Arina.id - Istighfar merupakan salah satu zikir pilihan yang bisa dibaca sebanyak mungkin selama bulan Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam Ma Dza fi Sya’ban menyebutkan bahwa momen spiritual istimewa seperti bulan Sya’ban menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak istighfar. Salah satu redaksi istighfar yang direkomendasikannya adalah istighfar Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Sayyid Muhammad dengan mengutip riwayat dari ‘Iqdul Yawaqit al-Jauhariyah karya Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, menjelaskan, sekali waktu seorang Arab Badui mengadu kepada Sayyidina Ali terkait nasib hidupnya yang malang, sebab kondisi ekonominya sangat sulit dan susah memperoleh keturunan. Sayyidina Ali pun menganjurkan Arab Badui tersebut untuk memperbanyak baca istighfar khusus. Syaratnya, harus dibaca dengan niat yang ikhlas dan semata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Benar saja, setelah orang Arab Badui mengamalkannya, hidupnya seolah mendapat keberuntungan karena kehidupannya menjadi sejahtera, rezekinya lancar, keluarganya dikaruniai keturunan, dan segala urusan hidupnya menjadi mudah.
Berikut adalah redaksi istighfar yang dimaksud:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ قَوِيَ عَلَيْهِ بَدَنِي بِعَافِيَتِكَ، أَوْ نَالَتْهُ قُدْرَتِي بِفَضْلِ نِعْمَتِكَ، أَوْ بَسَطَتْ إِلَيْهِ يَدِي بِسَابِغِ رِزْقِكَ، أَوِ اتَّكَلْتُ فِيهِ عِنْدَ خَوْفِي مِنْكَ عَلَى أَنَاتِكَ، أَوْ وَثِقْتُ بِحِلْمِكَ، أَوْ عَوَّلْتُ فِيهِ عَلَى كَرَمِ عَفْوِكَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ خُنْتُ فِيهِ أَمَانَتِي، أَوْ بَخَسْتُ فِيهِ نَفْسِي، أَوْ بَذَلْتُ فِيهِ لَذَّاتِي، أَوْ آثَرْتُ فِيهِ شَهْوَتِي، أَوْ سَعَيْتُ فِيهِ لِغَيْرِي، أَوِ اسْتَغْوَيْتُ فِيهِ مَن تَبِعَنِي، أَوْ غَلَبْتُ فِيهِ بِفَضْلِ حِيلَتِي، إِذْ أَحَلْتُ فِيهِ عَلَيْكَ مَوْلَايَ فَلَمْ تَغْلِبْنِي عَلَى فِعْلِي، إِذْ كُنْتَ سُبْحَانَكَ كَارِهًا لِمَعْصِيَتِي، لَكِنْ سَبَقَ عِلْمُكَ فِي اخْتِيَارِي، وَاسْتِعْمَالِ مُرَادِي وَإِيثَارِي، فَحَلِمْتَ عَنِّي فَلَمْ تُدْخِلْنِي فِيهِ جَبْرًا، وَلَمْ تَحْمِلْنِي عَلَيْهِ قَهْرًا، وَلَمْ تَظْلِمْنِي شَيْئًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، يَا صَاحِبِي عِنْدَ شِدَّتِي، يَا مُؤْنِسِي فِي وَحْدَتِي، يَا حَافِظِي فِي نِعْمَتِي، يَا وَلِيِّي فِي نِقْمَتِي، يَا كَاشِفَ كُرْبَتِي، يَا مُسْتَمِعَ دَعْوَتِي، يَا رَاحِمَ عَبْرَتِي، يَا مُقِيلَ عَثْرَتِي بِالتَّحْقِيقِ، يَا رُكْنِي الْوَثِيقُ، يَا جَارِيَ اللَّصِيقُ، يَا مَوْلَايَ الشَّفِيقُ، يَا رَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ، أَخْرِجْنِي مِنْ حَلْقِ المُضِيقِ إِلَى سَعَةِ الطَّرِيقِ، وَفَرِّجْ مِنْ عِنْدِكَ قَرِيبٌ وَثِيقٌ، فَاكْشِفْ عَنِّي كُلَّ شِدَّةٍ وَضِيقٍ، وَاكْفِنِي مَا أُطِيقُ وَمَا لَا أُطِيقُ.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنِّي كُلَّ هَمٍّ وَغَمٍّ، وَأَخْرِجْنِي مِنْ كُلِّ حُزْنٍ وَكَرْبٍ، يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مُنْزِلَ الْقَطْرِ، وَيَا مُجِيبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ، يَا رَحْمَانَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيمَهُمَا، صَلِّ عَلَى خِيرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَآلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَفَرِّجْ عَنِّي مَا ضَاقَ بِهِ صَدْرِي، وَعِيلَ مِنْهُ صَبْرِي، وَقَلَّتْ فِيهِ حِيلَتِي، وَضَعُفَتْ لَهُ قُوَّتِي، يَا كَاشِفَ كُلِّ ضُرٍّ وَبَلِيَّةٍ، وَيَا عَالِمَ كُلِّ سِرٍّ وَخَفِيَّةٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. أُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.
Artinya, “Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas setiap dosa yang tubuhku sanggup melakukannya berkat kesehatan yang Engkau berikan, atau yang kekuatanku mampu mencapainya karena limpahan nikmat-Mu, atau yang tanganku meraihnya karena luasnya rezeki-Mu, atau ketika aku mengandalkan kesabaran-Mu saat takut kepada-Mu, atau ketika aku percaya pada kelembutan-Mu, atau ketika aku bersandar pada kemurahan ampunan-Mu.”
“Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas setiap dosa yang dengannya aku mengkhianati amanahku, atau merugikan diriku sendiri, atau menuruti keinginanku, atau lebih memilih hawa nafsuku, atau berusaha demi kepentingan orang lain, atau menyesatkan orang yang mengikuti aku, atau menggunakan tipu dayaku untuk mengalahkan orang lain.”
“Padahal aku menyerahkan urusan itu kepada-Mu, wahai Tuhanku, tetapi Engkau tidak memaksaku untuk melakukannya. Engkau, Mahasuci, tidak menyukai maksiatku, tetapi Engkau telah mengetahui pilihanku dan kehendakku sebelumnya. Maka, Engkau bersikap lembut kepadaku, tidak memaksaku dengan paksa, tidak menindasku dengan kekuatan, dan tidak mendzalimi aku sedikit pun.”
“Wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi, wahai teman sejati dalam kesulitanku, wahai penghibur dalam kesendirianku, wahai pelindung dalam nikmat-Mu, wahai penolong dalam cobaan-Mu, wahai penghilang kesedihanku, wahai pendengar doaku, wahai penyayang tangisanku, wahai yang mengampuni kesalahanku dengan penuh keyakinan, wahai tempatku bersandar dengan teguh, wahai yang selalu dekat melindungi, wahai Tuhanku yang penuh kasih sayang, wahai Tuhan Ka'bah yang mulia.”
“Keluarkan aku dari kesempitan menuju jalan yang lapang. Berikanlah aku jalan keluar yang dekat dan pasti dari sisi-Mu. Hilangkan dariku segala kesulitan dan penderitaan. Cukupkanlah aku dari segala beban, baik yang aku mampu maupun yang aku tidak mampu menanggungnya. Ya Allah, hilangkan dariku segala kesedihan dan kegundahan. Keluarkan aku dari setiap kesusahan dan kesempitan. Wahai yang menghilangkan kesedihan, wahai yang menghapus kesusahan, wahai yang menurunkan hujan, wahai yang mengabulkan doa orang yang terdesak, wahai Yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat.”
“Curahkanlah shalawat kepada pilihan-Mu dari makhluk-Mu, Nabi Muhammad ﷺ, dan keluarganya yang suci dan mulia. Berikanlah aku jalan keluar dari apa yang membebani dadaku, yang melemahkan kesabaranku, yang membuatku kehilangan akal, dan yang melemahkan kekuatanku. Wahai yang menghilangkan setiap musibah dan cobaan, wahai yang mengetahui segala rahasia dan hal tersembunyi, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”
“Aku menyerahkan segala urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Tiada daya dan kekuatan bagiku kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan Arasy yang Agung.” (Sayyid Muhammad, 2003: 64-65)
Bulan Sya’ban, sebagai momen spiritual yang sangat dianjurkan perbanyak membaca istighfar, sangat tepat untuk memperbanyak baca istighfar sesuai redaksi yang disampaikan Sayyidina Ali. Dengan membaca istighfar ini, diharapkan bisa mendapatkan keberuntungan, keutamaan dan khasiat zikir sebagaimana telah dialami oleh orang Arab Badui dalam kisah di atas.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


