Arina.id - Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam yang merupakan bulan ke-7 dalam perhitungan kalender bulan (qamariah).
Rajab menjadi penanda awal bagi umat Islam untuk mulai mempersiapkan diri, baik secara lahir maupun batin, dalam menyongsong dua bulan agung berikutnya yakni Syaban dan Ramadhan.
Para ulama dan orang-orang saleh terdahulu menjadikan Rajab sebagai momentum meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah agar saat Ramadhan tiba, hati telah siap dan jiwa telah terlatih.
Dalam kitab Al-Adzkâr An-Nawawiyah karya Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi disebutkan doa yang dibaca oleh Rasulullah pada bulan Rajab:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya:“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Syaban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”
Jika kita renungi, kata “barik lana” (berkahilah kami) menunjukkan permohonan agar waktu, umur, kesehatan, dan amal ibadah di bulan Rajab dan Syaban diberi keberkahan. Berkah tidak selalu berarti banyak, tetapi cukup, bermanfaat, dan bernilai di sisi Allah.
Dengan keberkahan, amal yang sederhana dapat bernilai besar, dan waktu yang singkat terasa luas untuk berbuat kebaikan.
Penyebutan Rajab dan Syaban secara khusus dalam doa ini juga mengisyaratkan bahwa kedua bulan tersebut bukan sekadar bulan biasa, melainkan masa persiapan spiritual.
Rajab adalah bulan untuk menanam benih amal, Syaban adalah bulan menyiram dan merawatnya, sementara Ramadhan menjadi masa panen pahala.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Syekh Dzunnun Al-Mishri yang dinukil oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 :
وَقَالَ ذُو النُّوْنِ المِصْرِي رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، وَيُجْزَي مَا صَنَعَ، وَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ حَصَادِهِ، وَأَخْلَفَ ظَنُّهُ مَعَ سُوْءِ مَعَادِهِ
Artinya: “Dan berkata Syekh Dzunnun Al Mishri radhiyallahu'anhu, ‘Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya'ban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen. Setiap orang akan memanen apa yang telah dia tanam dan akan dibalas sesuai dengan apa yang telah dia perbuat. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu menanam, dia akan menyesal pada hari pemanenannya, dan harapannya akan sia-sia dengan akibat yang buruk’.”
Tanpa persiapan yang baik di Rajab dan Syaban, kita dikhawatirkan tidak mampu memaksimalkan kemuliaan Ramadhan.
Bagian akhir doa disebutkan, “wa ballighna Ramadhan” (dan sampaikanlah kami hingga Ramadhan). Hal ini menunjukkan kepada kita untuk senantiasa menyadari bahwa tidak ada jaminan umur kita bisa sampai pada Ramadhan.
Banyak orang yang berharap bertemu Ramadhan, namun Allah lebih dahulu memanggilnya. Oleh karena itu, doa ini juga merupakan ungkapan ketundukan dan pengakuan bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Penting untuk memperbanyak tobat atas dosa di bulan Rajab.
Dalam kitab yang sama, Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau mengatakan:
رَجَبُ شَهْرُ التَّوْبَةِ، شَعْبَانُ شَهْرُ المَحَبَّةِ، رَمَضَانُ شَهْرُ القُرْبَةِ
Artinya: “Rajab adalah bulan tobat, Sya'ban adalah bulan kasih sayang, dan Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
Bulan Rajab menjadi pintu awal menuju Ramadhan. Di sinilah kita perlu mendekatkan diri kepada Allah karena bulan ini juga adalah bulan milik Allah.
Dalam Bughyat al-Mustarsyidîn fî Talkhîsh Fatâwî Ba‘dh al-A’immah min al-‘Ulamâ’ al-Muta’akhkhirîn, karya al-Imâm al-Habib ‘Abd al-Rahmân bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar disebutkan teks hadits:
فَائِدَةٌ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ
Artinya: “Suatu faedah: Telah diriwayatkan dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda: Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Editor: Muhammad Faizin


