Dark
Light
Dark
Light

Marak Kekerasan Seksual di Pesantren, Alissa Wahid: Ketiadaan Safeguarding dan Kuatnya Patron-Klien

Marak Kekerasan Seksual di Pesantren, Alissa Wahid: Ketiadaan Safeguarding dan Kuatnya Patron-Klien

Jakarta, Arina.id — Kasus pelecehan seksual terus bermunculan. Setelah sebelumnya terjadi di Banjar, Kalimantan Selatan, kasus serupa juga terjadi di Pondok Pesantren Ad-Diniyah di Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Pelaku berinisial H (47), yang merupakan pengasuh, diduga melakukan tindakan asusila terhadap tujuh orang santrinya. 

Mengapa kasus pelecehan seksual terus terulang di pesantren? Ketua PBNU bidang Kesra, Alissa Wahid mengatakan hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor mulai dari kebijakan yang masih minim, hubungan patron-klien, termasuk adanya keterpengaruhan dari konten-konten yang tersebar di media sosial.

Alissa menjelaskan bahwa salah satu faktor utama adalah tidak adanya kebijakan safeguarding yang jelas di pesantren untuk melindungi santri dari kekerasan seksual. 

"Kita tidak punya safegarding kebijakan, atau perangkat untuk meminimalisir adanya kekerasan di lingkup pendidikan khususya pesantren," kata Alissa Wahid ditemui di ruang Pojok Gus Dur, Gedung PBNU, Jakarta, Senin (20/1/2025).

Selain itu, Alissa juga menyoroti adanya relasi patron-klien yang terjadi antara pengasuh pesantren dengan santri, guru dengan murid, dan orang tua dengan anak.  

Menurutnya, hubungan tersebut sangat rawan menjadi tempat terjadinya kekerasan jika tidak diimbangi dengan kematangan pribadi dari pihak yang lebih dewasa. 

"Jika orang dewasanya tidak punya kematangan pribadi akan mudah sekali melakukan kekerasan. Ada faktor itu dan sekali lagi itu terjadi di mana-mana. Jadi kematangan pribadi sangat menentukan," ungkap Alissa.

Alissa menyoroti perkembangan zaman ketika banyak orang bertindak dengan hawa nafsunya tidak dengan kearifan, kekuatan pikiran, nilai-nilai. Misalnya kasus di Sidoarjo, ketika santri tidak mau memberikan rokok kepada seniornya lalu dipukuli.

"Sayangnya dunia kita sekarang dunia sumbu pendek, artinya banyak orang bertindak tidak dengan kearifan, kekuatan pikiran, kekuatan nilai-nilai tetapi kekuatan insting atau hawa nafsu. Hawa nafsunya harus," jelasnya.

Contoh lain, seorang santri pondok pesantren di Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Kz (14), tewas saat dicarikan pertolongan ke rumah sakit usai terkena lemparan papan kayu berpaku. Ironisnya, terduga pelaku pelemparan adalah salah satu ustadnya sendiri.

"Itu kan reaktif sekali, kalau orang bijak pasti dia tidak akan melakukan itu. Ini kan orang dewasa, santri senior, guru, yang harusnya bijak justru tidak, malah dia seperti yang lebih berkuasa," kata Alissa.

"Jadi ada pematangan pribadi, dan relasi yang patron klien itu yang membawa dampak relasi kuasa dan itu membuat kejadian seperti ini," imbuhnya.

Alissa menambahkan kekerasan bisa terjadi di lingkungan pesantren sebetulnya bukan karena pesantrennya tetapi asrama.

Hidup berasrama ini yang sering kali meningkatkan potensi konflik antarsantri dan menciptakan relasi yang lebih intens sementara mereka jauh dari orang tua.

"Hidup berasrama itu yang membuat ada peluang lebih besar karena santri ada di lingkungan yang hidup 24 jam," jelasnya.

Alissa menuturkan faktor media sosial juga cukup besar mengubah perilaku manusia baik yang dewasa maupun yang muda.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo