Suara lantunan ayat suci terdengar pelan dari pengeras suara sebuah masjid di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada Sabtu, 4 Oktober 2025. Di dalamnya, puluhan ibu-ibu duduk rapi, beberapa masih terbata-bata mengeja huruf Hijaiyah.
Di depan mereka, seorang perempuan setengah baya mengenakan gamis sederhana tampak sabar menuntun bacaan satu per satu dari ibu-ibu itu. Senyumnya hangat, nadanya tegas namun penuh kasih.
Perempuan itu adalah Mar'atun Sholihah (52), penyuluh agama Islam yang sudah lebih dari satu dekade mengabdikan hidupnya untuk membimbing masyarakat. Baginya, dakwah bukan sekadar ceramah dari mimbar atau pengajian mingguan. Dakwah adalah perjuangan panjang, membebaskan umat dari buta huruf Al-Qur’an sekaligus membangun kemandirian ekonomi jemaah.
“Kalau hanya ‘mengaji kuping’, masyarakat datang, dengar, lalu pulang. Itu tidak cukup. Saya ingin ada langkah nyata. Bagaimana ibu-ibu bisa baca Qur’an, bagaimana mereka bisa hidup mandiri tanpa terjerat rentenir. Itu perjuangan saya,” ujar Mar'atun membuka percakapan.
Awal Perjalanan Panjang
Mar'atun lahir di Jakarta, 15 Mei 1973. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia keagamaan. Setelah lulus Sekolah Dasar, ia memilih nyantri di Pondok An-Nurul Kasyab, Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Selama enam tahun, ia mendalami ilmu agama dari tingkat Tsanawiyah hingga Aliyah.
Tahun 1991, Mar'atun lulus. Ia tak berhenti di pesantren. Jalan hidupnya membawa Mar’atun ke IAIN (kini UIN Syarif Hidayatullah) Jakarta. Lima tahun lamanya ia mendalami Ilmu Tafsir dan Hadits, hingga akhirnya lulus sebagai Sarjana Agama pada 1996.
“Waktu kuliah, saya sudah aktif di majelis taklim. Dari situ saya merasa bahwa membimbing masyarakat dalam hal agama adalah panggilan hidup,” kenangnya.
Menikah dan Hijrah ke Cirebon
Tahun 1998, Mar'atun menikah. Ketika suaminya melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri, ia memilih bertahan di Tanah Air. Dari rumah kontrakan sederhana di Jakarta, Mar'atun mengembangkan TPQ dan majelis taklim. Ia sibuk mengurus jemaah sembari menanti kepulangan sang suami.
Hijrah Mar’atun ke Cirebon pada 2004 menjadi babak baru bagi perempuan yang mengemban amanah sebagai Sekretaris Kelompok Kerja Majelis Taklim Kabupaten Cirebon ini. Saat itu ia belum berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PN). Meskipun demikian, kegiatan majelis taklim tetap berjalan. Ia rutin mengajak ibu-ibu di sekitar rumah untuk membaca Al-Qur’an, tadarus, dan mendengarkan ceramah.
“Ternyata hidup di daerah itu berbeda. Saya merasa justru lebih dibutuhkan di sini. Ibu-ibu butuh pendampingan,” kata Mar'atun.
Empat tahun kemudian, pintu kesempatan terbuka. Pada saat itu, Pemerintah membuka lowongan CPNS untuk posisi Penyuluh Agama. Dari seratus pelamar, hanya 17 diterima, dan Mar'atun adalah salah satunya.
“Suami saya hanya memberi restu jadi Penyuluh Agama. Tidak boleh jadi staf atau yang lain. Itu syaratnya. Dan saya jalani dengan ikhlas,” tuturnya.
Sejak 1 Oktober 2009, Mar'atun resmi bertugas sebagai PNS Penyuluh Agama. Awalnya di KUA Karangwareng, lalu berpindah ke Plumbon, Mundu, hingga akhirnya ditempatkan di Kedawung.
Dari ‘Ngaji Kuping’ ke Majelis Taklim Terpadu
Perjalanan sebagai penyuluh agama telah membuka cakrawala baru bagi Mar’atun. Ia melihat banyak majelis taklim hanya sebatas forum mendengar ceramah. Jemaah hadir, duduk, lalu pulang tanpa ada peningkatan kemampuan.
“Mohon maaf, itu hanya ‘ngaji kuping’. Tidak ada proses pembelajaran yang serius, padahal tugas penyuluh lebih dari itu,” ungkapnya.
Keresahan itu semakin kuat ketika ia melanjutkan pendidikan S2. Dari penelitian yang ia baca, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia buta huruf Al-Qur’an. Hanya 7 persen yang benar-benar bisa membaca sekaligus memahami isinya.
Angka itu membuatnya gelisah. “Kalau dibiarkan, bagaimana umat bisa melek Al-Qur’an? Dari situlah saya merasa harus membuat terobosan,” kata Mar'atun.
Terobosan itu diwujudkan dengan membentuk Majelis Taklim Terpadu (MTT). Pertama kali berdiri di Masjid Nurul Hidayah, Kecamatan Tengah Tani, MTT menerapkan konsep yang berbeda dengan majelis taklim pada umumnya.
Di sini, jemaah dikelompokkan dalam 4 kelas. Pertama, kelas A untuk yang sama sekali belum bisa baca tulis Al-Qur’an. Kedua, kelas B untuk yang mengenal huruf tapi masih terbata. Ketiga, kelas C untuk yang sudah lancar membaca tapi lemah dalam tajwid. Terakhir, kelas D yang merupakan kelas tingkat lanjut. Di kelas ini, jemaah dapat mempelajari tafsir Jalalain, hadis Arbain Nawawi, hingga fikih wanita.
Metode ini membuat jemaah belajar secara bertahap. Hasilnya nyata. Banyak kaum ibu yang dulu hanya bisa duduk diam di pengajian, kini berani membaca Al-Qur’an dengan suara lantang.
“Rasanya bahagia sekali kalau ada yang bilang, ‘Bu, saya dulu tidak bisa baca Qur’an, sekarang bisa.’ Itu lebih berharga dari apa pun,” ucap Maraatun, matanya berbinar.
Mendirikan Kampung Zakat Mandiri (Kazari)
Tantangan lain datang dari sisi ekonomi. Saat membuka MTT di Blok Siledu, Kedawung, Mar'atun menemukan fakta memprihatinkan. Dari 300 kepala keluarga, separuhnya terjerat bank keliling atau rentenir.
“Bayangkan, tiap minggu mereka dikejar-kejar. Jualan baru dapat sedikit, langsung habis buat bayar cicilan,” katanya.
Dari situ lahirlah Kampung Zakat Mandiri (Kazari) pada 2022. Ia menggalang dana dari masjid-masjid di kawasan Tuk, hingga terkumpul Rp10 juta. Pada awalnya, dana itu diberikan kepada 20 warga sebagai modal usaha. Ada yang jualan cilok, siomay, batagor, hingga kue serabi.
Beda dari pinjaman konvensional, dana zakat itu murni hibah. Namun, para penerima diajak menabung. Ketika mengembalikan, mereka boleh meminjam lagi.
“Hari ini mungkin hanya Rp500 ribu, besok bisa naik jadi Rp1 juta. Yang penting mereka lepas dari jerat rentenir,” jelas Mar'atun.
Program yang telah berjalan sejak tahun 2022 ini, sebagian penerima sudah masuk ke siklus pinjaman keenam. Selain membantu perekonomian, program Kampung Zakat Mandiri juga mengangkat martabat jemaah.
Inovasi Tiada Henti
Perjuangan Mar'atun tidak berhenti di situ. Ia percaya dakwah harus menyentuh semua aspek kehidupan. Maka lahirlah beragam program inovatif.
Ada Subuh Keliling, kegiatan dari masjid ke masjid bersama camat, kepolisian, DMI, hingga organisasi perempuan. Setiap bulan, mereka mengadakan sholat subuh berjemaah, disusul kajian dan diskusi.
Ada pula Bank Sampah di majelis taklim. “Mayoritas jemaah kita ibu-ibu. Mereka produsen sampah rumah tangga terbanyak. Jadi kita ajak mereka pilah dan kelola sampah,” katanya.
Di Kedawung, Mar'atun juga mendorong berdirinya masjid ramah: masjid ramah anak, ramah lingkungan, ramah lansia dan difabel, hingga ramah musafir. Program ini bahkan menjadi percontohan tingkat kabupaten.
“Masjid jangan hanya jadi tempat sholat. Harus jadi pusat literasi, pemberdayaan, bahkan lingkungan,” tegasnya.
Menyulam Perjuangan dengan Harapan
Lebih dari satu dekade menjadi penyuluh agama, Mar'atun sadar jalan perjuangan tidak mudah. Ada kalanya lelah, ada kalanya ragu. Tapi setiap kali melihat wajah jemaah yang mulai bisa membaca Al-Qur’an, semangatnya kembali menyala.
“Bahagia itu sederhana. Melihat ibu-ibu yang dulu minder, sekarang berani membaca Qur’an dengan lantang. Atau melihat pedagang kecil bisa tersenyum karena tidak lagi ditagih rentenir. Itu harga yang tidak bisa dibayar,” ucapnya pelan.
Bagi Mar'atun, dakwah adalah perjuangan tanpa henti. Dari pesantren hingga kampung kecil di Cirebon, ia terus melangkah. Baginya, penyuluh agama tidak hanya sebagai profesi. Ia adalah jalan hidup untuk membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.
“Perjuangan saya belum selesai. Selama masih ada yang buta huruf Al-Qur’an, selama masih ada yang susah karena utang, saya akan terus melangkah,” tutupnya dengan senyum penuh harapan.
Artikel ini hasil kerja sama Kementerian Agama dan Arina.id
Editor: Kendi Setiawan


