Jakarta, Arina — Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayeb telah kembali pulang ke Mesir pada Jumat (12/7/2024) malam. Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengantar secara langsung kepulangannya melalui Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Tangerang, Banten.
Grand Syekh tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang pada Senin (8/7/2024) malam. Ulama kelahiran Luxor, Provinsi Qina, Mesir, 6 Januari 1945 itu sebelumnya berkunjung ke Thailand dan Malaysia.
Kunjungan Grand Syekh ke Indonesia merupakan ketiga kalinya selama satu dekade. Sebelumnya, mufti Agung Mesir pengganti Syekh Muhammad Sayyid Tantawi ini datang ke Indonesia pada 2016 dan 2018 silam.
Syekh Ahmad Al-Tayeb menghabiskan rihlahnya di Indonesia selama empat hari dengan menggelar sejumlah pertemuan, mulai menghadiri kuliah umum di kampus, pesantren, organisasi masyarakat Islam, hingga perwakilan pemerintah.
Bertemu Presiden dan Wapres
Presiden Joko Widodo menyambut kunjungan Grand Syekh Al Azhar, Mohammed Ahmed Al-Thayeb, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/7/2024). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian tur Grand Syekh ke Asia Tenggara yang juga mencakup Malaysia dan Thailand.
Dalam keterangannya usai mendampingi Presiden Jokowi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, menjelaskan pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Grand Syekh Al-Azhar membahas pesan perdamaian untuk perang dan konflik termasuk yang terjadi di Gaza.
Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi menekankan pentingnya menyuarakan gencatan senjata permanen dan mempermudah akses bantuan kemanusiaan. Dengan begitu, perdamaian akan dapat terwujud.
"Bapak Presiden menyampaikan bahwa saat ini perang dan konflik terjadi di mana-mana termasuk di Gaza," kata Retno sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.
Retno menyampaikan, Grand Syekh juga menyetujui pandangan Presiden Jokowi bahwa perang harus segara diakhiri dan perdamaian harus diwujudkan. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya sebuah persatuan di dunia ini.
"Negara-negara di dunia semua harus mendorong perdamaian di Gaza, perdamaian di bangsa Palestina, termasuk juga persatuan di antara negara-negara muslim," tutur Retno.
Lebih lanjut Retno menjelaskan, perdamaian tidak akan terwujud jika dialog tidak diutamakan. Pasalnya, perang sudah terjadi sekitar 9 bulan lebih hingga kini, terlepas dari semua upaya yang terus dilakukan oleh semua negara, termasuk Indonesia.
"Grand Syekh secara khusus mencatatkan, mencermati, mengapresiasi peran yang dilakukan oleh Indonesia di dalam isu Palestina, sampai sekarang perang masih belum selesai. Oleh karena itu, Grand Syekh mengatakan pentingnya persatuan, semua negara di dunia agar perang dapat diselesaikan segera," jelasnya.
Dalam pertemuan itu, Jokowi mendorong pembentukan Pusat Pengembangan atau Markaz Tathwir Al Azhar cabang Indonesia.
"Presiden juga mendorong pembentukan Markaz Tathwir Al Azhar untuk cabang Indonesia," kata Retno.
Jokowi mengatakan Mesir sejak lama menjadi tujuan studi pelajar Indonesia. Bahkan, 95 persen warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Mesir merupakan pelajar.
"Jumlah yang dicatat Grand Syekh pelajar Indonesia lebih dari 13 ribu orang. Dan Grand Syekh mengatakan beliau tidak pernah menerima keluhan dari mahasiswa Indonesia, dan berarti bahwa karakter dari mahasiswa Indonesia adalah baik," jelas Retno.
Hal ketiga yang disampaikan Jokowi, yakni pentingnya penguatan dialog antariman. Jokowi mengatakan, Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk dan toleransi adalah DNA Indonesia.
"Bapak Presiden menekankan pentingnya upaya bersama untuk meningkatkan nilai toleransi dan perdamaian melalui dialog lintas agama guna mencegah tumbuh suburnya ekstremisme dan Islamophobia," pungkas Retno.
Ulama kelahiran Luxor, 78 tahun lalu itu juga bertemu Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan No.6, Jakarta Pusat, pada Rabu (10/7/2024).
Kiai Ma'ruf dalam kesempatan tersebut menyampaikan perlunya peningkatan tata kelola pengiriman mahasiswa Indonesia ke Mesir. Karenanya, ia menyambut baik pembentukan cabang Markaz Tathwir Al-Azhar di Indonesia.
Keduanya juga bersepakat untuk meneguhkan komitmen bersama dalam mewujudkan Islam moderat. Hal ini sebagai upaya menunjukkan diri bahwa Islam bukanlah agama kekerasan, melainkan agama yang penuh kasih dan toleran.
Bertemu PBNU dan Muhammadiyah
Grand Syekh Al-Azhar hadir menyampaikan ceramah dalam forum Interfaith and Intercivilizational Reception yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, pada Rabu (10/7/2024).
Dalam forum itu, ia bertemu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, perwakilan tokoh agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Hadir pula 300 rektor perguruan tinggi dan ribuan kader NU.
Syekh Ahmad menyampaikan bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Sekalipun Nabi, Allah swt memintanya untuk tidak memaksa orang untuk meyakini agama Islam. Sebab, tiada orang yang berkuasa atas hati orang lain.
Jika pun berkehendak, katanya, Allah swt bisa saja menjadikan seluruh manusia dalam satu umat saja. Namun, perbedaan itu diciptakan agar mereka saling mengenal.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menghormati perbedaan dan terbuka dialog dengan kebudayaan dan keyakinan yang berbeda. Bahkan, Islam menganjurkan umatnya untuk silaturahim dengan lainnya.
Selain dengan PBNU, Grand Syekh juga berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024).
Sejumlah topik menjadi pembahasan mulai dari isu-isu keagamaan, pendidikan, hingga kemanusiaan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut, hubungan antara Muhammadiyah dengan Al Azhar memiliki sejarah panjang. Para tokoh-tokoh Muhammadiyah belajar dan mengembangkan serta mengimplementasikan pikiran-pikiran yang diperoleh saat studi di Al Azhar, di Indonesia.
“Kiai Dahlan juga memperoleh inspirasi dari Muhammad Abduh yang itu tidak lain adalah Syekh Al-Azhar. Yang kedua juga banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah Kiai Mas Mansur yang terbilang empat serangkai, tokoh nasional yang juga Ketua PP Muhammadiyah juga lulusan Al Azhar,” kata Haedar.
Oleh karena itu, kunjungan Grand Syekh Al Azhar memberi muatan bagi Muhammadiyah dan Al Azhar untuk terus menyebarluaskan ide-ide wasatiyatul Islam. “Bagi kami bahwa ayat wa kazalika jaalnakum ummataw wasatal terkait dengan litakunu syuhada'a alan-nasi, yakni umat yang wasatiyah, yang tengahan itu bukan hanya adil, baik, unggul, tetapi juga maju dan menjadi syahid bagi peradaban manusia di berbagai bidang,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Grand Syekh Al Azhar menyampaikan sebuah orasi ilmiah singkat dan padat tentang hubungan Al-Qur'an dengan sunah nabi. Menurutnya, organisasi Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang tajdid, menghidupkan sunah, dan memberantas bid’ah.
Grand Syekh Al Azhar menyampaikan bahwa tidak mungkin menerapkan kandungan Al-Qur'an tanpa mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Hampir semua rukun Islam itu tidak bisa dioperasionalkan kalau mengandalkan Al-Qur'an semata. Harus juga berdasarkan contoh dari Rasulullah SAW. "Tidak mungkin hanya mengandalkan teks-teks Al-Qur'an lantas begitu saja dapat menjalankan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan nyata," ujarnya.
Ia minta untuk terus mewaspadai gerakan gerakan inkar sunah. Ia juga minta untuk mewaspadai apa yang disebut alquraniun, yang mencukupkan diri kepada Al-Qur'an saja tanpa berpedoman kepada sunnah Nabi Muhammad SAW.
Grand Syekh Al Azhar berharap kepada Muhammadiyah untuk terus memberikan pencerahan kepada dunia, khususnya umat Islam untuk menegakkan sunah dengan sebaik-baiknya, bagaimana mewujudkan masyarakat Islam yang rahmatan lil’alamin merujuk kepada Al-Qur'an dan sunah Nabi Muhammad SAW.
Kunjungan ke Kampus dan Pesantren
Syekh al-Tayeb juga melakukan kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan. Pertama, ia memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Selasa (9/7/2024) pagi.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya persatuan umat Islam di tengah perbedaan mazhab dan pandangan penafsiran. Selagi masih shalat dengan menghadap kiblat yang sama, serta menerima syahadat, zakat, puasa, ia tetaplah Islam. Jika memang sudah menolak hal-hal yang membuatnya disebut Islam, barulah ia dianggap kafir.
Selepas berkunjung ke UIN Jakarta, Rektor Universitas Al-Azhar ke-50 (2003-2010) itu mengunjungi Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), lembaga yang didirikan oleh Prof Quraish Shihab, seorang pakar tafsir Al-Qur'an Indonesia. Ia juga menyampaikan ceramah di Masjid Bayt Al-Qur'an pada Selasa (9/7/2024) siang.
Di sana, Syekh Al-Tayeb mengaku bercita-cita ingin menjadi guru mengaji Al-Qur'an bagi anak-anak usai pensiun dari lembaga tempatnya mengabdi saat ini.
Selain itu, ia juga menyampaikan, moderasi merupakan inti ajaran Islam. Pendidikan yang baik menjadi sarana penting untuk bukan saja membentuk pribadi yang baik, tetapi juga membuat kehidupan harmonis.
Syekh Al-Tayeb juga berkunjung ke Pesantren Darunnajah dan Universitas Darunnajah Jakarta pada Kamis (11/7/2024).
Dalam kesempatan itu, Ketua Majelis Hukama Muslimin itu menyampaikan perlunya santri mempelajari pengetahuan keagamaan secara luas dengan tidak terpaku pada satu mazhab saja. Hal ini bertujuan agar beragam tidak terlalu kaku dan terlalu longgar, tetapi moderat.
Syakir NF
Jurnalis tingkat muda. Peserta program Micro-Credential di Amerika Serikat, Beasiswa non-Degree Dana Abadi Pesantren Kementrian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan LPDP dan Lembaga Pendidikan di Amerika Serikat.
Editor: Muhammad Zunus


