Jakarta, Arina.id - Dunia sastra Indonesia kembali dihidupkan dengan kehadiran karya baru yang memancarkan kekuatan ekspresi dari aktivis perempuan, santri, dan penyair kelahiran Demak Jawa Tengah, Azizah Zubaer.
Hari ini sekumpulan puisi Azizah yang dibukukan berjudul Ijablah Aku karya diluncurkan di Gedung Ali Sadikin, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta, Sabtu (22/2/2025).
Dosen Filsafat dan Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia (UI), Saras Dewi mengatakan puisi-puisi dalam Ijablah Aku menyentuh sisi universalitas manusia.
Melalui puisi ini, diingatkan pada pemikiran Friedrich Nietzsche, yang dalam Thus Spoke Zarathustra menulis bahwa tanpa musik, hidup akan menjadi kesalahan (Without music, life would be a mistake).
Jika memaknai musik dalam arti yang lebih luas sebagai irama kehidupan, maka puisi-puisi Azizah adalah nyanyian yang menghidupkan getar-getar terdalam dari pengalaman manusia.
Hal ini juga sejalan dengan pandangan Ludwig Wittgenstein, yang menyatakan bahwa “batas bahasa adalah batas dunia kita” (the limits of my language mean the limits of my world). Azizah, dengan puisinya yang sarat metafora dan resonansi, memperluas batas-batas itu, mengundang kita untuk memasuki dunia batinnya yang kaya, penuh kehangatan sekaligus pergulatan.
"Kita tidak hanya akan menyaksikan lahirnya sebuah buku, tetapi juga sebuah percakapan yang lebih besar—tentang cinta, perempuan, kebebasan, dan bagaimana puisi dapat menjadi ruang bagi manusia untuk menemukan dirinya sendiri," ucapnya.
Sebagaimana yang dikatakan Rumi kata-kata adalah jembatan menuju hati. Ijablah Aku adalah jembatan itu, menghubungkan pengalaman personal sang penyair dengan pemahaman akan kehidupan yang lebih luas.
Esais sekaligus Kolumnis, Damhuri Muhammad mengatakan sehimpunan puisi dalam Ijablah Aku lahir dari eksplorasi mendalam terhadap tema cinta, eksistensi, dan spiritualitas.
Azizah Zubaer, kata dia, dengan bahasa yang puitik dan metafora yang kuat, menyuarakan pengalaman batin seorang perempuan dalam menghadapi kehidupan dengan segala gejolak dan perenungannya.
Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan puisi, tetapi juga sebuah pernyataan kuat tentang posisi perempuan dalam dunia sastra, yang selama ini masih didominasi oleh narasi maskulin.
"Seperti yang tercermin dalam salah satu puisinya berjudul Pulang ke Pamulang," ujarnya.
Damhuri mengungkapkan penulis melalui puisi-puisinya, tidak hanya berbicara tentang cinta dalam arti personal, tetapi juga mengangkat nilai transendental yang melampaui batas individu.
"Ia mengingatkan kita pada ungkapan Rumi Cintalah yang mengubah pahit jadi manis, kerikil jadi permata," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Gugus Kerja Perempuan dan Kebhinekaan Komnas Perempuan Dahlia Madanih mengatakan jika melihat sejarah nama-nama seperti Toeti Heraty, Ayu Meutia, dan Oka Rusmini telah lebih dulu menjejakkan langkah di dunia puisi.
Namun, pengakuan terhadap penyair perempuan masih belum sebanding dengan dominasi penyair laki-laki dalam panggung sastra nasional.
Azizah, kata dia, berhasil membawa perspektif baru dengan puisinya yang tidak hanya berbicara tentang perasaan dan pengalaman perempuan, tetapi juga menggugat struktur sosial yang sering kali membatasi perempuan dalam berekspresi.
"Kehadiran Ijablah Aku tidak sekadar menawarkan keindahan kata-kata, tetapi juga menjadi bagian dari perlawanan simbolik terhadap ketimpangan representasi perempuan dalam sastra," tegasnya.
Puisi sebagai Perlawanan
Pengamat Teknologi dan Siber, Riri Satria mengatakan peluncuran Ijablah Aku bukan sekadar selebrasi atas lahirnya sebuah buku puisi, melainkan juga momentum reflektif tentang bagaimana kata-kata mampu menjadi medan perlawanan, kontemplasi, dan sublimasi pengalaman manusia.
Sebagaimana dikatakan Martin Heidegger, puisi bukan sekadar permainan estetis belaka, melainkan cara manusia berdiam dalam kebenaran keberadaan" (dwelling in the truth of being).
"Dalam pandangan Heidegger, puisi adalah bahasa yang paling dekat dengan keberadaan itu sendiri, karena ia memungkinkan manusia untuk menyingkap makna tersembunyi dalam kehidupan," jelasnya.
Dalam konteks Ijablah Aku, Azizah Zubaer menyajikan sebuah lanskap puisi yang penuh getaran eksistensial. Ia tidak hanya merayakan cinta sebagai pengalaman manusia yang paling purba, tetapi juga mengaitkannya dengan dimensi spiritual yang lebih tinggi.
"Ia mengingatkan kita pada ungkapan Jean-Paul Sartre, yang menyebut bahwa manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk bebas (condemned to be free)," tandasnya
Azizah berhasil menawarkan perspektif yang lebih lembut: kebebasan sejati mungkin justru terletak dalam mengijabkan diri—sebuah sikap merelakan, mengamini, dan berdamai dengan takdir yang telah digariskan.
Acara peluncuran dan diskusi ini diselenggarakan oleh Lab Teater Ciputat (LTC), Semesta, PDS HB Jassin, dan Gerak-Gerik, yang turut berkomitmen dalam menghadirkan ruang bagi karya-karya sastra perempuan agar lebih mendapatkan tempat yang layak dalam lanskap sastra Indonesia.
Editor: Muhammad Zunus


