Arina.id - Di tengah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) selama dua pekan, bedebah Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon. Dalam konflik perang di Timur Tengah selama sebulan lebih ini, negeri Zionis itu bersekutu dengan AS mengeroyok Iran.
Ketika gencatan senjata, Tel Aviv yang dipimpin Netanyahu itu malah menciderai gencatan senjata dengan Iran dan terus menyerang Lebanon. Hal ini bukan pertama kalinya. Dalam konfik dengan pejuang dan militansi pembebasan Palestina, Israel pun berbuat hal sama dengan terus melanggar gencatan senjata.
Serangan Israel ke Lebanon pun dianggap 'racun' dan menuai reaksi dunia internasional, salah satunya Mesir. Dikutip dari Sputnik, Kementerian Luar Negeri Mesir pada Rabu, 8 April 2026, mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon dengan menyebutnya sebagai upaya baru untuk membuat wilayah kawasan berada dalam kekacauan.
"Republik Arab Mesir mengutuk keras serangkaian serangan udara Israel di berbagai wilayah Lebanon yang bersaudara. Serangan tersebut mencerminkan niat untuk melemahkan upaya de-eskalasi internasional dan merupakan upaya baru Israel menyeret kawasan itu ke dalam kekacauan total," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban jiwa akibat serangan Israel mencapai 112, sementara 837 lainnya mengalami luka.
Liga Arab kemmudian menuntut AS memaksa Israel menghentikan serangan terhadap Lebanon. Seruan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit. Menurut Gheit, akan menjadi wajar dan logis jika perjanjian gencatan senjata tersebut juga mencakup penghentian serangan Israel ke Lebanon.
"Atas dasar ini, Liga Arab menyerukan kepada Amerika Serikat untuk memastikan bahwa hal ini diberlakukan pada pihak Israel, yang terus melanjutkan serangan agresifnya terhadap Lebanon tanpa memperhatikan perjanjian yang telah dicapai," kata Gheit.
Sebelumnya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah melancarkan serangan terbesar terhadap kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, sejak eskalasi baru-baru ini dimulai.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan pemerintahnya telah meningkatkan upaya diplomatik untuk gencatan senjata dengan Israel, menyusul pengumuman gencatan senjata sementara AS-Iran.
Pada Selasa malam, 7 April 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan.
Sehari setelah pengumuman itu, Rabu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran akan segera membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis yang menangani sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) global.
Konflik Lebanon bukan bagian dari kesepakatan damai
Sebelumnya pada hari yang sama ketika kesepakatan gencatan disepakati, Pasukan Pertahanan Israel mengumumkan dimulainya rangkaian serangan terbesar terhadap target Hizbullah di Lebanon sejak awal eskalasi saat ini.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dan menyebut isu tersebut sebagai "kesalahpahaman".
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan kelompok Hizbullah. Trump menilai situasi di negara itu merupakan bagian dari bentrokan terpisah.
"Saya pikir ini berasal dari kesalahpahaman yang wajar. Saya pikir pihak Iran mengira bahwa gencatan senjata mencakup Lebanon, padahal tidak. Kami tidak pernah membuat janji itu," kata Vance kepada wartawan sebelum bertolak ke Hungaria.
"Kami tidak pernah mengindikasikan bahwa itu akan terjadi. Yang kami katakan adalah bahwa gencatan senjata akan difokuskan pada Iran dan pada sekutu Amerika, yaitu Israel dan negara-negara Arab Teluk," sambungnya.
Sementara itu, Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan kalau Republik Islam Iran dapat menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon.
Senada, Kantor berita Fars juga melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz setelah serangan tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


