Jakarta, Arina.id — Kebahagiaan sejati memiliki “rute” yang jelas, yakni berawal dari pengetahuan, menuju kebijaksanaan (wisdom), diwujudkan dalam perbuatan baik, hingga mencapai kondisi jiwa yang optimal.
Hal ini disampaikan oleh Fahrudin Faiz saat mengulas pemikiran Socrates tentang hakikat kebahagiaan.
Menurut Faiz, banyak orang keliru menempatkan kesenangan dan kehormatan sebagai sumber kebahagiaan. Padahal, dua hal tersebut tidak menjamin ketenangan batin.
“Banyak orang hidupnya makmur, terpenuhi, tapi tidak bahagia. Gelisah, kesepian. Ada juga yang terhormat, status sosialnya tinggi, tapi hidupnya tidak tenang,” ujarnya dalam tayangan video Mengaji Hening diakses Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam pandangan Socrates, kebahagiaan terjadi ketika jiwa berada dalam kondisi terbaik atau perfection of soul. Untuk mencapai kondisi ini, seseorang harus menempuh proses yang tidak instan.
Faiz merinci, rute kebahagiaan dimulai dari pengetahuan. Pengetahuan yang terus berkembang akan melahirkan kebijaksanaan (wisdom), yang kemudian menjadi dasar dalam menentukan tindakan yang benar dan bermoral.
“Wisdom itu sumbernya pengetahuan. Kalau pengetahuannya kurang, banyak keputusan hidup yang meleset,” jelasnya.
Keputusan yang tepat, lanjut Faiz, akan menghasilkan perbuatan baik. Dari sinilah kondisi jiwa perlahan menjadi optimal dan menghadirkan rasa tenang serta kepuasan batin.
Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan, maka kebijaksanaan sulit terbentuk. Dampaknya, tindakan yang diambil tidak tepat, sehingga kondisi jiwa tidak mencapai keadaan terbaik.
“Kalau keputusannya meleset, perbuatannya juga tidak sesuai. Akhirnya kondisi jiwanya tidak optimal, makanya tidak bahagia,” katanya.
Faiz juga menegaskan bahwa kebahagiaan yang bersumber dari kondisi jiwa ini lebih hakiki dibandingkan kebahagiaan semu seperti kesenangan, kehormatan, atau pengakuan sosial.
Dalam kondisi jiwa yang optimal, seseorang tidak lagi mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain. Kritik maupun komentar negatif tidak lagi menjadi sumber kegelisahan.
“Kalau sudah sampai pada perfection of soul, komentar orang lain tidak terlalu penting. Kita sudah nyaman dan puas dengan diri sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh, Faiz menjelaskan bahwa kegelisahan yang sering dialami banyak orang berakar dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Hal ini mendorong seseorang terus mencari pengakuan dari luar, namun justru berujung pada kecemasan.
Ia menegaskan bahwa berbuat baik bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga merupakan kebutuhan diri sendiri dalam mencapai kebahagiaan.
“Perbuatan baik itu menguntungkan kita sendiri, karena di situlah jiwa kita menjadi optimal dan kita merasakan ketenangan,” ungkapnya.
Editor: Kendi Setiawan


