Arina.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa ia akan memberikan persetujuan akhir untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Kota Gaza, sekaligus memulai kembali negosiasi dengan Hamas untuk membebaskan para sandera dan mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Namun, Netanyahu menegaskan bahwa proses ini hanya akan berlangsung dengan “syarat-syarat yang dapat diterima oleh Israel.”
Dalam pidatonya kepada tentara di dekat perbatasan Gaza pada Kamis (21/8/2025), Netanyahu menegaskan rencananya untuk merebut Kota Gaza — kawasan paling padat di Jalur Gaza — yang mencakup pemindahan paksa hampir satu juta warga Palestina dan penghancuran sistematis rumah-rumah mereka.
“Pada saat yang sama, saya telah mengeluarkan instruksi untuk segera memulai negosiasi demi pembebasan semua sandera kita dan mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang dapat diterima oleh Israel. Kita berada dalam tahap pengambilan keputusan,” ujar Netanyahu.
Operasi Militer Siap Dimulai, Ribuan Warga Mengungsi
Serangan ke Kota Gaza diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari setelah Netanyahu mengadakan pertemuan dengan pejabat tinggi keamanan Israel pada Kamis malam.
Dalam 10 hari terakhir, pasukan Israel telah meningkatkan serangan di wilayah tersebut. Tank-tank Israel mendekati pusat kota, menyebabkan ribuan warga Palestina mengungsi dari rumah mereka.
Di sisi lain, Hamas menyatakan awal pekan ini bahwa mereka telah menerima proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir. Jika disetujui oleh Israel, kesepakatan ini berpotensi menghentikan serangan ke Kota Gaza.
Proposal tersebut mencakup gencatan senjata selama 60 hari dan pertukaran tahanan: Hamas akan membebaskan 10 sandera yang masih hidup serta 18 jenazah, sementara Israel akan membebaskan sekitar 200 tahanan Palestina.
Sementara itu, militer Israel dikabarkan akan memanggil 60.000 tentara cadangan dan memperpanjang masa dinas 20.000 personel untuk menghadapi eskalasi konflik.
Analis politik senior media Al Jazeera, Marwan Bishara, mengkritik pendekatan Israel yang tetap melanjutkan serangan bersamaan dengan inisiatif negosiasi. Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk “negosiasi di bawah tembakan.”
“Tidak akan ada penghentian pertempuran. Tidak akan ada jeda dalam genosida ini. Hamas harus segera mengambil keputusan, sementara Israel terus membunuh puluhan, bahkan mungkin ratusan warga Palestina, dan memindahkan satu juta warga ke selatan Gaza,” ujar Bishara.
Ia juga menyebut bahwa Israel saat ini mendikte semua syarat, tanpa memperhatikan tekanan internasional, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Korban Terus Bertambah
Sejak Kamis dini hari, setidaknya 48 warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Gaza, termasuk 16 orang pencari bantuan yang ditembak saat berada di titik distribusi bantuan GHF.
Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, dua orang lagi meninggal karena kelaparan. Jumlah korban jiwa akibat kelaparan yang dipicu oleh blokade dan serangan Israel kini mencapai 271 orang, termasuk 112 anak-anak, sejak perang dimulai.
Editor: Muhammad Zunus


