Arina.id-Beberapa waktu lalu kasus keracunan siswa sekolah setelah menyantap menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik Tanah Air. Kasus terjadi di Papua dan Semarang (Jawa Tengah). Peristiwa tersebut menambah panjang deretan masalah Program MBG yang menjadi prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sebelumnya, kasus keracunan menu MBG dikelola otoritas Badan Gizi Nasional (BGN) ini juga terjadi di sejumlah daerah lain dengan sebab-sebab bervariasi; di Grobogan, Pekalongan dan Kudus (Jawa Tengah), Mojokerto (Jawa Timur), Bandung Barat dan Cianjur (Jawa Barat), Yogyakarta dan Sleman (DIY), lalu Lebong (Bengkulu).
Untuk kasus terbaru di Semarang dan Papua, penyebabnya ditemukan bakteri E-Coli (Escherichia Coli) dalam menu gratis untuk siswa sekolah tersebut. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera turun menindaklanjuti laporan tersebut.
Seperti disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Kemenkes segera memberikan masukan kepada BGN. "Begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada, jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya, bukan hanya semangka tapi ada beberapa makanan lain," katanya, seperti dikutip dari Antara, Kamis 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, Kemenkes memberikan saran-saran kepada BGN mengenai masalah-masalah yang ditemukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mengapresiasi kecepatan respons Kepala BGN Sudaryono atas masukan-masukan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama Kepala BGN Sudaryono mengatakan keracunan merupakan hal yang fatal dan menyangkut nyawa seseorang, sehingga tindakan yang diberikan pun tegas. "Target saya adalah bagaimana caranya, apapun caranya, bagaimana caranya, itu kemudian nol. Kasus keracunannya," ujar Sudaryono.
Dia menyebutkan secara umum penyebab kasus keracunan tersebut seperti masak yang terlalu cepat. "Kalau di Papua kita lihat dari log. Log dapurnya itu kan kita ada sistem lognya, dia kapan persiapan, kapan nyacah, kapan apa, kapan dimasak itu ada. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11," kata Sudaryono.
Begitupun kasus di Semarang, kata dia, dapur MBG mulai masak jam 9 pada malam sebelum pembagian makanan. Sudaryono juga merespon pertanyaan tentang hukuman pidana bagi dapur yang diduga menyebabkan keracunan, karena selama ini tindak lanjut hanya berupa penutupan atau pemecatan pengelola dapur.
"Ini kan masalah kedisiplinan. no ini kita lagi cari formula. Kalau memang ada unsur-unsur lain, ya misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian," katanya.
Namun demikian, lanjutnya, ada azas praduga tak bersalah. Dia mencontohkan ada dapur yang sudah benar memasak di jam yang ditentukan, kemudian makanan dibagikan. Tetapi oleh siswa makanan itu dibungkus dan dibawa pulang untuk keluarganya, sehingga keluarganya juga ikut sakit. "no ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi," ucap Sudaryono.
Ke depan pihaknya akan memperkuat edukasi, mulai dari keamanan pangan, kandungan gizi, dan ketentuan mengkonsumsi, guna menghindari keracunan.
Seberapa bahaya bakteri E-Coli bagi tubuh anak-anak
Disarikan dari berbagai sumber, bakteri E-Coli sebenarnya adalah penghuni alami usus manusia dan hewan yang sebagian besar jenisnya tidak berbahaya. Namun, beberapa galur (strain) tertentu dapat memproduksi racun berbahaya, salah satunya adalah E-Coli pembuat racun shiga (STEC).
Bagi orang dewasa yang sehat, infeksi bakteri ini mungkin hanya menyebabkan sakit perut biasa. Namun, pada anak-anak—terutama balita—akibatnya bisa jauh lebih serius dan mengancam jiwa. Kenapa demikian? Sebab anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan yang belum matang sepenuhnya.
Selain itu, daya tahan tubuh mereka terhadap dehidrasi jauh lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Ketika terinfeksi, tubuh anak akan merespons lebih cepat dan hebat, sehingga gejala dapat memburuk dalam waktu singkat.
Kemudian, infeksi E-Coli beracun pada anak bukan sekadar menyebabkan muntaber biasa. Gejala lanjutan yang berbahaya, di antaranya diare berdarah dan kram perut hebat. Infeksi biasanya dimulai dengan kram perut parah dan diare air yang cepat berubah menjadi diare berdarah. Ini menandakan adanya peradangan dan kerusakan pada dinding usus.
Lalu dehidrasi parah disertai diare terus-menerus akan membuat anak kehilangan cairan dan elektrolit dengan sangat cepat. Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga syok.
Selanjutnya sindrom uremik hemolitik (HUS). Ini komplikasi paling berbahaya, di mana sekitar 5–10% anak yang terinfeksi strain STEC mengalami komplikasi langka namun fatal yang disebut HUS. Racun bakteri masuk ke aliran darah dan merusak sel darah merah serta pembuluh darah kecil di dalam ginjal.
Dampak HUS: Gagal ginjal akut (anak berhenti buang air kecil), anemia berat akibat hancurnya sel darah merah, kerusakan organ lain seperti otak atau jantung, membutuhkan perawatan intensif (ICU) hingga cuci darah.
Editor: Muhammad Taufiq


