Dark
Light
Dark
Light

PD III di Ambang Mata, Biden Bisa Seret NATO Dalam Perang Ukraina-Rusia

PD III di Ambang Mata, Biden Bisa Seret NATO Dalam Perang Ukraina-Rusia

Arina.id -- Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah memberikan restu kepada Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh (ATACMS) dalam perang melawan Rusia. Keputusan Biden tersebut dikhawatiran bakal meningkatkan eskalasi perang dan memicu meletusnya Perang Dunia III.

Dengan rudal tersebut, serdadu Ukraina bisa menargetkan posisi lebih dalam ke wilayah Kursk yang saat ini sudah diduduki sekitar 50.000 tentara, termasuk di antaranya 10.000 warga Korea Utara. Demikian disampaikan Anggota Parlemen AS Michael Waltz, seperti dilaporkan Fox News.

"Ini adalah satu lagi langkah menuju eskalasi, dan tidak ada seorang pun yang tahu ke mana arahnya," kata Michael Waltz yang digadang-gadang bakal menjadi penasihat keamanan nasional Donald Trump, presiden terpilih Amerika.

Para pendukung Trump memang tidak sepemikiran dengan Biden dalam beberapa kebijakan penyelesaian perang antara Ukraina - Rusia. Donald Trump Jr, putra dari Trump, bahkan mengunggah kritik menohok terhadap kebijakan tersebut.

"Kompleks Industri Militer tampaknya ingin memastikan Perang Dunia ke-3 berlangsung sebelum ayah saya mempunyai kesempatan untuk menciptakan perdamaian dan menyelamatkan nyawa. Harus mengunci $Triliunan itu. Terkutuklah hidup!!! Dasar bodoh!" demikian Ia menulis di akun media sosial X.

Sebelumnya, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengonfirmasi bahwa Kiev telah mendapat restu dari Biden untuk pertama kalinya menggunakan ATACMS pada Senin 18 November 2024. Ia bahkan menyebut kalau Biden merestui militer Ukraina menembakkan missile sejauh 300 kilometer ke dalam wilayah Rusia.

Perubahan besar dalam kebijakan perang ini, seperti dilaporkan The Washington Post yang mengutip dua sumber pejabat AS, diputuskan oleh Biden menyusul pengerahan tentara Korea Utara untuk menyokong strategi tempur militer Rusia di Ukraina.

Pejabat senior AS yang menolak disebutkan namanya itu menambahkan, strategi tersebut bertujuan untuk membatasi keterlibatan lebih dalam pasukan Korea Utara dalam serangan Rusia ke Ukraina yang berlangsung sejak Februari 2022.

Meskipun demikian, Michael Maloof, bekas analis kebijakan keamanan senior di Kantor Menteri Pertahanan AS tersebut meragukan penggunaan ATACMS bisa berhasil. Alih-alih mengusir Rusia, penggunaan rudal jarak jauh tersebut justru bakal memicu gelombang ketegangan baru.

Penggunaan ATACMS bisa memperburuk situasi perang dan memperluas eskalasinya. Kebijakan itu juga bisa menyeret Pakta Pertahanan Atlanntik Utara (NATO) dalam perang dan memicu ketegangan baru di Eropa.

Analisis Maloof ini didasarkan pada infrastruktur teknologi untuk menerbangan rudal jarak jauh tersebut, yang selama ini masih membutuhkan bantuan dari sejumlah negara anggota NATO lainnya.

"ATACMS memerlukan bantuan NATO karena arus informasi yang diperlukan untuk menyediakan penerbangan rudal. Jadi hal itu tentu membawa partisipasi NATO," katanya.

Berikutnya, Maloof malahan mensinyalir satu-satunya alasan Biden merestui penggunaan ATACMS hanya semata-mata kepentingan politik. Dengan mengizinkan Ukraina menggunakan ATACMS dalam serangan di wilayah Rusia, Biden justru membidik jabatan Trump.

Biden hendak menjebak Trump atas kegagalan Ukraina jika pemerintahan baru tidak mendukung keputusan tersebut.

"Penggunaan ATACMS oleh Ukraina tidak banyak berpengaruh secara militer, hanya menambah eskalasi dan membuat Donald Trump gagal setelah pelantikannya, Michael Maloof," kata Maloof sepert dikutip dari Sputnik.

"Jika itu yang terjadi, Biden pada dasarnya sedang menyiapkan Trump untuk gagal. Dan itu berbahaya dan salah, ketika pemerintahan yang sudah habis masa jabatannya melakukan hal yang sama terhadap pemerintahan yang akan datang. Dan mereka harus dikutuk karenanya," ujar Maloof.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo