Arina.id ~ Dalam menjalani roda kehidupan di dunia ini tentu akan mengalami dinamika yang mewarnai perjalanan hidup manusia. Aneka peristiwa yang dialami bisa memberikan sejumlah perasaan dalam hati, mulai dari rasa senang, bahagia, sedih, galau, dan sebagainya.
Ketika sedih dan galau datang melanda, umat Islam sangat dianjurkan untuk berdoa memohon pertolongan kepada Allah agar kesedihan itu segera berlalu. Hal ini telah diajarkan oleh Rasullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (Beirut: Dar Ibn Hazm, hal. 235, 2004).
Berikut ini adalah doa yang diajarkan Rasulullah ketika sedang dilanda kesedihan dan kegalauan:
أَنَا عَبْدُكَ اِبْنُ عَبْدِكَ اِبْنُ أَمَتِكَ فِي قَبْضَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْألُكَ بِكُلّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أوْ أنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أوْ عَلَّمْتَه أحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أوِ اسْتَأثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ، أنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ نُوْرَ صَدْرِي، وَرَبِيْعَ قَلْبِي، وَجِلَاءَ حَزَنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
Anâ ‘abduka, ibnu ‘abdika, ibnu amatika, fii qabdlatika, nâshiyatî biyadika, mâdlin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyyaqaldla’uka, as’aluka bikulismin huwa laka sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fî kitâbika au ‘allamtahu aḫadan min khalqika, awista’tsarta bihi fî ‘ilmil ghaibi ‘indaka, an taj‘alal-qur'âna nûra shadrî, wa rabî‘a qalbî, wa jilâ’a ḫazani, wa dzahâba hammî.
Artinya: “Aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, yang berada dalam kekuasaan-Mu, nasibku ada dalam genggaman-Mu, keputusan-Mu berlaku bagiku, hukum-hukum-Mu adil bagiku. Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, Engkau namakan diri-Mu dengan nama itu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk ciptaan-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu gaib yang Engkau miliki, agar Engkau jadikan Al-Qur’an yang agung sebagai pelita di dadaku, peneduh hatiku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gelisahku.”
Usai Rasulullah mengajarkan doa itu kepada sahabatnya, ada seseorang yang kemudian bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah orang yang sedih karena tertipu juga bisa membaca doa ini? Beliau menjawab: “Ya, tentu saja. Bacalah dan ajarkanlah doa itu, barang siapa yang membaca doa ini sambil berharap dengan kandungan yang ada di dalamnya, niscaya Allah akan menghilangkan kesedihan dan melanggengkan kegembiraannya". Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Zunus


