Arina.id - Kehadiran anak dalam bahtera rumah tangga merupakan salah satu anugerah dan nikmat tiada tanding. Ia adalah pelengkap dalam suka dan duka, serta penghibur di tengah hiruk pikuk ombak kehidupan. Ketika berbagai ujian dan rintangan rumah tangga datang, anak menjadi tali penguat yang merekatkan hati suami dan istri, menjaga cinta tetap hidup hingga akhir usia.
Di tengah kebahagiaan menanti buah hati, tak sedikit pasangan yang memiliki keinginan untuk dikaruniai anak laki-laki. Harapan ini tentunya bukan hanya perihal gender, tetapi juga berkaitan dengan impian untuk memiliki penerus keluarga, pelindung orang tua di masa tua, atau bahkan karena pengaruh lingkungan dan budaya sekitar. Namun, sebagai Muslim, tentu segala harapan harus diiringi dengan ikhtiar dan doa yang sesuai tuntunan syariat.
Lantas bagaimana ikhtiar dan doa yang dianjurkan dalam Islam agar dikarunia anak laki-laki?
Dalam berbagai literatur kitab klasik karya para ulama, terdapat beragam amalan dan doa yang dianjurkan bagi pasangan suami istri yang berharap dikaruniai anak laki-laki. Salah satu di antaranya termuat dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib.
Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pasangan yang menginginkan anak laki-laki dianjurkan untuk melakukan hubungan suami istri dalam posisi berdiri, dengan sang istri mengangkat kaki kanannya
إنَّ الْمَرْأَةَ إذَا جُومِعَتْ وَهِيَ قَائِمَةٌ فَإِنْ شَالَتْ رِجْلَهَا الْيُمْنَى أَذْكَرَتْ وَإِنْ شَالَتْ رِجْلَهَا الْيُسْرَى أَنَّثَتْ
Artinya: “Jika seorang wanita berhubungan (dengan suaminya) dalam keadaan berdiri, lalu ia mengangkat kaki kanannya, maka kemungkinan besar akan melahirkan anak laki-laki. Tapi jika yang diangkat adalah kaki kirinya, maka kemungkinan besar akan melahirkan anak perempuan.”
Jika tidak bisa melakukan hubungan intim dengan berdiri seperti keterangan ini, pasutri bisa mengamalkan amalan yang terekam dalam kitab Qurratul Uyun berikut;
وَإِذَا أَرَادَ تَكْوِينَ الْوَلَدِ ذَكَرًا، فَلْيَأْمُرْ بِالنَّوْمِ عَلَى شِقِّهَا الْأَيْمَنِ عِندَ فَرَاغِهِ، وَالْأُنْثَى بِالْعَكْسِ
Artinya: ”Jika menginginkan anak laki-laki, sebaiknya suami meminta istrinya untuk tidur miring ke sisi kanan setelah selesai berhubungan. Namun, jika menginginkan anak perempuan, maka lakukan sebaliknya.”
Sebelum mengamalkan tata cara ini, pasangan suami istri sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis, khususnya dokter kandungan. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan bahwa posisi hubungan intim yang dimaksud tidak menimbulkan bahaya atau dampak negatif bagi kesehatan suami, istri, maupun janin yang mungkin sedang dikandung. Tujuannya tentu agar ikhtiar tidak berubah menjadi mudarat.
Namun, jika ternyata posisi tersebut dinilai berisiko atau tidak memungkinkan secara medis, tak perlu khawatir. Harapan untuk dikaruniai anak laki-laki tetap bisa diikhtiarkan melalui lantunan doa. Dalam kitab Budur as-Sa‘ādah, dijelaskan bahwa jika ingin dikarunia anak laki laki, sang suami hendaknya melantunkan doa berikut sebanyak tiga kali:
اللَّهُمّ إِنْ كُنْتَ خَلَقْتَ خَلْقًا فِي بَطْنِ هَذِهِ الْمَرْأَةِ(أُدْكُرْإِسْمَهَا) فَكَوِّنْهُ ذَكَرًا لِأُسَمِّيْهِ مُحَمَّدًا, أَوْ أَحْمَدَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ حَبِيْبِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ- صلى الله عليه وسلم – فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ, وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ, لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ
Allāhumma in kunta khalaqta khalqan fī baṭni hāżihil-mar’ah (udzkur ismāhā), fa-kawwinhu żakaran li-usammiyahu Muḥammadan aw Aḥmada bi-ḥaqqi Muḥammadin ḥabībika wa nabiyyika wa rasūlika ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Fa-innaka ta‘lamu wa lā a‘lam, wa anta ‘allāmul-ghuyūb. Lā tadharni fardan wa anta khayrul-wārithīn.
Artinya: “Ya Allah, jika Engkau telah menciptakan makhluk dalam rahim wanita ini (sebutkan namanya), maka jadikanlah ia seorang anak laki-laki agar dapat aku beri nama Muhammad atau Ahmad, demi hak (kehormatan) Muhammad, kekasih-Mu, nabi-Mu, dan rasul-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak tahu, dan Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Janganlah Engkau biarkan aku hidup sendiri, sementara Engkaulah sebaik-baik pewaris.”
Doa tersebut dilantunkan oleh suami sambil mengusap bagian pusar istrinya ketika sang istri sedang tertidur, tanpa harus membuka auratnya. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


