Arina.id -- Ide kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal relokasi warga Palestina keluar Gaza selama masa rekonstruksi kota mereka, mendapat penolakan dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hal tersebut diungkapkan oleh Stephane Dujarric selaku Juru Bicara PBB, dalam sebuah konferensi, hari Senin (27/1/2025).
“Kami menentang setiap rencana yang akan menyebabkan pemindahan paksa penduduk atau mengarah pada pembersihan etnis dalam bentuk apa pun,” ucap Stephane Dujarric, dikutip dari Anadolu.
Sebelum ini, pada Sabtu (25/1/2025) pekan lalu Donald Trump memang sempat melontarkan sebuah usulan kontroversial, yakni memindahkan warga Gaza ke Mesir dan Yordania, lantaran kota yang mereka tinggali saat ini sudah hancur total akibat perang pendudukan Israel.
Genosida yang dilancarkan Israel di wilayah itu sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina dan meninggalkan Gaza dalam kehancuran total.
Terkait rencana tersebut, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga telah menolak perihal ide yang dilontarkan Donald Trump.
Pemindahan warga Palestina dinilai OKI sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan,” tulis pernyataan resmi organisasi tersebut.
Dalam hal ini OKI juga menyerukan soal penarikan penuh pasukan pendudukan Israel, pengiriman bantuan kemanusiaan yang memadai ke seluruh wilayah Gaza, serta bantuan bagi warga yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.
OKI menghendaki pelaksanaan dengan segera segala bantuan kepada warga Palestina, terutama yang terkait program bantuan darurat, pemulihan ekonomi, dan rekonstruksi.
OKI mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tanggung jawab, dalam mewujudkan solusi 2 negara, guna mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah Palestina.
Penolakan tegas soal rencana Donald Trump juga dilontarkan oleh Liga Arab pada Minggu (26/1/2025). Organisasi tersebut menolak upaya pemindahan warga, baik melalui pembangunan pemukiman ulang, aneksasi, dan perluasan pemukinan, yang dianggap sudah terbukti gagal di masa lalu.
Liga Arab menganggap rencana Donald Trump tersebut malah justru bakal memperpanjang konflik dan membuat perdamaian makin sulit diwujudkan.
“Melanggar prinsip-prinsip yang telah mapan dan komitmen jangka panjang, yang mendapat konsensus Arab dan internasional, hanya akan memperpanjang konflik dan membuat perdamaian semakin sulit dicapai,” demikian pernyataan Liga Arab.
“Perjuangan rakyat Palestina adalah tentang tanah dan manusia, dan upaya untuk mencabut mereka dari tanah melalui relokasi, aneksasi, atau perluasan permukiman telah berulang kali gagal di masa lalu,” tegas Liga Arab.
“Memaksa orang untuk meninggalkan tanah mereka hanya bisa disebut sebagai pembersihan etnis,” pungkas mereka.
Editor: A. Sentosa


