Dark
Light
Dark
Light

4 Sikap yang Harus Dijaga saat Silaturahim Lebaran

4 Sikap yang Harus Dijaga saat Silaturahim Lebaran

Arina.id – Hari Raya Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk merayakan kemenangan setelah berpuasa selama sebulan lamanya. Selain itu, amalan yang sangat dianjurkan pada momentum lebaran adalah bersilaturahim.untuk mempererat ikatan persaudaraan dan menumbuhkan rasa kasih sayang dengan sesama, terlebih dengan keluarga.

Berkaitan dengan silaturahim saat lebaran, Zainuddin Lubis mengutip keterangan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Jilid II, halaman 516. Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa para sahabat Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan saling berkunjung dan menjalin silaturahim pada hari raya Idul Fitri. Dalam pertemuan itu, mereka saling mendoakan agar amal ibadah yang telah mereka lakukan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT.

“Tradisi ini mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan rasa saling mendoakan di antara sesama Muslim,” jelas Zainuddin dalam artikel 4 Etika Bersilaturahim saat Lebaran Idul Fitri, dikutip Ahad (30/3/2025).

Di sisi lain, dalam silaturahim juga perlu dipahami etikanya agar tercipta suasana yang harmonis dan penuh berkah. Untuk itu, Zainuddin menjelaskan 4 sikap yang harus dijaga saat silaturahim lebaran, yaitu sebagaimana berikut: 

1. Menjaga sopan santun

Zainuddin menjelaskan, sopan santun dan perilaku ramah merupakan landasan utama dalam membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Saat bersilaturahim, baik dalam pertemuan keluarga, reuni, ataupun acara sosial lainnya, menjaga ucapan dan tindakan menjadi hal yang esensial untuk menghindari kesalahpahaman dan menjaga perasaan orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 83:

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا 

Artinya: "Bertutur katalah yang baik kepada manusia."

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Zainuddin mengutip penjelasan Profesor Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah, Volume I, halaman 248 yang mengungkapkan bahwa manusia diperintahkan untuk selalu berkata baik dan benar. Ucapan yang baik dapat membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Al-Qur'an pun menekankan pentingnya berkata benar. Ketika ucapan baik dan benar terpadu, ini menunjukkan ketulusan dan kejujuran.

“Sekalipun ucapan tersebut berisi kebenaran yang pahit, jika disampaikan dengan baik dan bijaksana, maka diharapkan pesan tersebut dapat diterima dengan baik pula oleh lawan bicara dan pendengar,” papar Zain.

2. Menjaga waktu bertamu

Menurut Zainuddin, salah satu etika penting dalam silaturahim Lebaran Idul Fitri adalah menjaga waktu bertamu. Pasalnya, dalam ajaran Islam dianjurkan untuk menghindari bertamu pada waktu yang tidak tepat, seperti saat tuan rumah baru bangun tidur, waktu makan, atau waktu istirahat. Hal ini penting untuk menghormati privasi dan kenyamanan tuan rumah.

Waktu terbaik untuk bertamu adalah saat tuan rumah sudah siap menerima tamu, seperti setelah shalat Idul Fitri, setelah sarapan pagi, atau setelah waktu makan siang. Sebaiknya hindari bertamu terlalu pagi atau terlalu malam, karena dapat mengganggu waktu istirahat tuan rumah. 

“Jika memungkinkan, hubungi tuan rumah terlebih dahulu untuk menanyakan waktu yang tepat untuk berkunjung. Hal ini menunjukkan rasa hormat dan sopan santun kepada tuan rumah,” tambah Zainuddin.

Untuk menguatkan keterangannya, Zainuddin mengutip hadits Nabi yang memberikan pedoman tentang etika waktu bertamu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, sebagiamana berikut:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ قَالَ أَبُو دَاوُد قُرِئَ عَلَى الْحَارِثِ بْنِ مِسْكِينٍ وَأَنَا شَاهِدٌ أَخْبَرَكُمْ أَشْهَبُ قَالَ وَسُئِلَ مَالِكٌ عَنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ قَالَ يُكْرِمُهُ وَيُتْحِفُهُ وَيَحْفَظُهُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ضِيَافَةً

Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Hadiahnya (pahala) adalah satu hari dan satu malam. Keramahan terhadap tamu selama tiga hari, dan setelah itu, itu adalah sedekah. Dan tidak halal baginya untuk tinggal di sisinya (tuan rumah) sampai dia mengeluarkannya.

Abu Daud berkata, "Telah dibaca di hadapan Harits bin Miskin dan aku menyaksikannya." Asyhab memberitahukan kepada kami. Dan Malik ditanya tentang perkataan Nabi saw, "Hadiahnya adalah satu hari dan satu malam." Dia berkata, "Dia memuliakannya, memberinya hadiah, dan menjaganya selama satu hari dan satu malam, dan tiga hari sebagai keramahan."

3. Tidak saling mengejek

Silaturahim merupakan momen penting untuk mempererat hubungan antar keluarga dan kerabat. Saat berkumpul, ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama, seperti bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan menikmati hidangan lezat. Namun, ada satu hal yang perlu dihindari saat silaturahim, yaitu saling mengejek.

“Mengejek orang lain dapat menimbulkan rasa sakit hati dan merusak suasana silaturahim saat lebaran,” jelas Zainuddin.

Hal ini, sambung Zainuddin, dapat membuat orang yang diejek merasa tidak dihargai dan dihina, sehingga mereka menjadi enggan untuk berinteraksi di masa depan. Selain itu, saling mengejek juga dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman dan tegang, sehingga silaturahim menjadi tidak menyenangkan.

Zainuddin kemudian mengutip penjelasan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Mirqat Su’udit Tashdiq Syarh Sullamit Taufiq yang menegaskan bahwa berkata-kata yang menyakiti sesama Muslim, seperti mengolok-olok dan menghina, adalah perbuatan terlarang. 

“Hal ini dikarenakan ucapan tersebut dapat melukai hati, menimbulkan rasa malu, dan merendahkan harga diri orang yang dituju,” tambahnya.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib berhati-hati dalam bertutur kata dan berperilaku agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kita harus selalu ingat bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan harga diri yang perlu dihormati dan dijunjung tinggi.

4. Saling memaafkan

Kesalahan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam hubungan antar manusia. Oleh karena itu, ungkap Zainuddin, momen Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan atas kesalahan yang telah diperbuat. 

“Mintalah maaf dengan tulus dan ikhlas kepada orang-orang yang telah kita sakiti, baik secara langsung maupun tidak langsung,” jelas Zainuddin.

Memberikan maaf kepada orang lain dengan lapang dada, jelas Zainuddin, merupakan hal yang penting. Dengan saling memaafkan, hati menjadi lebih tenang dan hubungan pun menjadi lebih harmonis. Momen Lebaran ini menjadi kesempatan untuk memulai lembaran baru dengan penuh kasih dan persaudaraan.

Untuk memperkuat keterangannya, Zainuddin mengutip firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 134, sebagaimana berikut:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Dijelaskan Zainuddin, dengan menjaga adab dan etika di atas, momen silaturahim di Hari Raya Idul Fitri akan menjadi lebih bermakna dan bisa membawa keberkahan sebagaimana yang diharapkan.

“Silaturahim yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang akan mempererat tali persaudaraan dalam kemanusiaan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah,” pungkas Zainuddin dalam artikelnya.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo