Dark
Light
Dark
Light

Berumur Pendek, Bagaimana Umat Nabi Muhammad Bisa Raih Banyak Pahala?

Berumur Pendek, Bagaimana Umat Nabi Muhammad Bisa Raih Banyak Pahala?

Arina.id ~ Umur umat Nabi Muhammad Saw jauh lebih pendek dari umur umat para Nabi terdahulu. Umur umat terdahulu bisa mencapai ratusan tahun sedangkan umur umat Nabi Muhammad Saw hanya antara 60 sampai tujuh puluh tahun. 

Rasulullah bersabda yang artinya: “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.” Bahkan ajal kerap menjemput kita dalam umur yang lebih muda dari  itu. 

Dalam Buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengungkapkan data bahwa lembaga kesehatan dunia (WHO) menyebutkan angka harapan hidup penduduk Indonesia tahun 2010 pada usia di atas 60 tahun mencapai 20,7 juta orang.

“Menurut hadits dan data tersebut, maka amal ibadah dan kebaikan umat Muslim tidak cukup untuk membebaskan dari api neraka menuju surga. Jika menggunakan hitungan deret ukur, tidak mungkin umat Nabi Muhammad Saw lebih baik dari umat para nabi terdahulu, karena umurnya yang jauh lebih pendek,” ungkapnya dikutip Arina.id pada Selasa (19/3/2024).

Namun konsep barakah lah yang menurutnya menggandakan kebaikan berlipat-lipat sehingga umat Nabi Muhammad Saw bisa terbebas dari api neraka. Allah Swt telah membuat konsep tentang melipatgandakan kebaikan bagi umat Nabi Muhammad Saw.

“Contoh, pahala satu shalat di Masjidil Haram dilipatgandakan 100 ribu kali lipat daripada sholat di tempat lainnya. Pahala sholat berjamaah keutamaannya 27 kali lipat dibanding sholat sendiri. Berarti shalat maktubah sekali sama dengan shalat lima hari sendirian,” jelasnya.

Ibadah yang diterima pada malam Lailatul Qadar juga lebih baik dari pada seribu bulan. Artinya, ibadah pada malam Lailatul Qadar yang diterima lebih baik dari pada 83 tahun, bahkan mungkin lebih baik dari seratus juta tahun. 

Selain pahala yang berlipat, pada bulan Ramadhan dosa-dosa diampuni bagi orang yang menjalankan puasa dengan baik. Rasulullah Saw menjelaskan: “Barangsiapa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lewat.”

“Ampunan dalam filosofi Islam bermakna penghapusan dosa dan siksa dari Allah Swt. Sedangkan minta ampun (istighfar) adalah permohonan ampunan atas kesalahan dan terus berusaha untuk menaati perintah Tuhan dan tidak melanggarnya. 

Dalam Islam jelasnya, makna istighfar tidak terletak pada pengucapannya, namun pada seberapa dalam seseorang yang beristighfar memaknai dan menghayati apa yang ia ucapkan, dalam konteks yang lebih jauh lagi, agar ia terus mengingat Tuhan di saat ia tergoda untuk melakukan perbuatan dosa. Apabila telah melakukan dosa, maka istighfar adalah titik baginya untuk bertekad tidak mengulangi perbuatannya. 

“Saat seseorang melakukan ibadah puasa dengan ilmu dan seksama, pada hakikatnya ia telah menunjukkan ketundukan dan patuh kepada Allah Swt, sehingga rela meninggalkan yang halal demi meraih ridha Allah Swt,” jelasnya.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan bumi ini, seandainya Allah Swt membalas setiap dosa yang diperbuat oleh manusia saat ini dengan hukuman secara langsung dari-Nya. Sebagaimana Allah telah menenggelamkan kaum Nabi Nuh as, mengirimkan angin kepada kaum ‘Ad, dan mengirimkan bebatuan kepada kaum Nabi Luth as. 

“Sungguh, betapa besar kasih sayang Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw. Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan telah mengantarkan umat Muslim menjadi hamba Allah yang terbaik dan terbebas dari api neraka,” pungkasnya.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo