Arina.id - Nuansa dua ruas jalan di Kota Ghent Belgia tidak seperti biasanya. Kali ini ada hiasan kerlap-kerlip lampu hias Ramadan menerangi kawasan perbelanjaan tersibuknya itu, yakni kawasan Bevrijdingslaan-Phoenixstraat di distrik Brugse Poort dan Wondelgemstraat di lingkungan Rabot.
Ini merupakan lampu Ramadan pertama yang dipasang di Belgia, negara yang mayoritas penduduknya non-muslim itu. Lampu memancarkan cahaya hangat selama bulan puasa bagi umat Islam, sekaligus menjadi penanda semangat solidaritas antar komunitas agama yang semakin berkembang di sana.
Inisiatif pemasangan lampu ini diinisiasi oleh Assosiation of Ghent Mosques (VGM) yang bekerja sama dengan pemilik toko lokal. Dipasang beberapa hari menjelang bulan Ramadan lalu, lampu-lampu tersebut akan tetap terpasang hingga perayaan Hari Raya Idul Fitri, sebagai penanda berakhirnya bulan suci tersebut.
"Ini adalah inisiatif pertama di seluruh Belgia, belum pernah ada lampu yang digantung di tempat lain di Belgia," kata Mohamed Abd El Motleb Omar, ketua VGM, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 27 Februari 2026.
Konsep ini mulai terbentuk empat tahun lalu setelah dekorasi Ramadan serupa muncul di London. Para pedagang lokal kemudian menugaskan asosiasi tersebut untuk menangani aspek prosedural dan operasional dalam membawa lampu-lampu tersebut ke Belgia, termasuk pengurusan izinnya.
"Proyek ini tidak dibiayai oleh dewan kota. Proyek ini 100% dibiayai oleh para pedagang lokal," kata Omar menegaskan.
VGM mewakili 23 masjid di seluruh Ghent dan berupaya mendukung komunitas Muslim sekaligus mendorong kerja sama di antara jemaah yang beragam, termasuk mereka yang berasal dari Turki, Maroko, Afghanistan, dan Pakistan.
"Yang kami coba lakukan adalah menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk menyatukan anggota pengurus masjid serta, tentu saja, masyarakat Ghent," katanya, sambil menunjuk pada acara buka puasa bersama secara besar-besaran tahunan yang diselenggarakan asosiasi tersebut.
Lampu membangkitkan rasa ingin tahu dan dialog
Jalan-jalan yang dihiasi tersebut dikenal karena kehidupan komersialnya yang semarak, serta sejumlah besar pemilik toko ternyata berlatar belakang Muslim. Menurut Omar, jalan-jalan tersebut sangat ramai terutama pada malam-malam Ramadan.
"Reaksi yang diterima sebagian besar positif... Tidak ada masalah, bahkan dari pihak kanan. Ini adalah inisiatif yang mendapat reaksi jauh lebih positif daripada yang saya perkirakan," kata Omar sambil menambahkan kalau lampu-lampu itu telah mendorong diskusi di antara warga.
"Saya sudah mendengar dari para pedagang lokal dan orang-orang di jalan-jalan ini bahwa orang-orang benar-benar datang untuk bertanya, untuk apa lampu-lampu ini? Dan apa itu bulan Ramadan? Apa artinya? Mengapa berpuasa? Jadi, ini benar-benar menyatukan orang-orang, di mana di tempat lain dan pada waktu yang lain, mungkin orang-orang ini bahkan tidak akan berbicara satu sama lain, atau bahkan tidak tahu bahwa bulan seperti Ramadan itu ada," jelas Omar.
Omar mengatakan ia berharap kota-kota lain di Belgia akan mengadopsi inisiatif serupa. "Ini akan membantu menumbuhkan cara hidup yang sangat kolaboratif di antara berbagai kelompok."
Bagi banyak warga setempat, kata dia, lampu-lampu itu memiliki makna simbolis yang mendalam. Seperti disampaikan Nain, warta setempat yang telah tinggal di lingkungan itu sejak kecil, menggambarkan pajangan lampu tersebut sebagai isyarat bermakna di daerah yang sejak lama dikenal karena karakter multikulturalnya.
"Ini tahun pertama kami memiliki lampu khusus untuk Ramadan. Saya pikir ini adalah pertanda yang sangat positif bagi masyarakat... bahwa mereka diterima di sini, dan bahwa mereka dapat merasa dihormati," katanya.
"Lingkungan ini dikenal luas sebagai lingkungan multikultural... Kami memiliki toko roti Belgia di sebelah toko roti Turki, tetapi kami melihat bahwa orang Turki juga pergi ke toko roti Belgia," katanya.
Sambil membandingkan dengan dekorasi Natal yang terlihat di seluruh negeri, dia menambahkan: "Belgia telah menjadi negara tempat orang-orang multikultural hidup bersama di setiap kota... Saat liburan Natal, kita melihat dekorasi di setiap kota. Mengapa tidak melihat dekorasi Ramadan di setiap kota?"
Menumbuhkan rasa memiliki
Moussa, seorang warga Ghent yang muallaf atau masuk Islam 15 tahun lalu, mengatakan bahwa tumbuh besar di lingkungan New Ghent, tempat banyak Muslim tinggal, pertama kali memicu rasa ingin tahunya tentang agama tersebut. Menurut dia, mempelajari Islam membantunya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan, kehidupan setelah kematian, dan keberadaan Sang Pencipta.
"Islam memiliki semua jawaban, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Saya selalu bertanya mengapa kita hidup di kehidupan selanjutnya, ke mana kita akan pergi? Saya menemukan kebenaran dalam Islam. Islam bagi saya, agama ini juga memberikan bukti... Saya menemukan Islam sesuatu yang sangat penting, yaitu ketenangan. Saya menemukan kedamaian dalam Islam," tambah Moussa.
Dia mengatakan, lampu-lampu Ramadan membantu menciptakan rasa kebersamaan yang mungkin terasa kurang terlihat di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. "Di Belgia, wajar jika kita bukan negara Islam. Terkadang Anda merasa kehilangan nuansa Ramadan," katanya.
"Di rumah, di masjid, Anda melihatnya, tetapi jika Anda pergi ke jalan, Anda tidak melihat apa pun. (Saya) mengunjungi Istanbul, pada hari terakhir Ramadan, itu indah. Anda melihat cahaya. Lalu di sini Anda tidak melihatnya... Itulah mengapa, jika Anda melihat cahaya, itu memberi Anda perasaan damai, kebahagiaan," kata Moussa.
Mengenang Ramadan pertamanya setelah masuk Islam, Moussa mengatakan pengalaman itu sulit, terutama saat tinggal di rumah tangga non-Muslim.
"Biasanya, bagi orang yang masuk Islam, Ramadan terasa sedikit sepi," katanya, menambahkan: "Di masjid-masjid, Anda akan menemukan suasana yang sama. Anda akan menemukan banyak orang, banyak teman. Anda akan berdoa bersama."
Editor: Muhammad Taufiq


