Dark
Light
Dark
Light

Prepegan di Masa Ekonomi Sulit, Orang-Orang Pasar Berbagi Cerita

Prepegan di Masa Ekonomi Sulit, Orang-Orang Pasar Berbagi Cerita

Banyumas, Arina.id — Menjelang Lebaran, denyut kehidupan di pasar-pasar tradisional meningkat tajam. Orang-orang datang berbondong-bondong dengan daftar belanja panjang demi menyambut Idul Fitri.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Prepegan yang telah berkembang lama dalam masyarakat Jawa, termasuk di wilayah Banyumas raya.

Prepegan cilik dan prepegan gedhe
Prepegan pada dasarnya adalah ritual warga untuk dateng berbondong-bondong menuju pasar guna memenuhi berbagai kebutuhan menjelang lebaran. Dalam praktiknya, tradisi prepegan terbagi menjadi dua yakni prepegan cilik dan prepegan gedhe.

Prepegan cilik’ biasanya berlangsung dua hari sebelum Idul Fitri, saat masyarakat membeli kebutuhan pangan seperti beras, minyak, gula, bumbu dapur, hingga kue-kue dan minuman. Sementara prepegan gedhe terjadi sehari sebelum lebaran, ketika orang berburu baju baru, sepatu, hingga perlengkapan ibadah.

Dulu, kedua momentum ini menjadi puncak keramaian pasar. Jalanan macet, parkiran penuh, dan transaksi berlangsung nyaris tanpa jeda. Kini, meski tetap ramai, intensitasnya tak lagi setinggi dulu. Banyak warga yang memilih berbelanja secukupnya, bahkan menunda pembelian yang dianggap tidak mendesak. Apalagi bagi kaum muda, belanja online tentu lebih diminati, terutama untuk baju, sepatu, tas dan pernak-perniknya.

Pasar, simpul ekonomi rakyat
Sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di wilayah barat Banyumas, Pasar Ajibarang memiliki peran vital dalam menggerakkan ekonomi lokal. Sempat dipindah dari lokasi lama dan dibangun megah pada 1995, pasar Ajibarang menjadi pusat distribusi berbagai komoditas, dari hasil bumi hingga kebutuhan rumah tangga. 

Letaknya yang strategis menjadikannya simpul penting dalam jalur perdagangan. Banyak juragan dari Pantura, Banjarpatroman, Tasikmalaya dan kota-kota terdekat yang berbisnis di sini.

Meski hanya berstatus kota kecamatan, Ajibarang berada di jalur nasional menuju Jakarta, Cirebon, Bandung serta Purwokerto. Arus barang dan manusia yang melintas membuat kota kecil Ajibarang dengan pasarnya yang ikonik itu selalu hidup.

Pada hari-hari biasa, Pasar Ajibarang sudah ramai pengunjung. Menjelang lebaran saat ini, jumlah pengunjung meningkat drastis. Tahun ini, peningkatan tetap ada, meski tak setajam tahun-tahun lalu.

Dari kacamata para pedagang, suasana prepegan kali ini terasa berbeda. Geliat itu masih hangat, namun tak seheboh tujuh atau delapan tahun silam. Saat itu ekonomi masyarakat relatif baik, belum ada wabah corona, serta iklim usaha yang masih kondusif.

Orang-orang pasar berbagi cerita
Dalam pandangan pedagang, situasi prepegan sekarang cenderung landai. Meksi ada keriuhan pengunjung, itu tak mencerminkan transaksi (membeli). Pedagang maklum, daya beli masyarakat sedang menurun, sementara kebutuhan pokok justru terus merangkak naik.

“Kami pedagang tidak memandang pengunjung yang membludak, tapi mereka yang membeli. Itu jauh lebih sedikit, mungkin sebagian hanya jalan-jalan,” ujar Rohman, pemilik kios buah dan toko kelontong kepada Arina.id, Kamis (20/3/2026) pagi.

“Yang beli tetap ada, tapi tidak sebanyak dulu. Sekarang orang belinya sedikit-sedikit,” imbuh Sutar, seorang pedagang sembako.

Pantauan di lapak sembako, memang tercatat kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Beras medium dijual di kisaran Rp14.000–Rp.15.000 per kilogram, minyak goreng Rp16.000–Rp18.000 per liter, gula pasir Rp17.000 per kilogram, telur ayam tembus Rp28.000–Rp30.000, dan daging ayam Rp38.000–Rp42.000 per kilogram.

Keluhan serupa datang dari pedagang pakaian. Biasanya, menjelang prepegan gedhe, lapak mereka diserbu pembeli. Kini, banyak yang hanya melihat-lihat atau membeli satu dua potong saja.

Neli, ibu muda yang melihat-lihat baju-baju di pasar itu, rupanya sedang menimang-nimang. Ia berkali-kali melihat ponselnya, membandingkan produk yang sama di toko online. Menurutnya, baju dan sandal dengan model sama di toko online, justru harganya lebih murah di pasar tersebut.

“Dulu beli di pasar dan toko fisik itu mahal, sekarang malah bisa lebih murah dari toko online,” cetusnya.

Di tengah kondisi yang tidak sepenuhnya ideal, para pedagang tetap bersyukur karena pasar masih bergerak. Ada yang mengaku omzet naik meski tipis, ada pula yang stagnan.

“Yang penting masih ada pembeli. tidak mengapa rejeki sethithik, ning kemlethik lan mbanyu mili,” kata Wanto, pedagang sembako berfilosofi.

Tren melepas emas
Fenomena lain yang mencuat tahun ini adalah meningkatnya warga yang menjual perhiasan emas. Lita, salah satu penjaga toko emas di sekitar pasar, mengungkapkan perubahan ini cukup terasa.

“Biasanya orang beli untuk lebaran, sekarang banyak yang jual. Katanya buat kebutuhan,” ujarnya.

Menurutnya, transaksi penjualan emas meningkat dibanding pembelian. Ini menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat sedang membutuhkan dana cepat untuk mencukupi kebutuhan menjelang hari raya.

Namun, berkah prepegan tetap dirasakan sebagian pekerja jasa. Urip, sopir mikrobus jurusan Wangon–Purwokerto, mengaku mengalami peningkatan penumpang.

“Biasanya cuma 4–5 orang, pulang pergi dengan kursi hampir kosong. Sekarang penuh, isinya ibu-ibu yang mau belanja,” tutur Urip yang tetap telaten menjalankan armada lawas.

Hal serupa dirasakan oleh pengemudi ojek, baik konvensional maupun ojek erbasis aplikasi. Permintaan antar-jemput ke pasar meningkat, terutama pada pagi hingga siang hari.

“Ya lumayan lah, sampai siang ini bisa narik tujuh kali. Kalau tidak capek ya bisa dapat lebih,” ungkap Tarso, tukang ojek offline dengan motor bebek jadul kesayangannya.

Dari tradisi ke kebutuhan
Menurut sejarahwan Pantura, Wijanarto istilah prepegan diartikan sebagai situasi menjelang atau menyambut hari Raya Idul Fitri.

"Istilah prepegan sebenarnya berasal dari bahasa Jawa yakni mrepeg yang artinya mendesak, mendadak, tergesa-gesa," kata Wijanarto.

Prepegan sendiri mengarah pada bagaimana masyarakat khususnya di Kabupaten Brebes, Banyumas dan sekitarnya yang memanfaatkan waktu guna melengkapi semua kebutuhan Lebaran.

Tradisi seperti ini, merefleksikan solidaritas sosial sekaligus ritme konsumsi masyarakat menjelang hari besar keagamaan. Prepegan menunjukkan bagaimana pasar menjadi ruang interaksi sosial, bukan hanya tempat transaksi. Di sana, orang bertemu, berbagi cerita, hingga memperkuat ikatan komunitas.

Dalam konteks saat ini, perubahan pola prepegan juga bisa dibaca sebagai cermin kondisi ekonomi masyarakat. Ketika belanja menurun dan aset seperti emas dijual, itu menandakan adanya tekanan pada rumah tangga.

Prepegan di Pasar Ajibarang mungkin tak semeriah dulu, apalagi tahun ini ada perbedaan tibanya Hari Raya Idul Fitri.

Namun, bagaimanapun tradisi prepegan akan tetap hidup, meski mungkin dalam realita yang lebih sederhana. Orang-orang masih datang ke pasar, masih berusaha memenuhi kebutuhan, dan menyimpan harapan untuk merayakan lebaran dengan layak.

Di Pasar Ajibarang, riuh rendah pengunjung membuat telinga berdengung. Transaksi yang hangat terus terjadi antara penjual dan pembeli. Bagi pemilik lapak dan pelanggan dekat, sesekali saling menanyakan kabar. Tawar-menawar tetap terdengar. Di antara aroma bumbu dapur yang menguar. 

Di antara lorong-lorong sempit pasar, orang-orang berbagi cerita. Tentang hidup yang harus terus bergulir. Meski dalam situasi ekonomi yang getir.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo