Dark
Light
Dark
Light

Perang Iran-Israel Berpotensi Mengguncang Stabilitas Ekonomi Dunia

Perang Iran-Israel Berpotensi Mengguncang Stabilitas Ekonomi Dunia

Jakarta, Arina.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran pada Jumat dini hari, 13 Juni 2025. Tak berselang lama Iran membalas meluncurkan rudal yang menyasar dua kota besar di Israel: Yerusalem dan Tel Aviv, pada malam harinya.

Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi, menilai bahwa perang terbuka antara Israel dan Iran berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi terutama  gangguan terhadap pasokan minyak dunia.

"Iran adalah salah satu negara kaya minyak, dan ekspor minyaknya menyuplai banyak negara. Kalau Iran terlibat perang lebih dalam maka dikhawatirkan akan punya dampak terhadap harga minyak," ujar Hasibullah kepada Arina.id, Sabtu (14/6/2025).

Ia mencatat bahwa saat ini harga minyak dunia mengalami kenaikan kisaran USD 72-73 per barel, lebih tinggi dibanding harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang berada pada level USD 65,29 per barel. Kenaikan ini, menurutnya, bisa berimbas pada ekonomi global.

"Menurut saya, Indonesia potensi dampaknya tidak terlalu besar kecuali melalui jalur ekonomi dan minyak," ujarnya.

Hal ini juga akan memengaruhi asumsi dasar dalam penyusunan Anggaran Pendapat dan Belanjaan Negara (APBN). APBN bisa terganggu dan mengalami tekanan.

Namun yang lebih mengerikan adalah tindakan militer Israel yang dinilainya sebagai bentuk pengabaian terhadap hukum internasional. Ia menyoroti penggunaan kekuatan secara sepihak yang dinilai tidak memiliki legitimasi di mata dunia.

"Israel menyerang Iran dengan dalih mencegah serangan nuklir, padahal yang sudah memiliki senjata nuklir adalah Israel sendiri. Justru Israel yang terbukti menggunakan senjata berat untuk membantai warga sipil di Gaza. Ini mencerminkan bahwa Israel telah menginjak-injak martabat hukum internasional," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan tanpa menghormati keputusan lembaga-lembaga internasional seperti PBB maupun Mahkamah Pidana Internasional. "Alih-alih menjadi penegak hukum dunia, Israel justru menunjukkan sikap sewenang-wenang terhadap aktivis dan masyarakat sipil," lanjutnya.

Pemerintah Pantau Harga Minyak

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa konflik antara Iran dan Israel sejauh ini memberikan dampak yang minim terhadap ekonomi Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi, khususnya terkait lonjakan harga minyak global.

"Kalau kita lihat di Timur Tengah, transmisi dampaknya ke Indonesia relatif lambat. Tapi tentu saja harga minyak menjadi variabel penting yang harus terus diperhatikan," kata Airlangga Jakarta, Jumat (13/6/2025).

Ia menambahkan bahwa negara-negara besar yang memiliki kepentingan dalam stabilitas energi global kemungkinan akan mengambil langkah untuk menahan lonjakan harga minyak. "Jadi, kita tunggu saja dinamika globalnya seperti apa," ucapnya.

Hasibullah menekankan pentingnya pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi krisis global, tidak hanya dari konflik Israel-Iran, tetapi juga dari perang Rusia-Ukraina yang memengaruhi rantai pasok pangan dan energi dunia.

"Bukan hanya Indonesia, negara-negara lain pun akan terdampak jika konflik ini berlangsung lama, apalagi jika menyentuh jalur-jalur vital seperti Selat Hormuz. Pemerintah harus siap menghadapi kemungkinan terburuk," katanya memungkasi. 

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menambahkan  pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah saat ini juga dipengaruhi serangan rezim Israel terhadap Iran.

"Kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah secara tiba-tiba menyusul serangan Israel terhadap Iran memicu sentimen risk-off yang meluas,” ujarnya dalam keterangan tertulis diterima Arina.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo