Arina.id - Hujan deras saat acara pernikahan bisa menimbulkan kekhawatiran, terutama jika dikhawatirkan mengganggu jalannya acara atau menimbulkan kerusakan. Untuk itu, mengamalkan doa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ menjadi cara yang tepat untuk memohon kepada Allah agar hujan tidak menimbulkan bahaya. Doa ini memohon agar hujan diturunkan di sekitar kita, bukan langsung menimpa, serta berlindung dari segala bentuk keburukan yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem.
Berikut adalah doa yang dianjurkan untuk diamalkan ketika hujan deras saat acara pernikahan atau acara lainnya:
للَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Allahumma hawâlainâ wa lâ ‘alainâ. Allahumma ‘alal-âkâmi wal-jibâli wal-ajâmi wadh-dhirâbi wal-awdiyati wa manâbiti asy-syajar
Artinya, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan menimpakan langsung kepada kami. Ya Allah, limpahkanlah hujan itu di bukit-bukit, gunung-gunung, hutan-hutan, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan."
Syekh Al-‘Adawi dalam Hasyiyah ‘Alal Kifayah ath-Thalib ar-Rabbani:
وَمِمَّا وَرَدَ فِي رَفْعِ الْمَطَرِ إِذَا كَثُرَ وَخِيفَ مِنْهُ الضَّرَرُ، مَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Artinya, “Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika hujan turun sangat deras dan dikhawatirkan menimbulkan bahaya, adalah sebagaimana diriwayatkan oleh dua imam (al-Bukhari dan Muslim), beliau bersabda: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan langsung menimpa kami. Ya Allah, arahkanlah hujan itu ke bukit-bukit, pegunungan, hutan-hutan, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (Al-‘Adawi, tanpa tahun: juz 1, h. 406)
Dalam versi lain, redaksi doanya sedikit berbeda sebagai berikut:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالضِّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ
Allahumma hawālainā wa lā ‘alainā, Allahumma ‘ala al-ākāmi wa adh-ḍirābi wa manābiti asy-syajari wa buṭūni al-awdiyah.
Artinya, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan tepat di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di bukit-bukit kecil, dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.”
Redaksi ini disampaikan oleh Imam Al-Bahuti, salah satu ulama besar Mazhab Hambali, dalam kitabnya yang berjudul Muntahal Iradat sebagai berikut:
وَإِنْ كَثُرَ الْمَطَرُ حَتَّى خِيفَ مِنْهُ، سُنَّ قَوْلُ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالضِّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ
Artinya, “Apabila hujan turun sangat deras hingga dikhawatirkan menimbulkan bahaya, maka disunnahkan mengucapkan: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan tepat di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di bukit-bukit kecil, dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.” (Al-Bahuti, tanpa tahun: juz 1, h. 338)
Kita cukup dengan membaca doa tersebut, tidak perlu disertai dengan shalat. Sebab, Nabi Muhammad hanya menganjurkan membaca doa tanpa disertasi dengan pelaksanaan shalat. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Zakaria Al-Anshari dalam Minhatul Bari Syarh Sahihil Bukhari berikut:
قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ فِي "الْأُمِّ": وَإِذَا كَثُرَتِ الْأَمْطَارُ وَتَضَرَّرَ النَّاسُ فَالسُّنَّةُ أَنْ يُدْعَىٰ بِرَفْعِهَا: «اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا»، وَلَا يَشْرُعُ لِذَٰلِكَ صَلَاةٌ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَلِّ لِذَٰلِكَ
Artinya, “Imam Syafi'i dalam kitab al-Umm berkata: "Apabila hujan turun deras dan menyebabkan kerusakan pada masyarakat, maka disunnahkan untuk berdoa agar hujan itu diangkat, dengan doa: 'Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan tepat di atas kami.' Tidak disyariatkan untuk melaksanakan shalat khusus untuk hal ini, karena Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah melaksanakan shalat untuk itu." (Al-Anshari, tanpa tahun: juz 3, h. 101)
Doa Ketika Disertai Petir dan Angin Kencang
Jika hujan disertai dengan gemuruh petir, kita dianjurkan untuk membaca doa berikut:
سُبْحَانَ الَّذِى يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ، اللَّهُمَّ لاَ تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلاَ تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ
Subḥānal-ladzī yusabbiḥur-ra‘du biḥamdihī wal-malā’ikatu min khīfatih. Allāhumma lā taqtulnā bighaḍabik, wa lā tuhliknā bi‘aḏābik, wa ‘āfinā qabla dzālik.
Artinya, “Maha Suci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat pun bertasbih karena takut kepada-Nya. Ya Allah, jangan Engkau binasakan kami karena kemurkaan-Mu, dan jangan Engkau hancurkan kami dengan azab-Mu. Selamatkanlah kami sebelum itu terjadi.”
Sementara jika hujan disertasi angin kencang, kita dianjurkan untuk membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا رِيحًا
Allāhumma innī as’aluka khayrahā wa khayra mā fīhā wa khayra mā ursilat bih, wa a‘ūdzu bika min sharrihā wa sharri mā fīhā wa sharri mā ursilat bih, Allāhummaj‘alhā raḥmatan wa lā taj‘alhā ‘adhāban, Allāhummaj‘alhā riyāḥan wa lā taj‘alhā rīḥan.
Artinya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan tujuan ia diutus. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan tujuan ia diutus. Ya Allah, jadikanlah angin ini sebagai rahmat, dan jangan jadikan ia sebagai azab. Ya Allah, jadikan ia angin yang membawa kebaikan dan bukan angin yang membinasakan.”
Dengan mengamalkan doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ, kita dapat menghadapi hujan deras atau cuaca ekstrem dengan tenang, penuh harap, dan perlindungan dari Allah. Doa ini tidak hanya sebagai perlindungan fisik, tetapi juga spiritual dan membawa ketenangan dalam setiap langkah. Semoga setiap pernikahan yang dilalui selalu diberikan keberkahan dan dijauhkan dari segala musibah. Amin.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


