Dark
Light
Dark
Light

Saling Olok Trump vs Medvedev: Singgung Nuklir dan Kiamat Kedua Negara

Saling Olok Trump vs Medvedev: Singgung Nuklir dan Kiamat Kedua Negara

Arina.id - Perang kata-kata antara mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan tensi politik global baru-baru ini. Trump merespons peringatan Medvedev dengan mengerahkan dua kapal selam nuklir.

Ketegangan ini dipicu provokasi Medvedev yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia. Kamis, 29 Juli 2025, ia memperingatkan Trump bahwa tekanan presiden AS terhadap Kremlin terkait perang di Ukraina berisiko memicu konflik lebih luas.

Perang itu, kata dia, tidak hanya antara Rusia dan Ukraina, tetapi juga antara Rusia dan AS. Peringatan tersebut disampaikan dalam unggahan Telegram terpisah, dengan mengangkat isu sistem "Dead Hand" Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Sistem tersebut dikabarkan masih beroperasi hingga kini. Dead Hand merupakan sistem kontrol otomatis untuk serangan balasan. Sederhananya, jika wilayah Rusia hancur setelah serangan nuklir, sistem Perimeter secara otomatis akan menyerang wilayah musuh dengan rudal nuklirnya sendiri.

Sehari kemudian, Jumat 01 Agustus 2025, Trump merespons Medvedev dengan kecaman tidak kalah galak. Trump mengatakan, ketika ancaman Medvedev dilakukan segera saja memerintahkan mengarahkan penempatan dua kapal selam nuklir ke "wilayah yang tepat".

"Saya telah memerintahkan penempatan dua kapal selam nuklir di wilayah yang tepat, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif ini lebih dari sekadar itu," tulis Trump di Truth Social-nya, Jumat 01 Agustus 2025.

Trump mengatakan bahwa dia mengarahkan hal tersebut berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari Dmitry Medvedev. "Kata-kata sangat penting, dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini tidak akan menjadi salah satu contohnya," ujarnya.

Kemudian, saat meninggalkan Gedung Putih untuk liburan akhir pekan di Klub Golf Bedminster miliknya, di Negara Bagian New Jersey, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa "sebuah ancaman telah dibuat oleh mantan presiden Rusia (Medvedev), dan kami akan melindungi rakyat kami".

Dikutip dari Aljazeera, Trump juga sempat menulis di Platform X bahwa Rusia harus mengingat dua hal, pertama Rusia bukanlah Israel atau Iran, dan kedua adalah setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang.

"Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak dalam situasi seperti Sleepy Joe!" tulis Trump di X.

Saling kecam dan olok antara Trump vs Medvedev ini sudah terjadi dalam beberapa pekan ini. Medvedev sendiri merupakan wakilnya Vladimir Putin di Dewan Keamanan Federasi Rusia. Medvedev dan Putin memiliki hubungan yang erat.

Ketika Medvedev menjabat sebagai presiden dari tahun 2008 hingga 2012, Putin merupakan perdana menterinya. Setelah itu, ketika Putin kembali menjabat sebagai presiden, Medvedev menjabat sebagai perdana menterinya dari 2012 hingga 2020.

Namun, seiring Trump menyuarakan rasa frustrasinya terhadap meningkatnya invasi Rusia yang terus berlanjut ke Ukraina, ia semakin menyoroti Medvedev, seorang yang dikenal agresif dalam perang sebagai sasaran kemarahannya. 

Kedua sosok petinggi di negara adidaya Rusia dan Amerika tersebut telah mengisyaratkan kemampuan nuklir negara mereka, dan percakapan publik mereka semakin menegangkan. Apalagi di sisi lain, Rusia dan AS hampir tidak pernah berbisnis bersama. 

"Mari kita pertahankan seperti itu, dan beri tahu Medvedev, mantan Presiden Rusia yang gagal, yang merasa dirinya masih Presiden, untuk berhati-hati dalam berbicara. Dia memasuki wilayah yang sangat berbahaya!" tulis Trump beberapa Waktu sebelumnya.

Sementara itu, Medvedev tampak menikmati bagaimana kata-katanya memprovokasi presiden AS.

"Jika beberapa kata dari mantan presiden Rusia memicu reaksi gugup seperti itu dari presiden Amerika Serikat yang agung dan berkuasa, maka Rusia melakukan segalanya dengan benar dan akan terus melanjutkan jalannya sendiri," jawab Medvedev dalam sebuah posting di Telegram.

Medvedev kemudian melanjutkan dengan merujuk pada serial kiamat kibat zombi "The Walking Dead", yang tampaknya merupakan bentuk penghormatan kepada kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh Rusia.

"Dan mengenai 'kematian ekonomi' India dan Rusia dan 'memasuki wilayah berbahaya'--seperti ancaman Trump--baiklah, Trump harus mengingat film favoritnya tentang 'Walking Dead'."

Minggu ini bukan pertama kalinya Trump dan Medvedev bersitegang secara daring. Pada akhir Juni, kedua pria itu juga beradu argumen dan memamerkan persenjataan nuklir mereka.

"Apakah saya mendengar Mantan Presiden Medvedev, dari Rusia, dengan santai melontarkan kata 'N' (Nuklir!), dan mengatakan bahwa dia dan negara-negara lain akan memasok Hulu Ledak Nuklir ke Iran?" tulis Trump pada 23 Juni.

Ia kemudian menunjuk serangan AS baru-baru ini terhadap Iran sebagai contoh bagaimana negara itu mungkin menanggapi ancaman lainnya.

"Jika ada yang menganggap 'perangkat keras' kita hebat selama akhir pekan, peralatan terkuat dan terbaik yang kita miliki, 20 tahun lebih maju dari yang lain, adalah Kapal Selam Nuklir kita," tulis Trump. "Mereka adalah senjata terkuat dan mematikan yang pernah dibuat."

Ia juga menyindir posisi Medvedev di bawah Putin, dengan menyatakan bahwa ancaman Medvedev tidak bertanggung jawab. "Saya rasa itulah sebabnya Putin dijuluki 'THE BOSS'," canda Trump.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo