Dark
Light
Dark
Light

Kulit Rusak Mental Terkoyak Akibat Kosmetik Abal-abal

Kulit Rusak Mental Terkoyak Akibat Kosmetik Abal-abal

Jakarta, Arina.id - Pada pertengahan Februari 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap temuan mengejutkan jumlah produk kosmetik ilegal dan berbahaya meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. 

Dalam kurun 10–18 Februari saja, terdapat 205.133 produk kosmetik ilegal dengan 91 merek berbeda beredar di pasaran. Ironisnya, sebagian besar merupakan produk yang viral di media sosial. 

Modusnya pun semakin canggih. Mulai dari  pencantuman nomor izin edar palsu tidak sesuai nomor resmi BPOM, sampai penyalahgunaan etiket biru—yang seharusnya hanya digunakan untuk produk racikan dengan kandungan obat keras bagi pasien yang berkonsultasi pada dokter. 

Tren penggunaan kosmetik abal-abal banyak didorong oleh pengaruh besar para pesohor media sosial. Mulai dari para selebgram, artis, hingga ning-ning pesantren.

Banyak konsumen tergoda membeli produk hanya dengan melihat wajah glowing sang idola saja, netizen langsung tergoda buat memiliki produk tersebut tanpa pikir panjang apakah produk tersebut cocok dengan jenis kulit mereka. 

Ujung-ujungnya, mereka percaya penuh pada testimoni tanpa mengecek komposisi bahan dalam produk. Padahal beli obat dan makanan saja kita dianjurkan pilih-pilih betul.

Narasi-narasi manis dari para influencer yang memiliki jutaan followers itu membuat orang gampang percaya. Apalagi kalau mereka bilang produk ini cocok untuk kulit berminyak, kusam, berjerawat, kering yang semua itu merupakan permasalahan umum yang dikeluhkan para dara maupun pria. 

Mereka juga kerap menjanjikan hasil glowing cuma dalam sepekan. Siapa yang enggak kepincut? Celakanya, kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum nakal termasuk dari kalangan dokter dan pemilik klinik kecantikan.

Kasus seperti ini bukan hal baru. Masih ingat artis papan atas yang pernah terseret dalam pusaran kosmetik ilegal? Mulai dari Kartika Putri yang pernah meng-endorsement produk Helwa. Ternyata produk tersebut mengandung merkuri.

Lalu keributan Nikita Mirzani saat terlibat perseteruan setelah membongkar pemilik skincare abal-abal milik dokter Reza Gladys. Kemudian pada 2018, penyanyi Via Vallen dan Nella Kharisma juga sempat mengiklankan kosmetik tanpa izin edar. 

Industri skincare memang gurih. Produk perawatan wajah dan body itu sudah seperti kebutuhan pokok. Awal Januari 2025 publik dihebohkan dengan keterlibatan Ning Salma, influencer asal Jawa Timur yang mempromosikan krim pengantin "Tarim" yang ternyata tidak memiliki izin edar dari BPOM.

Agus Suyanto dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, kolaborasi antara produsen kosmetik dengan selebritas adalah hal lazim di industri mana pun. 

Produk kosmetik sangat digemari masyarakat, sehingga produsen kerap menggandeng artis untuk meningkatkan daya tarik produk. Namun menurut dia, para artis dan influencer seharusnya memiliki kesadaran meneliti terlebih dahulu produk yang mereka promosikan.

Dokter sekaligus musisi, Tompi, dalam sebuah podcast bersama Luna Maya mengingatkan bahwa perawatan kulit sejatinya hanya membutuhkan dua hal yakni sabun dan pelembap yang tepat. Selebihnya, proses regenerasi kulit adalah hal alami yang tak perlu dipercepat.

Penambahan produk exfoliating, kata dia, memang bisa membuat kulit tampak lebih glowing. "Namun penggunaan berlebihan justru merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier), menjadikannya tipis dan rentan," katanya.

Kasus kerusakan kulit akibat kosmetik abal-abal ini bisa dilihat pada peristiwa Nurleni. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Wajah Leni gosong akibat menggunakan kosmetik mengandung Merkuri.

Pada 2013, Leni mulai menggunakan krim yang tanpa disadari mengandung merkuri. Ia terhipnotis dengan hasilnya yang memuaskan. Dalam waktu singkat wajahnya menjadi putih dan bersih. Tetapi pada 2015, muncul flek hitam di pipi yang semakin memburuk dalam tiga hingga empat tahun berikutnya. 

Flek tersebut melebar kemudian menebal hingga menutupi seluruh wajah. Karena malu dengan kondisinya, Leni sempat mengurung diri hingga mengalami gangguan mental berat. Ia bahkan sempat berpikir mengakhiri hidupnya.

"Jangan sampai ada korban lagi, karena yang rusak bukan cuma kulit, tapi mental juga. Aku hampir bunuh diri karena capek," ungkap Leni saat membagikan kisahnya di podcast dr. Richard Lee, beberapa bulan lalu.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Neny Triastuti mengatakan merkuri sangat populer dalam kandungan produk pemutih. Bahan kimia itu memiliki kemampuan menghambat pembentukan melanin, sehingga kulit tampak lebih cerah dan bersinar dalam waktu singkat.

"Merkuri sendiri merupakan hal berbahaya dan sebaiknya perlu diwaspadai terkait penggunaanya," ujar Neny dilansir laman UM Surabaya.

Merkuri dapat merusak pencernaan, ginjal serta saraf pertama. Mengoleskan kosmetik mengandung merkuri akan membuat kulit semakin tipis dan membuat kerusakan pada kulit maupun kesehatan.

"Merkuri dapat meresap ke dalam kulit dengan cepat dan paparan merkuri yang tinggi nyatanya dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan, sistem saraf, dan ginjal," imbuhnya.

Pertanyaannya, mengapa kejadian ini terus berulang? Padahal edukasi sudah sering digaungkan. Faktanya, publik masih saja tergiur oleh standar kecantikan semu yang digaungkan akun-akun media sosial. 

Influencer dan para dokter seharusnya tak hanya pandai mempromosikan produk—baik milik sendiri maupun orang lain—tetapi juga turut bertanggung jawab dalam mengedukasi masyarakat secara jujur dan berkelanjutan. 

Sementara itu, pemerintah perlu bertindak lebih tegas dalam memberantas peredaran kosmetik ilegal yang membahayakan. Jika tidak, siklus ini akan terus berulang—dan yang menjadi korban tetap masyarakat.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo