Dark
Light
Dark
Light

Google Discover Hadirkan Artikel Ringkasan AI, Ancam Lalu Lintas Media Online

Google Discover Hadirkan Artikel Ringkasan AI, Ancam Lalu Lintas Media Online

Jakarta, Arina.id—Di tengah kekhawatiran para penerbit berita tentang penurunan trafik, Google memperkenalkan fitur AI Summaries di Discover—umpan berita utama dalam aplikasi Google di iOS dan Android. Alih-alih menampilkan judul dan tautan seperti biasa, kini pengguna disajikan ringkasan otomatis hasil olahan kecerdasan buatan (AI), lengkap dengan logo penerbit sebagai referensi sumber.

Fitur ini telah resmi diluncurkan di Amerika Serikat, menurut laporan TechCrunch, dan tidak lagi dalam tahap uji coba. Untuk tahap awal, topik yang disasar terbatas pada olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Namun Google menyatakan, tidak menutup kemungkinan fitur ini diperluas ke topik-topik lain di masa mendatang.

Google menyebut fitur AI ringkasan ini mempermudah pengguna dalam memutuskan konten mana yang ingin dibuka. Tapi bagi para penerbit, kehadiran fitur ini justru menimbulkan kekhawatiran besar—berita mereka bisa terbaca tanpa perlu diklik, yang berarti hilangnya trafik langsung ke situs mereka.

Dalam tampilan baru Discover Feed, ringkasan AI akan muncul langsung di bawah artikel. Selain itu, Google juga tengah menguji fitur Bullet Points—poin-poin penting yang ditampilkan tepat di bawah judul artikel, serta Kartu Multi-artikel yang mengelompokkan sejumlah berita serupa tanpa label AI.

Fitur-fitur ini memang membuat tampilan lebih ringkas dan informatif namun pada saat yang sama mendorong pengguna untuk tetap berada di dalam ekosistem Google tanpa perlu mengunjungi situs berita sumber. Ini menjadi pukulan telak bagi industri media yang selama ini mengandalkan trafik organik sebagai sumber utama pendapatan, terutama dari iklan.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan dampak dari AI Overviews—fitur AI serupa yang memungkinkan pengguna bertanya langsung pada chatbot Google dan memperoleh jawaban instan yang sering kali disusun dari konten berita, tanpa sepengetahuan penerbit. Hal ini meminimalkan kebutuhan untuk mengklik tautan hasil pencarian.

Tren serupa juga terlihat pada platform AI lain seperti ChatGPT dan Perplexity, yang memungkinkan pengguna mendapat informasi tanpa mengakses sumber aslinya.

Hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam jumlah kunjungan ke situs berita, yang selama ini menjadi tulang punggung bagi kelangsungan jurnalisme berkualitas, sebagaimana dilansir dari Tech Crunch.

Perusahaan intelijen pasar Similarweb mencatat bahwa lalu lintas pencarian di seluruh dunia turun sebesar 15% tahun-ke-tahun pada bulan Juni. Data sebelumnya dari perusahaan tersebut juga menemukan bahwa jumlah pencarian berita di web yang tidak menghasilkan klik ke situs web berita telah meningkat dari 56% pada Mei 2024, ketika AI Overviews diluncurkan, menjadi hampir 69% pada Mei 2025. Lalu lintas organik juga menurun, dari lebih dari 2,3 miliar kunjungan pada puncaknya di pertengahan 2024 menjadi kurang dari 1,7 miliar.

Salah satu yang terdampak adalah The New York Times, yang menurut data dari Similarweb, mengalami penurunan proporsi arus kunjungan dari pencarian organik ke situs desktop dan mobile mereka dari 44 persen pada tiga tahun lalu menjadi hanya 36,5 persen pada April 2025.

Offerwall Tak Bantu

Sebagai respons, Google meluncurkan fitur Offerwall sebuah alternatif monetisasi yang memungkinkan penerbit memperoleh penghasilan tanpa tergantung semata pada iklan dan klik. Melalui Offerwall, penerbit yang memakai Google Ad Manager bisa memberikan akses ke konten dengan syarat pengguna menyelesaikan survei, menonton iklan, mendaftar buletin, atau melakukan pembayaran mikro. Namun bagi banyak penerbit, alat ini hadir terlambat, karena lalu lintas sudah menurun tajam.
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo