Dark
Light
Dark
Light

Ketegangan India-Pakistan Meruncing, Sekjend PBB Sampai Pusing

Ketegangan India-Pakistan Meruncing, Sekjend PBB Sampai Pusing

Arina.id - Ketegangan antara India - Pakistan terus meruncing setelah keduanya terlibat saling gertak beberapa hari lalu sebagai akibat dari serangan teroris di dekat Kota Pahalgam di Jammu dan Kashmir, India, pada 22 April.

Dalam tragedi berdarah di wilayah yang dikendalikan India tersebut, sebanyak 26 orang dilaporkan meninggal dunia. India segera merespon dengan menutup perbatasan kedua negara dan mengusir diplomat Pakistan. India juga menghentikan sejumlah kerja sama. 

Pakistan pun merespons dengan aksi serupa. Terbaru, ketegangan kedua negara semakin meruncing dengan sama-sama menutup akses penerbangan komersial bagi seterunya. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan eskalasi ketegangan antara India-Pakistan terus meruncing mengingat sejarah keduanya terutama di wilayah Khasmir.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sampai harus mengultimatum kedua negara. PBB, kata Gutteres, tidak akan melakukan lawatan ke India atau Pakistan sampai kedua negara bertetangga itu menerima tawaran mediasi pihaknya.

"Saya rasa tidak akan ada lawatan sampai ada pesan yang jelas bahwa, seperti dalam setiap kejadian di mana ada tensi tinggi antara dua negara, bahwa mereka berdua menerima jasa baiknya (tawaran untuk mediasi oleh PBB)," kata Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric, Kamis (01/05/2025).

Sebelumnya pada Rabu (30/4), kantor berita India ANI melaporkan bahwa perwakilan dari kementerian pertahanan India dan Pakistan telah membahas pelanggaran gencatan senjata di sepanjang garis kendali.

Kemudian masih pada hari yang sama, India menutup wilayah udaranya untuk pesawat yang terkait dengan Pakistan hingga 23 Mei. Ketegangan kedua negara meningkat setelah serangan teroris di Kashmir. Kelompok pemberontak Front Perlawanan mengaku bertanggung jawab atas serangan  yang menewaskan 26 orang itu.

India menuding kesalahan di pihak Pakistan atas serangan itu dan menindaklanjutinya dengan mengurangi perwakilan diplomatik bersama, menangguhkan Perjanjian Perairan Indus, dan menutup satu-satunya jalur perbatasan darat kedua negara.

Perdana Menteri India Narendra Modi pun memberikan kebebasan operasional kepada militer untuk memutuskan cara, target, dan waktu dalam merespons serangan teroris Pahalgam tersebut.

Pakistan menanggapi tudingan itu dengan menangguhkan semua perdagangan dengan India dan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan India.

Komite Keamanan Nasional Pakistan mengatakan Islamabad akan menganggap setiap upaya India untuk mengalihkan aliran Sungai Indus sebagai tindakan perang.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo