Arina.id - Dalam sebuah hadits riwayat Imam Abu Dawud, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa pada hari Jumat ada satu waktu mustajab yang ketika kita berdoa di waktu tersebut maka seluruh hajat kita akan dikabulkan:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
Artinya: ”Pada hari Jumat itu ada dua belas jam. Tidak ada seorang hamba Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, kecuali Allah akan mengabulkannya. Maka carilah waktu itu di jam terakhir setelah sholat Ashar.” (HR. Abu Dawud)
Imam Nawawi al-Bantani, salah satu ulama besar dari Nusantara, juga menegaskan bahwa terdapat waktu mustajab yang sangat dianjurkan untuk berdoa pada hari Jumat . Beliau memprediksi waktu tersebut berada di akhir siang, yakni setelah sholat Ashar, dengan mengutip pendapat para ulama yang berpendapat demikian.
:وَفِيهِ: أي في يومِ الجُمُعةِ (سَاعَةٌ مُبْهَمَةٌ) أي أَخْفَاهَا اللهُ تَعَالَى فِيهِ،( لَا يُوَافِقُهَا) أي لا يُصَادِفُهَا (عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى فِيهَا)، أي في تِلكَ السَّاعَةِ (حَاجَةً) مِن حَوَائِجِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا (إِلَّا أَعْطَاهُ) اللهُ تَعَالَى (إِيَّاهَا)، أي الحَاجَةَ حَالًا بِعَيْنِ المَسْؤُولِ وقالَ بعضُهُم: سَاعَةُ الإِجَابَةِ فِي آخِرِ النَّهَارِ لأَنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَعْدَ العَصْرِ فِي يَومِ الجُمُعَةِ،
وَلأَنَّ اليَمِينَ تُغَلَّظُ بَعدَ عَصْرِ الجُمُعَةِ
Artinya: "(Dan di dalamnya), maksudnya di hari Jumat, ada satu waktu yang disembunyikan, yaitu waktu yang dirahasiakan oleh Allah di hari itu. Tidaklah seorang hamba Muslim menepatinya, maksudnya, tidak sengaja berdoa tepat di waktu itu, dan ia meminta sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut, baik itu kebutuhan dunia maupun akhirat, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya saat itu juga, sesuai dengan apa yang dimintanya. Sebagian ulama berkata: Waktu mustajab tersebut berada di akhir hari Jumat, karena Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam setelah Ashar di hari Jumat, dan juga karena sumpah (yang diucapkan) lebih kuat setelah Ashar di hari Jumat.” (Muraqil Ubudiyyah Syarh Bidayatul Hidayah [Surabaya; Maktabah Imaratullah] hal.53)
Amalan Nabi Khidir Setelah sholat Ashar di Hari Jumat
Tak pelak jika dalam literatur kitab klasik, tepatnya Kitab Hadaiq al-Awliya’ Juz 5 halaman 534, terdapat keterangan bahwa Nabi Khidir AS menganjurkan sebuah amalan istimewa. Amalan itu dilakukan dengan menghadap kiblat, lalu membaca dzikir “Yā Allāh, Yā Raḥmān” hingga matahari terbenam, kemudian dilanjutkan dengan berdoa memohon hajat kepada Allah. Insya Allah, apa pun yang diminta akan dikabulkan oleh-Nya.
Amalan ini berawal dari kisah seorang ulama yang pernah bertemu Nabi Khidir saat berada di Baitul Maqdis, tepatnya di pinggiran sumur Nabi Sulaiman AS, pada hari Jumat setelah sholat Ashar. Tiba-tiba datanglah dua orang. Salah satunya tampak seperti manusia biasa pada umumnya, sedangkan yang satunya lagi berpostur besar dan tinggi, bahkan lebar dahinya seperti melebihi satu hasta.
Orang yang mirip seperti manusia pada umumnya itu duduk di dekatku dan mengucapkan salam kepadaku. Sedangkan yang besar duduk agak jauh.
Lantas ulama itu pun bertanya: “Siapa kamu? Semoga Allah merahmatimu.”
Ia pun menjawab: “Aku adalah Khidir.”
Ulama bertanya lagi: “Kalau yang satu itu siapa?”
Ia menjawab: “Itu saudaraku, Ilyas.”
Maka saat itu ulama itu pun merasa campur aduk, antara kaget dan takjub. Lantas Nabi Khidir berkata pada ulama: “Tidak apa-apa, kami mencintaimu.”
Nabi Khidir berkata lagi:
مَن صلَّى العَصرَ يَومَ الجُمُعةِ، ثُمَّ استَقبَلَ القِبلةَ فقالَ يا اللَّهُ، يا رَحمنُ، ثُمَّ سألَ اللَّهَ شيئًا إلَّا أَعطَاهُ.
Artinya: “Siapa saja yang sholat Ashar pada hari Jumat, lalu menghadap kiblat, kemudian membaca: “Yaa Allah, yaa Rahman”, dan meminta sesuatu kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkannya.” Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


