Tragedi di KM 92 jalan tol Purbaleunyi menambah deretan kasus kecelakaan transportasi di Indonesia. Dalam kecelakaan beruntun yang melibatkan 17 kendaraan tersebut, menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan orang lainnya terluka.
Sejatinya, semua peristiwa yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari ketentuan dan kehendak Allah. Namun demikian, sebagai makhluk-Nya kita wajib berusaha menjaga diri agar terhindar dari berbagai musibah yang bisa mengancam nyawa, termasuk musibah kecelakaan.
Untuk itu, sebelum melakukan perjalanan mestinya mempersiapkan berbagai hal, mulai dari perbekalan hingga memastikan kendaraan dalam kondisi aman dan layak pakai. Selain itu, sebagai umat Islam, hendaknya kita selalu berdoa kepada Allah, memohon agar diberikan keamanan, keselamatan, dan kelancaran selama perjalanan.
Salah satu doa keselamatan perjalanan yang bisa dibaca adalah sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Jami‘ul Masanid was Sunan (Beirut, Daru Khadri: 1998) Juz V, halaman 279. Dalam kitab tersebut diterangkan, ketika Rasulullah hendak keluar untuk menempuh sebuah perjalanan, beliau senantiasa membaca doa berikut ini:
اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ، وَدَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ، وَسُوْءَ المَنْظَرِ فِى الأَهْلِ وَالْمَالِ
Allâhumma innî a‘ûdzubika miw wa‘tsâ’is safari, wa kâbatil munqalabi, wal ḫûri ba‘dal kauri, wa da‘watal madhlûmi, wa sû’al mandhari fil ahli wal mâli.
Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan tempat kembali, kekurangan setelah berkecukupan, doanya yang orang dizalimi, dan pandangan buruk pada keluarga dan harta,”
Imam Ibnu Katsir kemudian menguraikan makna pada lafaz dalam doa tersebut. Makna lafaz وَعْثَاءِ السَّفَرِ adalah kesempitan dan kesulitan perjalanan, lafaz وَعْثَاء ini berasal dari اَلْوَعْثُ yaitu batu kerikil yang membuat orang kesulitan untuk berjalan di atasnya.
Adapun makna asal dari lafaz الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ adalah lepasnya sorban setelah dibungkus, sehingga ada yang memaknai lafaz tersebut dengan kekurangan setelah kelebihan/kecukupan. Pendapat lain memaknai lafaz ini dengan rusaknya berbagai urusan yang sebelumnya normal dan baik-baik saja. Ada juga yang berpendapat, makna lafaz ini adalah pulang dari suatu kelompok yang sebelumnya bersama mereka.
Setelah membaca doa tersebut dianjurkan untuk bertawakal dan memasrahkan semua urusan kepada Allah, karena pada hakikatnya roda kehidupan ini berada di bawah kendali-Nya. Itulah doa memohon kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan. Diharapkan dengan wasilah membaca doa ini, Allah senantiasa memberikan perlindungan selama perjalanan sehingga bisa lancar dan selamat sampai tujuan.
Editor: Aiz Luthfi


