Dark
Light
Dark
Light

Bukan Hanya Rajab, Ini Perbedaan Ulama Terkait Waktu Isra Mi’raj

Bukan Hanya Rajab, Ini Perbedaan Ulama Terkait Waktu Isra Mi’raj

Arina.id - Peristiwa Isra Mi’raj menjadi momen penting bagi umat Muslim. Saking berharganya, para ulama sampai menelaah dan berdebat cukup panjang terkait waktu terjadi momen spiritual luar biasanya ini. Dari mulai hari, tanggal, hingga bulannya menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan sejumlah ulama. Berikut penulis jelaskan perbedaan tersebut.

Perbedaan pendapat pertama adalah soal peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah atau sebelum Nabi Muhammad menerima wahyu. Dalam hal ini terdapat dua pandangan ulama. Pertama adalah pendapat yang mengatakan sebelum Nabi menerima wahyu. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Syuraik berikut:

جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أنْ يُوحَى إلَيْهِ، وهو نَائِمٌ في مَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقالَ أوَّلُهُمْ: أيُّهُمْ هُوَ؟ فَقالَ أوْسَطُهُمْ: هو خَيْرُهُمْ، وقالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرَهُمْ. فَكَانَتْ تِلْكَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حتَّى جَاؤُوا لَيْلَةً أُخْرَى فِيما يَرَى قَلْبُهُ، والنَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ نَائِمَةٌ عَيْنَاهُ ولَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وكَذلكَ الأنْبِيَاءُ؛ تَنَامُ أعْيُنُهُمْ ولَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَتَوَلَّاهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ عَرَجَ به إلى السَّمَاءِ.

Artinya, “Rasulullah ﷺ didatangi oleh tiga orang saat beliau sedang tidur di Masjidil Haram, sebelum wahyu pertama diturunkan. Orang pertama dari mereka berkata, “Siapa di antara mereka ini?” Orang kedua menjawab, “Dialah yang terbaik di antara mereka.” Orang ketiga berkata, “Ambillah yang terbaik dari mereka. Setelah itu, peristiwa tersebut berlalu, dan Nabi ﷺ tidak melihat mereka lagi hingga mereka datang pada malam lainnya. Peristiwa ini tampak jelas di dalam hatinya.”

“Pada saat itu, Nabi ﷺ sedang tidur dengan matanya terpejam, tetapi hatinya tetap terjaga. Demikianlah keadaan para nabi: mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak pernah tidur. Kemudian Jibril mengambil alih Rasulullah ﷺ dan membimbingnya hingga beliau diangkat ke langit dalam peristiwa Isra dan Mi’raj.” (HR Bukhari)

Riwayat Syuraik ini menyebutkan bahwa pada suatu malam datang tiga malaikat untuk menjemput Nabi Muhammad, dan saat itu kondisi Nabi belum mendapat wahyu pertama. Dari redaksi ini kemudian disimpulkan peristiwa Isra Mi’raj terjadi sebelum Rasulullah menerima wahyu.

Pendapat kedua adalah pandangan yang menyebut peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah Nabi memperoleh wahyu. Pendapat ini disepakati oleh banyak ulama, di antaranya adalah Al-Khathabi, Ibnu Hazm, Abdul Haq, Al-Qadhi Iyadh, dan Imam An-Nawawi. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar secara tegas menyebutkan bahwa keempat ulama ini menolak riwayat Syuraik di atas yang menyimpulkan Nabi melakukan Isra Mi’raj sebelum menerima wahyu. (Ibnu Hajar, 2001: juz 13, h. 488)

Berikut adalah pernyataan An-Nawawi sebagaimana dikutip Az-Zurqani dalam Syarah Mawahib al-Ladduniyah:

وقع في رواية شريك - يعني هذه - أوهام أنكرها العلماء أحدها : قوله " قبل أن يوحى إليه " وهو غلط لم يوافق عليه ، وأجمع العلماء أن فرض الصلاة كان ليلة الإسراء فكيف يكون قبل الوحي انتهى. 

Artinya, “Dalam riwayat Syuraik ini terdapat kesalahan yang diingkari oleh para ulama. Salah satunya adalah pernyataan bahwa peristiwa ini terjadi sebelum wahyu diturunkan. Ini adalah kekeliruan yang problematis, karena para ulama sepakat bahwa kewajiban shalat ditetapkan pada malam Isra. Bagaimana mungkin ini terjadi sebelum wahyu?” (Az-Zurqani, 2012: juz 8, h. 45).

Jadi, riwayat Syuraik mendapat kritik tajam dari para ulama karena memuat pernyataan kontroversial, yaitu Isra terjadi sebelum wahyu. Pendapat ini bertentangan dengan konsensus bahwa kewajiban salat ditetapkan saat Isra Mi'raj, setelah Rasulullah ﷺ diangkat sebagai nabi. Bahkan, ulama-ulama yang menentang pandangan ini menyebut Syuraik tafarrud dalam periwayatannya. Artinya, Syuraik meriwayatkan hadis tersebut sendirian, tidak diriwayatkan oleh perawi lainnya.

Perbedaan Bulan dan Hari
Selain persoalan sebelum atau sesudah Nabi menerima wahyu, para ulama juga memiliki beragam pendapat mengenai bulan dan hari terjadinya peristiwa Isra Mi’raj. Topik ini menjadi tema diskusi yang menarik. Berikut adalah uraian perbedaan pendapat tersebut sebagaimana sudah dirangkum oleh Muhammad bin Yusuf asy-Syami dalam Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil ‘Ibad.

Ibnu Atsir dan beberapa ulama lainnya meyakini bahwa Isra terjadi pada bulan Rabi’ul Awal. Bahkan, secara lebih spesifik Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Rabi’ul Awal. Pendapat ini juga didukung oleh sejumlah ulama lain seperti Al-Isnawi dalam Al-Muhimmat, Al-Adzra’i dalam At-Tawassuth, Az-Zarkasyi dalam Al-Khadim, dan Ad-Damiri dalam Hayatul Hayawan. Mereka semua sepakat bahwa Isra terjadi pada Rabi’ul Awal. 

Namun, tidak semua ulama sepakat dengan pandangan ini. Sebagian ulama lain, seperti Ibnu Dihyah dalam Al-Ibtihaj dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, berpendapat bahwa Isra terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir. Pendapat lain mengatakan peristiwa agung ini terjadi pada bulan Rajab, hal ini disampaikan oleh Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah, mengikuti pendapat Imam Ar-Rafi’i. Selain ketiga bulan tersebut, ada pula yang menyebutkan Isra Mi’raj terjadi pada bulan Ramadhan atau Syawwal. Semua pandangan ini menunjukkan adanya perbedaan pemahaman di kalangan ulama yang cukup kompleks.

Berikutnya adalah pendapat terkait waktu yang lebih spesifik lagi, yaitu hari Isra Mi’raj. Dalam hal ini, Muhammad bin Yusuf asy-Syami dalam Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil ‘Ibad tidak menjabarkan perbedaan pendapat ulama mengenai apakah terjadi sebelum Nabi menerima wahyu atau setelahnya, maupun perbedaan terkait bulannya. 

Mengenai hari Isra Mi'raj, Asy-Syami hanya mengutip pendapat Ibnu Athiyyah yang menyatakan peristiwa Isra Mi’raj terjadi antara peristiwa pemboikotan Bani Hasyim dan sebelum Baiat Aqabah pertama, dua peristiwa bersejarah dalam sirah nabawiyah.

Sebagaimana diketahui, pemboikotan Bani Hasyim terjadi pada tahun ke-7 kenabian, sekitar tahun 616 M. Pada waktu itu, kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, keluarga Nabi Muhammad yang mendukung dakwah Islam. Mereka dipaksa untuk tinggal di sebuah lembah terisolasi di Makkah selama sekitar tiga tahun hingga akhirnya pemboikotan berakhir.

Sedangkan Baiat Aqabah pertama terjadi pada tahun 621 M. Peristiwa ini melibatkan sekelompok orang dari Madinah yang berjanji setia kepada Nabi Muhammad untuk mendukungnya dalam dakwah dan perjuangan melawan kekuatan Quraisy. Baiat ini merupakan salah satu langkah awal yang penting dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad ke Madinah, yang kemudian mengarah pada peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Menafsiri pendapat Ibnu Athiyyah ini, Ibnu Dihyah menyatakan bahwa ada kemungkinan hari itu terjadi pada Senin. Sebab, hari tersebut dianggap sebagai momen penting dalam kehidupan Nabi Muhammad karena banyak peristiwa besar yang terjadi pada hari tersebut. Seperti halnya hari Jumat bagi Nabi Adam, Senin menjadi hari yang istimewa dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad, sebab beliau lahir, hijrah, Isra, dan wafat pada hari Senin. (Asy-Syami, tanpa tahun: juz 3, h. 65-66)

Kesimpulannya, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu terjadinya Isra Mi'raj, yang jelas peristiwa tersebut tetap menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah Islam. Pemahaman terhadap perbedaan ini memberikan kita wawasan lebih dalam tentang sikap ulama yang sangat memperhatikan momen mulia ini dengan mengkaji sejarah hidup Nabi Muhammad dan dampaknya bagi perkembangan ajaran Islam. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo