Bandung, Arina.id – Associate Professor di Melbourne Law School, The University of Melbourne, Nadirsyah Hosen memaparkan bagaimana kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mendukung gerakan sosial, termasuk boikot terhadap produk-produk yang terkait dengan Israel.
Gus Nadir, sapaan akrabnya, menyoroti peran strategis AI dalam mengembangkan basis data transparan mengenai produk dan perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Israel.
"Teknologi ini, dapat mencakup aplikasi pemindai kode batang (barcode), analisis rantai pasok, hingga penggunaan Natural Language Processing (NLP) untuk membantu konsumen membuat keputusan berdasarkan nilai etis mereka," kata Gus Nadirsyah Hosen saat mengisi seminar internasional bertajuk AI, Social Media, and Gen Z in Globalized Contexts: Challenges and Opportunities,Selasa (3/12/2024) di UIN Bandung.
AI dan Gerakan Sosial
Dalam seminar yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung melalui Centre for Asian Social Science Research (CASSR), Gus Nadir menjelaskan bagaimana AI dapat membantu gerakan boikot dengan menciptakan basis data yang menghimpun informasi dari sumber terbuka, laporan keuangan, dan data rantai pasok.
"Teknologi ini memungkinkan konsumen untuk memahami asal-usul produk secara transparan dan cepat," ungkapnya.
Ia mencontohkan aplikasi pemindai barcode yang dapat digunakan untuk mendeteksi keterkaitan sebuah produk dengan perusahaan yang mendukung Israel. Analisis rantai pasok yang dilakukan AI juga mampu mengungkap koneksi tersembunyi antara perusahaan besar dan entitas yang diduga mendukung aktivitas tertentu yang menjadi perhatian komunitas global.
Namun, ia mengingatkan adanya ketidakkonsistenan data dalam platform boikot produk yang ada. Misalnya, Danone disebut terafiliasi dengan Israel di satu platform, tetapi tidak tercantum di platform lainnya.
"Ini menunjukkan pentingnya daya nalar kritis pengguna AI dan media sosial, terutama di kalangan Gen Z," jelasnya.
AI untuk Analisis Global
Lebih jauh, Gus Nadir menjelaskan peran AI dalam konteks global, terutama dalam era Society 5.0, ketika teknologi canggih menjadi bagian integral kehidupan manusia. Dalam kerangka ini, AI tidak hanya mendukung gerakan sosial tetapi juga berkontribusi dalam penelitian sosial-politik.
Teknologi AI dapat digunakan untuk menganalisis data publik, seperti pernyataan perusahaan, pengungkapan keuangan, hingga situs web.
Dengan NLP, masyarakat dapat memahami secara mendalam keterlibatan perusahaan dalam aktivitas tertentu dan membuat keputusan yang lebih terinformasi berdasarkan nilai-nilai mereka.
Gus Nadir juga menyoroti dampak AI terhadap keilmuan sosial-politik. Teknologi ini membuka peluang bagi penelitian yang lebih mendalam tentang dinamika kekuasaan, distribusi sumber daya, hingga respons masyarakat terhadap isu global seperti konflik geopolitik dan pelanggaran HAM.
“AI memberikan kemampuan untuk mengeksplorasi pola hubungan internasional dan kebijakan publik dengan lebih efisien,” tambahnya.
Teknologi dengan Prinsip Etis
Meski menawarkan potensi besar, Gus Nadir menekankan pentingnya menggunakan AI secara bijaksana dan beretika.
Teknologi ini, kata dia, hanya akan efektif jika didukung oleh kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, masyarakat, dan pengembang teknologi.
"Gerakan sosial berbasis AI harus memastikan bahwa tujuan etis tercapai tanpa mengorbankan prinsip-prinsip kemanusiaan," tegasnya.
Dengan pendekatan ini, AI tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga instrumen untuk mendorong keadilan sosial dan membangun kesadaran global terhadap isu-isu kritis.
Editor: Kendi Setiawan


