Arina.id - Pasukan Amerika Serikat (AS) saat ini sudah tiba di Israel dalam misi memantau kesepakatan antara negara itu dan gerakan Hamas. Sebanyak 200 tantara yang beroperasi di Timur Tengah dikerahkan ke sana, sementara lainnya akan didatangkan dari Amerika langsung.
Seperti dikutip dari Sputnik, tugas para serdadu Amerika itu akan memantau jalannya proses negosiasi antara Hamas dan Israel yang sudah dijadwalkan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Pergerakan pasukan AS ini sudah dilakukan sejak Jumat kemarin, 10 Oktober 2025.
Meskipun begitu, sumber dari pejabat Amerika yang mengungkap pergerakan pasukan AS tersebut belum mau merinci di mana pusat koordinasi dan titik sebaran pasukan AS yang akan berjaga di sana.
Akan tetapi menurut Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper, mengonfimasi pergerakan pasukannya tersebut, sambil menegaskan pasukan AS tidak bermaksud masuk ke Jalur Gaza sebagai bagian dari stabilisasi pasca-konflik, Sabtu 11 Oktober 2025.
"Putra-putri Amerika yang berseragam menjawab panggilan untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, mendukung arahan Panglima Tertinggi di momen bersejarah ini. Upaya besar ini akan tercapai tanpa kehadiran pasukan AS di Gaza," ujar Cooper dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan oleh CENTCOM di Platform X.
Cooper juga mengatakan dia baru saja kembali dari Gaza untuk melaporkan kemajuan pembentukan Pusat Koordinasi Sipil-Militer yang akan mengoordinasikan upaya untuk menstabilkan situasi di wilayah tersebut setelah gencatan senjata.
Pada Kamis, 09 Oktober 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan gerakan Palestina Hamas telah mencapai kesepakatan untuk melaksanakan tahap pertama rencana perdamaian Jalur Gaza.
Selama tahap pertama, Hamas akan membebaskan sandera Israel, dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang disepakati serta membebaskan ratusan warga Palestina dari penjara-penjara Israel, termasuk banyak yang dijatuhi hukuman seumur hidup karena terorisme.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintah Israel telah menyetujui kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan sandera dari Gaza.
Pada 29 September, Trump meluncurkan rencana 20 poin untuk menyelesaikan konflik Gaza . Proposal tersebut antara lain menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.
Rencana tersebut juga menetapkan bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya harus meninggalkan keterlibatan mereka dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Daerah kantong tersebut akan diperintah oleh "komite Palestina yang teknokratis dan apolitis" yang diawasi oleh dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.
Editor: Muhammad Taufiq


