Arina.id -- North Atlantic Treaty Organization (NATO) alias Pakta Pertahanan Atlantik Utara berniat untuk kembali meningkatkan kekuatan pertahanan Ukraina, sebelum pembicaraan damai dengan Rusia dilakukan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dalam sebuah konferensi pers bersama Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, Kamis (13/2/2025), di Brussels, Belgia.
"Yang jelas, kami harus memastikan Ukraina berada dalam posisi sebaik mungkin saat pembicaraan dimulai, dan memastikan bahwa ketika pembicaraan berakhir, hasilnya bersifat langgeng dan berkelanjutan," jelas Mark Rutte dikutip dari Anadolu.
"Kami harus terus memberikan dukungan militer," imbuhnya.
Mark Rutte juga menyebutkan bahwa struktur bersama antara Ukraina dan NATO akan mulai beroperasi pekan depan di Polandia. Hal tersebut untuk mengolah segala informasi serta rencana tindakan, dari apapun yang sudah mereka terapkan dalam Perang Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, Rustem Umerov menegaskan bahwa pihak Ukraina bakal terus berjuang di medan perang, serta menyampaikan ucapan terima kasih atas segala dukungan yang sudah mereka terima.
"Kami kuat, kami mampu, kami siap, dan kami akan memberikan hasil," ujar Umerov. Seraya menambahkan bahwa fokus Ukraina saat ini masih tetap soal bantuan keamanan.
"Amerika Serikat bersama kami, terus memberikan bantuan keamanan, NATO mengambil alih bantuan keamanan dan pelatihan kami… Kami berterima kasih kepada NATO dan kepemimpinannya," imbuh Menhan Ukraina tersebut.
Sementara itu Jerman, Inggris, Prancis, Polandia, Italia, dan Spanyol, pada Kamis (13/2/2025) juga mengeluarkan pernyataan bersama, bahwa mereka akan mendukung Ukraina hingga tercapai perdamaian yang adil, komprehensif, dan berkelanjutan.
Nantinya kesepakatan perdamaian tersebut diharapkan tidak hanya menjamin kepentingan Ukraina, tetapi juga keamanan Eropa secara menyeluruh.
"Kami siap meningkatkan dukungan kami untuk Ukraina. Kami berkomitmen pada kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas wilayahnya dalam menghadapi perang agresi Rusia," terang pernyataan tersebut.
Rencana soal perundingan damai terkait Perang Rusia-Ukraina mulai menyeruak usai Presiden AS Donald Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, pada Rabu (12/2/2025) lalu.
Salah satu pembicaraan 2 pemimpin negara adidaya tersebut adalah soal solusi dan negosiasi untuk menghentikan Perang Rusia-Ukraina, yang sudah menjadi konfrontasi terbuka sejak Februari 2022 silam.
Editor: A. Sentosa


