Arina.id - Ketika sejumlah negara anggota BRICS sedang menggelar deklarasi Konferensi Tingat Tinggi (KTT) ke-17 di Rio de Janeiro Brasil, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seperti bocah kecil yang 'ngambek' tidak diajak bermain teman-temannya. Ia menebar ancaman di Truth Social-nya kepada negara-negara pendukung BRICS.
Pada Minggu, 6 Juli 2025, tepat saat KTT ke-17 BRICS dibuka, Trump mengunggah ancaman bahwa Amerika bakal mengenakan tarif ekstra 10 persen kepada negara-negara yang mendukung apa yang disebutnya sebagai "kebijakan anti-Amerika" dari kelompok BRICS. "Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini," demikian tulis Trump.
KTT BRICS digelar selama dua hari di Brasil, mulai Minggu-Senin (6-7) Juli 2025. Dalam unggahan terpisah, Trump juga menyebut bahwa surat pemberitahuan tarif atau kesepakatan dagang dengan berbagai negara pendukung BRICS itu akan mulai dikirimkan pada Senin, 07 Juli 2025 pukul 12.00 waktu Washington (23.00 WIB).
Trump sebelumnya juga mengkritik rencana BRICS untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Ia menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan BRICS bisa menggantikan dolar dalam perdagangan internasional. "Jika mereka tetap melakukannya, mereka akan dikenakan tarif 100 persen," ujar Trump.
Wacana dedolarisasi ini memang semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia pasca-invasi ke Ukraina pada 2022. BRICS kemudian meluncurkan mata uang bersama untuk melawan dominan dolar sebagai alat transaksi perdagangan antar anggota.
Trump juga sempat mengusik perekonomian China dengan mengenakan tarif 145 persen untuk produk ekspor China ke AS. Namun saat itu China sebagai kekuatan ekonomi Global baru balik melawan dengan mengenakan tarif 125 persen untuk barang-barang AS yang masuk ke China.
Sampai pada sebuah pertemuan petinggi kedua negara di Jenewa, Swiss, 11 Mei 2025, kedua negara akhirnya sama-sama melunak. Amerika menurunkan tarifnya dari 145 persen menjadi 30 persen. Sementara China menurunkan tarif dari 125 persen menjadi 10 persen.
Imbas ancaman Trump buat Indonesia
Ancaman Trump bakal memungut tarif ekstra 10 persen kepada negara-negara anggota BRICS segera direspons Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati. Menkeu mengatakan hingga saat ini Indonesia masih memantau perkembangan situasi tersebut, mengingat proses negosiasi tarif dagang dengan AS masih terus berlangsung.
"Ya, kita akan terus mengikuti (perkembangan) saja, karena Indonesia masih dalam proses pembicaraan dengan Pemerintah Amerika Serikat," ujar Sri Mulyani usai Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, seperti dikutip dari ANTARA, Senin 07 Juli 2025.
Kepada DPR, Sri Mulyani memang mengakui bahwa dinamika ekonomi global saat ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk kebijakan tarif resiprokal yang diusung Trump.
Hal tersebut menjadi pertimbangan dalam penyusunan asumsi dasar Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk RAPBN 2026. Meskipun demikian, ia menegaskan pemerintah akan menyusun RAPBN 2026 secara hati-hati dan mempertimbangkan baik faktor domestik maupun situasi global.
"Kita sedang melihat, hari ini Bapak Presiden (Prabowo) berada di pertemuan BRICS dengan para pemimpin dunia, dan kemudian Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan bahwa kelompok BRICS dianggap tidak mendukung AS sehingga mengancam akan mengenakan tambahan tarif," kata Sri Mulyani.
Editor: Muhammad Taufiq


