Arina.id – Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam yang sudah mukallaf. Dalam praktiknya, ada 2 rukun yang harus dilakukan ketika seseorang menunaikan ibadah puasa, yaitu niat di dalam hati dan menjaga diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenam matahari (waktu Maghrib).
Berkaitan dengan niat puasa, dalam pandangan mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa seorang muslim yang hendak menunaikan ibadah puasa diwajibkan untuk melakukan niat puasa di setiap malam bulan Ramadhan. Hal ini berbeda dengan pendapat mazhab Maliki yang menganggap sah terhadap niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh sekaligus.
Di sisi lain, terkadang ada sebagian orang yang lupa untuk melafalkan niat puasa di malam bulan Ramadhan. Konsekuensinya tentu puasanya akan dianggap tidak sah karena tidak melakukan salah satu rukun puasa, yaitu niat. Untuk menghindari risiko ini, LBMNU Kota Kediri dalam buku Fiqih Puasa dan Zakat Fitrah (Kediri, LBMNU Kediri: 2021), halaman 17-18 menjelaskan bahwa diperbolehkan taqlid kepada Imam Malik dalam hal niat puasa untuk sebulan penuh.
Niat puasa selama sebulan penuh ini dilakukan di malam pertama bulan suci Ramadhan. Adapun lafal niatnya adalah sebagaimana berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shawma jami‘i syahri Ramadlâna hâdhihis-sanati taqlîdan lil-Imâm Mâlikin fardlal lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Saya niat berpuasa pada keseluruhan bulan Ramadlan tahun ini, dengan mengikuti Imam Malik, untuk menjalankan kewajiban Karena Allah ta'ala”
Meski demikian, niat puasa sebulan penuh sekaligus ini tidak kemudian menggugurkan kewajiban untuk melakukan niat di setiap malam. Untuk itu, walaupun sudah niat selama sebulan namun seseorang harus tetap membaca niat puasanya di setiap malam. Adapun lafal niat puasa Ramadhan di setiap malam adalah sebagaimana berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shawma ghadin ‘an adâ’i fardli syahri Ramadlâna hâdhihis-sanati fardlal lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Saya berniat melakukan puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadlan tahun ini karena Allah SWT.”
Demikian lafal niat puasa Ramadhan sebulan penuh. Taqlid atau mengikuti pendapat mazhab Maliki bisa menjadi salah satu pilihan sebagai bentuk kehati-hatian jika di suatu malam lupa melafalkan niat karena risikonya adalah puasanya dianggap tidak sah. Namun demikian, niat puasa sebulan ini tidak menggugurkan niat puasa di setiap malam Ramadhan sehingga di setiap malam kita tetap harus melakukan niat puasa untuk esok hari.
Editor: Aiz Luthfi


