungan dengan negara maupun antar unsur masyarakat. Soal kepentingan antar kita ini sudah tidak relevan lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PBNU Bidang Media, Advokasi, dan IT Savic Ali mengakui situasi saat ini cukup mengecewakan karena belum terlihat adanya komunikasi terbuka antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

"Tentu saya yakinkan, karena sampai hari ini kita belum melihat ada sebuah ruang yang terbuka cukup lebar untuk berkomunikasi,”kata Savic.

Savic menegaskan keyakinannya bahwa NU akan tetap terjaga sebagaimana ucapan dari Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). 

"Seperti dawuh Gus Mus, NU itu dijogo Gusti Allah, gak usah terlalu khawatir. Akhirnya, saya udah benar dari kemarin sebenarnya, gak khawatir amat," kata dia.

Savic berharap segera ada komunikasi antara kedua belah pihak yakni Rais A'am PBNU Kiai Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

"Jadi saya kira saya masih berharap bahwa ada ruang komunikasi itu terjadi. Sehingga memang tidak ada namanya pemecatan. Apalagi ketua umum Gus Yahya sudah menyatakan tidak akan mundur," kata Savic.

Apalagi, lanjutnya, sudah ada pemahaman bahwa Rais Aam PBNU tidak memiliki kewenangan untuk memecat Ketua Umum PBNU. Pemecatan hanya bisa dilakukan melalui Musyawarah Luar Biasa (MLB) dengan mekanisme 50 persen plus satu, sesuai AD/ART.

"Jadi siapa pun yang menginginkan ketua umum diganti sebelum Muktamar, itu mengusulkan ada MLB, baru di MLB itu memutuskan. Karena baik Rais Aam maupun ketua umum itu mandataris Muktamar,” tegas dia. 

Senada dengan itu, Ketua PBNU Hasanuddin Ali menyayangkan persoalan yang mencuat belakangan ini sebenarnya hanya perkara ramah temeh hal kecil yang seharusnya bisa diselesaikan bersama. 

"Tidak ada sesuatu yang berat sebenarnya kalau bicara penyebabnya. Ini memperlihatkan ada intensi yang membuat persoalan menjadi besar, padahal sederhana," ujarnya.

Menurutnya, NU sebagai organisasi sudah memiliki perangkat aturan yang bisa digunakan untuk menyelesaikan setiap konflik. 

"Semua persoalan mestinya dikembalikan ke aturan. NU ini bukan lagi seperti pesantren yang bisa berjalan seenaknya. Ada AD/ART, ada Perkum. Ya sudah, kembalikan saja ke aturan main," tegasnya.

Selain aturan formal, NU juga memiliki tradisi penyelesaian masalah lewat mekanisme tabayun. “Tabayun itu bisa menyelesaikan banyak konflik di kita. Dan ini belum terjadi. Kita berharap itu dilakukan,” katanya.

Melihat konflik yang ramai di media sosial oleh kalangan NU, Hasanuddin melihat adanya kebangkitan kesadaran identitas di kalangan warga NU dari tahun ke tahun Kesadaran identitas ini membawa dua konsekuensi. Pertama, warga menuntut lebih kepada NU.

"Mereka melihat NU punya tanggung jawab kepada saya sebagai warganya, sama seperti negara kepada warganya," jelasnya. Kedua, warga merasa menjadi bagian dari perbincangan publik setiap kali ada konflik di tubuh NU.

Hal ini membuat setiap isu tentang NU, baik positif maupun negatif, selalu ramai di media sosial.  "Ada perasaan keterikatan yang lebih kuat dengan NU," kata Ceo Alvara Institute itu.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo