Dark
Light
Dark
Light

Pejabat di Sekitar Trump Sesali Keputusan Menyerang Iran, Target Israel Tak Sesuai Harapan

Pejabat di Sekitar Trump Sesali Keputusan Menyerang Iran, Target Israel Tak Sesuai Harapan

Arina.id - Pejabat di lingkaran dalam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mulai menyesali keputusannya untuk melawan Iran. Mereka mengaku telah meremehkan ketahanan rezim tersebut. Demikian seperti dilaporkan Axios yang diterbitkan pada hari Senin, 16 Maret 2026.

Menurut laporan itu, dikutip dari Anadolu, sebenarnya beberapa pejabat penting AS awalnya enggan atau menginginkan lebih banyak waktu berpikir sebelum menyerang. Namun, kata sumber anonim, Trump akhirnya menjawab keraguan tersebut, dengan mengatakan, "Saya hanya ingin melakukannya (menyerang Iran)."

Sumber tersebut menambahkan, Trump merasa optimis dengan keberhasilan militer baru ini, termasuk serangan musim panas lalu (perang 12 hari) terhadap Iran dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari 2026. Trump juga telah melebih-lebihkan kemampuannya bisa mengalahkan rezim Iran tanpa pasukan darat.

“Dia (Trump) sedang mabuk karena klaim keberhasilan dirinya sendiri,” kata sumber itu kepada Axios. Laporan tersebut juga mencatat bahwa Trump saat ini dinilai telah terjebak dalam "perangkap eskalasi" perang di Selat Hormuz.

Trump--yang merasa dirinya lebih kuat--pada akhirnya terpaksa terus menyerang Iran guna menunjukkan superioritasnya, meskipun keuntungan yang diperoleh Amerika dalam perang tersebut semakin berkurang.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan kepada Axios bahwa campur tangan Iran di selat tersebut membuat Trump "semakin teguh pada pendiriannya" daripada mendorong penilaian ulang.

Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, pihak administrasi awalnya mengira operasi tersebut akan berlangsung selama empat hingga enam minggu. Namun, para pejabat di Washington dan ibu kota negara-negara sekutu kini bersiap menghadapi krisis yang lebih panjang.

Tiga narasumber mengatakan hal serupa kepada media tersebut bahwa keterlibatan AS dapat berlanjut hingga September 2026, bahkan jika konflik bergeser ke fase intensitas yang lebih rendah.

Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Empat belas anggota militer AS telah terbunuh sejak awal kampanye tersebut.

Hasil perang tidak sesuai harapan

Bagaimana dengan Israel? Sumber-sumber keamanan Israel juga mengatakan perang melawan Iran ternyata tidak berjalan sesuai dengan kecepatan yang ditetapkan oleh para pemimpin negeri Zionis itu pada awal operasi militer akhir Februari lalu.

Menurut lembaga penyiaran publik Israel, KAN, para pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa serangan pembuka kampanye militer tersebut "lebih baik dari yang diharapkan," tetapi perang tersebut belum berkembang sesuai dengan kecepatan yang dibayangkan sejak awal.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa peninjauan kembali tujuan perang mungkin diperlukan. Mereka juga mengindikasikan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Israel adalah kesulitan yang mendorong sejumlah besar warga Iran turun ke jalan memprotes pemerintah, sesuatu yang menurut beberapa penilaian Israel dapat terjadi selama perang.

Mereka mengklaim bahwa AS dan Israel sedang merencanakan langkah-langkah tambahan di Iran yang dapat mempengaruhi arah perang di masa mendatang.

Dalam pernyataan sebelumnya, militer Israel mengatakan salah satu tujuan utama angkatan udara pada awal perang adalah untuk mencapai "keunggulan udara" di atas wilayah udara Iran.

Militer Israel juga mengklaim bahwa sekitar 100 sistem perlindungan udara dan 120 sistem deteksi radar di dalam Iran telah dihancurkan, sementara Iran meluncurkan sekitar 360 rudal ke arah Israel selama dua minggu pertama perang.

Laporan itu juga mengklaim bahwa sekitar 70% dari platform peluncur rudal Iran telah dinonaktifkan sebagai akibat dari serangan udara. Menurut militer, operasi tersebut menargetkan sekitar 2.200 lokasi yang terkait dengan lembaga keamanan dan militer Iran, termasuk fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam serta lembaga pemerintah dan keamanan.

Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk, yang menurut Iran menargetkan aset militer AS, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan pada beberapa infrastruktur sipil serta mempengaruhi pasar global dan penerbangan.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo