Dark
Light
Dark
Light

Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama New York: Aku Akan Menangkap Netanyahu Kalau Datang

Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama New York: Aku Akan Menangkap Netanyahu Kalau Datang

Arina.id - Politik Amerika kembali ramai sekarang ini. Bukan semata-mata tentang demonstrasi "pemakzulan" Presiden Donald Trump akibat cawe-cawenya dalam perang Israel vs Iran, namun juga terkait pemilihan Wali Kota New York. Adalah Zohran Mamdani--meskipun election belum selesai--sudah hampir pasti menang pemilihan kemarin, Selasa, 24 Juni 2025.

Mamdani memperoleh suara terbanyak, sekaligus menorehkan sejarah sebagai muslim pertama yang bakal memimpin kota berjuluk "City That Never Sleep" tersebut. Di putaran pertama pemilihan, 24 Juni 2025, Mamdani memimpin dengan perolehan suara terbanyak sebesar 43,5 persen, hampir 432.000 suara. Nomor dua Andrew Cuomo dengan 36,4 persen, atau 361.800 suara.

Brad Lander, calon progresif lainnya, berada di posisi ketiga dengan 11,3 persen, dan suara tersisa dibagi di antara para kandidat kecil lainnya. Karena tidak ada calon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari pilihan pertama, sistem pilihan berdasar peringkat pun bakal digelar lagi di putaran kedua.

Kandidat dengan suara paling sedikit dieliminasi setiap putaran secara berturut-turut, kemudian dua calon dengan suara tertinggi bakal diadu ulang. Hanya saja, Andrew Cuomo--yang sebelumnya diunggulkan menjadi favorit dalam beberapa minggu terakhir jelang pencoblosan--justru mengakui kekalahan setelah Mamdani unggul di putaran pertama.

Andrew Cuomo merupakan calon incumbet. Ia mantan gubernur New York yang dianggap lebih berpengalaman dibanding Mamdani. Cuomo pun diunggulkan dalam pemilihan wali kota kali ini. Namun belakangan isu skandal pelecehan seksual men-downgrade suaranya. Cuomo sempat mengakui kekalahan. "Mungkin beberapa hari sebelum hasil akhir dinyatakan, kemenangan Mamdani akan dipastikan."

Zohran Mamdani, seorang muslim berusia 33 tahun keturunan Asia Selatan. Nama lengkapnya Zohran Kwame Mamdani, seorang sosialis Demokrat putra dari pasangan Akademis Uganda Mahmood Mamdani dan pembuat film India Mira Nair. Lahir di Kampala Uganda dan baru pindah ke New York pada usia tujuh tahun. 

Dia memperoleh gelar sarjana dari Africana Studies dari Bowdoin College di Maine. Sebelum memasuki politik, Mamdani bekerja sebagai lawyer atau penasihat hukum rumahan, biasa membantu masyarakat kecil, keluarga berpenghasilan rendah dalam isu penggusuran. Dalam pemilihan Dewan Negara Bagian New York pada 2020, Mamdani terpilih dari distrik ke-36, mewakili Astoria, Queens.

Awal tahun ini, Mamdani menikahi Rama Duwaji, seorang seniman asal Suriah berusia 27 tahun yang tinggal di Brooklyn. Karyanya telah dipublikasikan di media-media besar Amerika, seperti The New Yorker, The Washington Post, dan VICE. Rama Duwaji juga terlibat dalam pembuatan animasi dan keramik.

Sikapnya tegas Pro-Palestina

Mamdani telah menjadi salah satu pejabat terpilih Amerika yang paling vokal mengkritik perang Israel di Gaza. Pada 31 Oktober 2024, Mamdani mengunggah tulisan di Platform X dengan menyatakan, "Sikap saya akan selalu jelas dalam mengeluarkan pernyataan, dan berdasarkan fakta: Israel melakukan genosida."

Saat jumlah suara dihitung, Mamdani mengutip Nelson Mandela dalam cuitannya, Rabu pagi, 25 Juni 2025. "Semua selalu tampak tidak mungkin sampai semua selesai. Teman-temanku, itu sudah selesai. Dan kalian adalah orang-orang yang melakukannya. Saya merasa terhormat menjadi calon Demokrat kalian untuk Wali Kota Kota New York," seperti dikutip dari Aljazeera.

Dia juga telah menjadi pendukung kuat gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), sebuah gerakan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan yang dipimpin Palestina. Gerakan BDS merupakan upaya masyarakat global untuk mengakhiri dukungan internasional terhadap penindasan Israel terhadap warga Palestina dan menekan Israel untuk mematuhi hukum internasional.

Pada sebuah acara di Manhattan awal bulan ini, Mamdani menghubungkan dukungan tersebut sebagai "inti politik saya, yaitu non-kekerasan". Momen utama kampanyenya muncul selama wawancara Desember 2024 dengan Mehdi Hasan.

Saat itu Mamdani sempat ditanya apa yang akan ia lakukan jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi New York? Mamdani menjawab dengan tegas: "Sebagai wali kota, aku akan menangkap Netanyahu jika ia datang ke New York!"

"Ini adalah kota (di mana) nilai-nilai kita dilandaskan pada hukum internasional. Sudah waktunya untuk tindakan kita juga," katanya. Mamdani juga menolak serangan terhadap slogan "Globalkan Intifada", sebuah ungkapan yang dikritik banyak pemimpin Yahudi dan para konservatif sebagai gerakan anti-Semit.

Menanggapi pertanyaan mengenai slogan tersebut, Mamdani mengatakan pada episode Podcast Bulwark pada Juni 2025: "Sebagai seorang Muslim yang tumbuh besar pasca 9/11, saya terlalu akrab (dengan) kata-kata Arab yang dapat diputarbalikkan, dapat di-distorsi, dapat digunakan untuk membenarkan makna apapun." 

Ia menambahkan bahwa slogan tersebut lebih berkaitan dengan solidaritas dengan orang-orang tertindas secara global--bukan panggilan untuk melakukan kekerasan. Kampanye Cuomo sebelumnya juga sempat menyinggung identitas Muslim Mamdani dan mengkritik sikap pro-Palestinanya. Ia dituduh terlibat gerakan anti-Semitisme. Apalagi New York menjadi markas utama PBB dan rumah komunitas Yahudi terbesar di dunia di luar Israel.

Dalam wawancara bulan Juni 2025, ketika mengatasi ancaman-ancaman Islamophobia yang diterimanya, mamdani berkata: "Tidak ada ruang untuk anti-Semitisme di kota atau negara ini." Dia berkali-kali menekankan bahwa kritiknya diarahkan pada kebijakan pemerintah AS dan Israel, bukan pada umat Yahudi.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo