Jakarta, Arina.id –Keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree menjadi topik pembicaraan dalam acara bincang santai yang digelar pada Kongres Keluarga Maslahat NU di Mal Kota Kasablanka pada Sabtu (1/2/2025).
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menjelaskan bahwa banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih untuk childfree. Seperti trauma masa lalu, keluarga yang broken home, atau melihat banyaknya anak dalam keluarga dan tidak ingin repot. Beberapa orang yang belum menikah bahkan sudah merencanakan untuk tidak memiliki anak saat menikah.
"Ini hanya persoalan bagaimana mempersiapkan diri ketika akan melakukan pernikahan," ujar Arifah dalam bincang santai bertajuk Parenting ala Gus Dur dan Nyai Sinta Nuriyah Wahid.
Kemenag punya gerakan program bimbingan pranikah. Para calon pengantin dilatih pentingnya kesalingan, mengatur ekonomi, target lima tahun ke depan setelah pernikahan.
"Jadi ini sudah ditetapkan Kementerian Agama jika tidak mengikuti bimbingan maka tidak mendapat kartu nikah," ujarnya.
Arifah mengakui generasi sekarang tidak ingin repot dan lebih memilih hal-hal yang praktis, tanpa memikirkan dampak jangka panjang, seperti pentingnya anak sebagai penerus generasi ketika mereka sudah lanjut usia.
"Jadi menurut saya harus ada penyadaran kepada generasi sekarang bahwa anak tetap penting sebagai penerus generasi yang akan datang. Anak yang gak mau repot harus diberikan penyadaran masa depan kita," jelasnya.
Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid mengatakan bahwa sebenarnya ada perbedaan antara zaman dulu dan sekarang. Sekarang, ada pembatasan anak karena ledakan jumlah penduduk yang meresahkan.
Nyai Sinta bercerita tentang seorang temannya di pesantren. Temannya itu adalah anak seorang kiai, dan orangtuanya berharap agar pesantren yang dikelola nanti hanya akan diteruskan oleh keturunannya sendiri.
Oleh karena itu, mereka berencana memiliki 25 anak. Mereka berpikir kesehatan mudah ditangani oleh dokter, pendidikan sudah ada melalui yayasan pesantren. Namun, masalah yang timbul adalah bagaimana cara membagi kasih sayang kepada semua anak.
Ia pun menjawab, "Jika satu anak diberikan senyuman, maka semua anak pun harus merasakannya."
Nyai Sinta mengungkapkan di Jakarta sekarang, banyak tanah yang semakin sempit, dan hanya beberapa daerah yang masih memiliki luas tanah yang cukup.
Nyai Sinta kemudian bertanya kepada temannya, apakah anak-anakny berkenan dibawa ke Papua. Temannya menjawab bahwa di Papua sedang terjadi banyak konflik.
Alissa Wahid menambahkan bahwa Kemenag sudah memiliki program bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. Program ini akan diwajibkan bagi semua calon pengantin.
"Mendaftar bisa, menikah bisa, tetapi kartu pernikahannya akan dikeluarkan hanya setelah ada keterangan bahwa calon pengantin telah mengikuti bimbingan perkawinan, baik secara online maupun offline," jelasnya.
Program lain yang sedang berjalan adalah bimbingan untuk remaja usia menikah, yang bertujuan membantu mereka mempersiapkan diri agar menjadi pribadi yang matang dan mampu membangun hubungan yang sehat. Program ini bekerja sama dengan Kemenag, BKKBN, Kemenkes, dan KemenPPPA.
Sebanyak 8,2 persen perempuan usia subur di Indonesia atau sekitar 71.000 orang memilih secara sadar untuk tidak memiliki anak pada 2022. Banyak alasan yang mendasari putusan tersebut dan harus dihargai. Namun, jika tidak dikelola dengan baik dan menjadi tren, putusan ini bisa membahayakan struktur penduduk dan ketahanan bangsa di masa depan.
prevalensi perempuan usia subur berumur 15-49 tahun yang memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree terus meningkat selama empat tahun terakhir. Sebanyak 7,0 persen perempuan memilih childfree pada 2019 dan meningkat menjadi 8,2 persen pada 2022.
Editor: Kendi Setiawan


