Ruangan itu terbilang lengkap. Terdapat autoklaf, laminar air flow, inkubator, hingga water-bath. Sementara di dekat jendela, ada lemari yang berisi gelas-gelas kimia.
Itulah ruang laboratorium yang dimiliki Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebuah madrasah yang berdiri sejak tahun 1935, dekat dengan makam waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.
Di ruang itulah Alief Fachriza Sulistyo menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sebuah inovasi bernama "Greencoat", cat pelapis antikorosi ramah lingkungan yang digadang-gadang mampu melindungi kendaraan dari korosi akibat terjangan air rob.
Inovasi ini sebagai respons terhadap fenomena banjir rob yang sering melanda beberapa wilayah, seperti Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, dan daerah Sayung Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Menurut Alief, air rob dapat mempercepat proses korosi pada kendaraan, sehingga diperlukan solusi untuk melindungi kendaraan dari kerusakan akibat korosi tersebut.
Alief tidak sendirian dalam membuat sebuah inovasi pelapis anti-korosi itu. Dia dibantu oleh tim risetnya, yaitu Muhamad Agus Zakki dan Azza Man Tasya.
Remaja kelahiran 20 Juni 2008 itu memang sangat aktif di sekolah. Saat jam sekolah selesai, dia tidak bergegas pulang, melainkan menyibukkan diri di laboratorium. Ia sibuk mencari formulasi yang tepat untuk inovasi yang diikutkan lomba tingkat nasional.
“Kita harus yakin kalau usaha tidak akan menghianati hasil,” begitu kata Alief kepada dua rekan risetnya.
Benar adanya, usaha kerasnya kini membuahkan hasil. Inovasi yang Alief buat bersama timnya berhasil meraih juara 3 dalam kompetisi NIPRO (National Innovation Project) yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Kimia Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, pada 4–5 Oktober 2025. Hasil temuan itu pun didaftarkan untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai bentuk perlindungan atas hasil riset yang telah dilakukan.
"Alhamdulillah dapat juara. Produk ini juga sudah kami patenkan dengan sertifikat HAKI yang membuktikan bahwa inovasi yang kami kembangkan benar-benar baru dan belum pernah dipublikasikan oleh pihak lain,” ungkap Alief.
Untuk membuat cat pelapis antikorosi tersebut, Alief dan temannya memanfaatkan limbah lokal yang ada di sekitar wilayah mereka.
“Kalau bahan-bahan untuk membuat greencoat sih mudah didapatkan. Ada kitosan dari limbah kulit udang dan tanin dari daun jambu biji. Itu banyak sekali di wilayah sini,” sambung alif sambil menunjukkan produk inovasinya.
Torehan prestasi yang membanggakan seperti ini bukan kali pertama diraih Alief. Remaja yang tinggal di Desa Pangkalan, Kecamatan Margoyoso, Pati ini sudah sering menjuarai berbagai ajang tingkat nasional.
Memang, potensi yang menonjol terlihat sejak Alief masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK), tepatnya di tahun 2014. Di usianya yang baru menginjak lima tahun saat itu, Alief mengikuti acara Hafiz Indonesia yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi nasional.
“Alhamdulillah berhasil menyingkirkan seribu peserta lebih. Senang banget saat itu. Satu bulan di sana (Jakarta) aku bisa ketemu Syekh Ali Jaber hingga teman-teman yang senada, seperjuangan dalam menghafalkan Al-Qur’an di Hafiz Indonesia,” ucap Alief sambil tersenyum mengingat masa kecilnya.
Prestasi sejak Jenjang MTs
Prestasi Alief tak berhenti di situ. Saat menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah Kajen, Alief juga tak pernah gagal dalam hal akademik. Meskipun awalnya ia sempat bimbang akan melanjutkan ke madrasah mana usai tamat dari sekolah dasar di desanya.
“Awalnya saya bimbang mau nerusin di mana, tapi kemudian pihak MTs menawari saya untuk sekolah di sini, yang katanya saya bakal dapat keuntungan yang banyak. Akhirnya saya mau lanjutin di Salafiyah,” kata dia.
Di madrasah itulah Alif mulai aktif di organisasi dan ekstrakurikuler. Ia juga pernah menjadi Ketua OSIS, yang di madrasah ini bernama OSIS Keluarga Pelajar Salafiyah (KPS).
“Selain jadi ketua KPS, saya juga pernah ikut Palang Merah Remaja hingga Jurnalistik,” ucap dia sambil membetulkan posisi peci yang dikenakan.
Meskipun sibuk berorganisasi, Alif juga membuktikan bahwa dirinya juga bisa sukses dalam hal akademik. Menurutnya, antara akademik dan organisasi harus dijalani secara seimbang. Keduanya dianggap sama-sama penting, dengan akademik sebagai kewajiban utama yang memastikan ilmu pengetahuan dasar, dan organisasi sebagai wadah untuk mengembangkan soft skill.
“Waktu MTs saya dapat paralel, satu program regular tiga tahun berturut-turut. Kemudian saya juga pernah juara satu lomba pidato Bahasa Arab Porseni Ppekan Olahraga dan Seni) Tingkat MTs se-Jawa Tengah di Magelang. Saya juga mendapatkan predikat lulus dengan terbaik kitab regular serta dapat hafalan tertinggi juga,” tutur dia.
Usai lulus dari MTs Salafiyah, Alief kemudian melanjutkan ke MA Salafiyah. Alasannya, untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.
“Di MA Salafiyah aku memilih jurusan Tahfidz. Akan tetapi saya berusaha membuktikan bahwa anak tahfidz bisa juga joint ke riset, ke ekstra apa pun dengan tetap menjaga hafalan,” ujar Alief.
Selain berhasil membuat inovasi bersama tim risetnya, Alief kerap mengukir prestasi untuk mengharumkan nama madrasah di kancah nasional.
“Saya pernah juara satu lomba pidato Bahasa Arab Tingkat Nasional di UIN Salatiga, kemudian dapat juara satu Musyabaqah Syarhil Qur’an di UIN Walisongo tingkat Nasional. Pernah juga juara lomba tahfidz 20 juz tingkat Kabupaten Pati,” beber dia.
Jika sudah lulus dari madrasah, Alief mengatakan ingin melanjutkan ke salah satu kampus yang memiliki Fakultas Kedokteran. Sebab, sedari kecil dia bercita-cita menjadi seorang dokter.
“Ke depan saya ingin menjadi seorang dokter yang hafal Al-Qur’an. Kalau saat ini memang ada tawaran-tawaran untuk ngelanjutin di PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri). Sebenarnya saya minat juga, tapi lebih aku prioritaskan kedokteran,” kata dia penuh harap.
Alif bertekad mewujudkan segala impiannya tersebut. Satu hal yang selalu dia jadikan pijakan adalah pesan orang tuanya, yaitu agar ia selalu berikhtiar dan ikhlas dengan ketetapan dari Tuhan.
“Pesan orang tua yang selalu saya ingat adalah agar aku tetap rendah hati, tidak sombong, dan ikhlas dengan apa pun yang terjadi. Serta, apa pun kondisinya agar aku tetap sabar, ikhtiar dan tawakal kepada Allah,” sebut remaja ini dengan penuh optimis.
Dengan segudang prestasi yang diraihnya, Alief berharap dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lain di madrasah untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi diri. Ia juga berharap bahwa inovasi yang telah dibuatnya dapat bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi.
Alief berterima kasih kepada guru-guru dan pihak madrasah yang telah mendukungnya dalam mengembangkan potensi dirinya.
“Saya berterima kasih kepada para kiai, guru-guru, dan pihak madrasah yang telah memberikan dukungan dan fasilitas untuk mengembangkan potensi diri saya,” ungkap dia.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


