Kita cukup akrab dengan ungkapan "Adab dulu baru ilmu" dalam pergaulan sehari-hari. Saat menyaksikan debat di TV, tokoh cerdik pandai terkadang kebablasan menyerang pribadi orang lain saat argumennya dipatahkan. Tak jarang pula, umpatan dan makian kerap keluar. Lalu sebagai penonton, warganet akan berkomentar, "Begitulah kenapa harus mendahulukan adab ketimbang ilmu."
Dalam kesempatan lain kita kecewa dengan oknum pejabat yang korup. Oknum pejabat itu dengan berani menggasak uang negara miliaran hingga triliunan. Kita tak habis pikir, perbuatan sedemikian merugikan dan berdampak luas pada penghidupan dan kehidupan masyarakat nekat dilakukan. Seperti orang yang tak punya hati. Pada perilaku semacam ini kita juga mengatakan, "Yang dibutuhkan lebih dulu adalah adab daripada ilmu. Buat apa pintar jika ujungnya menghisap kekayaan negara yang sejatinya milik rakyat?"
Kesempatan berebeda kita juga kerap mendapati kasus bullying yang muncul satu per satu di berbagai daerah dan sekolah. Batin kita tercekat ketika melihat video seorang anak yang dikeroyok oleh teman sekolahnya sendiri. Pengawasan guru dan sekolah sepertinya lemah. Amarah yang ditunjukkan oleh kelompok pelajar ini mengesankan emosi yang menumpuk dan kehendak ingin memiliki kekuasaan sebagai eksistensi diri, sehingga ia rela menindas kawannya sendiri.
Pertanyaan yang muncul, bagaimana ini bisa terjadi, apakah pelajaran di kelas begitu monoton sehingga anak-anak kurang bisa menyalurkan energi yang dimiliki? Dalam hal ini, kita juga berujar, "Bukankah seharusnya pengajaran di sekolah mementingkan adab dulu baru ilmu?"
Jika kita tarik akar segala persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat, maka kita akan menemukan bahwa intinya adalah pendidikan. Namun begitu, pendidikan tak boleh diartikan sempit hanya tanggung jawab sekolah. Semua elemen yang melingkungi anak-anak harus satu tarikan napas bersepakat bahwa moral baik yang ditampilkan dalam pola tingkah anak-anak menjadi tanggung jawab bersama.
Jadi, rumah, sekolah, dan komunitas masyarakat yang dekat dengan anak merupakan sama-sama lembaga pendidikan yang penting. Durkheim mengatakan bahwa lembaga pendidikan berfungsi bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan wahana untuk menumbuhkan warga negara yang baik (beradab).
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan belajar dari kehidupan sepanjang hayat. Pendidikan bermaksud menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Konsekuensi logis dari petuah Ki Hajar Dewantara, oleh Yudi Latief dijabarkan bahwa perwujudan tujuan menjadi manusia seutuhnya itu harus diaktifkan melalui pendidikan budi pekerti (adab). Lebih lanjut Yudi mencatat, dalam pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter (adab) bukan sekadar ornamen melainkan sesuatu yang bersifat esensial.
Lalu apa sebenarnya inti dari ajaran "Mendahulukan adab sebelum ilmu?" Kalimat mulia ini diperkenalkan oleh salah satu guru dan imam mazhab, yakni Imam Malik, dalam pesannya yang terkenal, "تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم" Artinya : “pelajarilah adabnya sebelum mempelajari suatu ilmu.” (Imam Malik). Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, "Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu" (HR Ahmad).
Jelas sekali bahwa tujuan mendidik anak yang paling utama adalah adab. Kendati demikian, kita adakalanya luput untuk melihat penerapannya. Aplikasi dalam tindakan sehari-hari harus berupa keteladanan. Nabi Muhammad Saw adalah contoh terbaik dari seorang guru, orang tua, sekaligus pemimpin umat yang mempraktikkan keselarasan antara kata dan perbuatan. Nabi menjadi teladan sejati umat manusia. Dalam ungkapan jawa, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan istilah "Ing Ngarso Sung Tuladho" artinya, sebagai guru atau orang tua, keteladanan menjadi pondasi pertama untuk mendidik anak.
Jadi, adab merupakan laku meditatif sebagai syarat spiritual agar ilmu mudah dipahami. Imam Malik mengatakan, "Ibuku memakaikan baju terbaik untukku saat menuntut ilmu." Betapa, ilmu akan tampak berpendar berkilau ketika si pengamalnya berpakaian akhlak yang terpuji. Yang kerap kita lupakan juga adalah, kita seringkali melihat hasilnya, bukan prosesnya.
Misalnya pada kasus bullying, sekelompok pelajar yang mengeroyok temannya sendiri dikutuk sebagai tindakan buruk si pelajar itu. Bukankah, ada baiknya kita bercermin. Sebagai orang tua, sudahkah kita memberikan kasih sayang yang penuh pada anak-anak. Apakah kita selalu berkata lembut kepada anak-anak? Apakah kita senantiasa jujur di depan anak-anak? Apakah kita pernah membenci orang lain? Hal-hal buruk yang meskipun tersembunyi merupakan penghambat sang anak mampu mendapatkan ilmu yang manfaat.
Juga guru, sebagai pendidik perlu juga meraba diri apakah kita telah memberikan teladan kepada anak murid? Apakah kita selalu mempersiapkan pembelajaran yang baik? Apakah kita telah jadi pendengar yang tulus bagi anak murid? Apakah kita pernah melabeli anak didik dengan label negatif? Apakah sebagai guru kita pernah membeda-bedakan pandangan terhadap peserta didik? Demikian seterusnya, pertanyaan sebagai cermin diri perlu terus diajukan kepada diri sendiri sebagai bagian mengamalkan adab yang baik supaya hasil pembelajaran akan berbuah ilmu kebaikan.
Akhirnya, kalimat "Adab Dulu sebelum Ilmu" mesti dipandang dari sisi proses. Bukan semata menilai hasil akhir pendidikan, baik di rumah atau di sekolah. Jika ada yang perlu diubah pada diri sang anak, pastilah itu sesuatu yang perlu diubah pada diri kita sendiri sebagai orang tua atau guru. Jika seorang anak melakukan tindakan tidak terpuji, barangkali kita seharusnya menasehati diri, apakah keburukannya adalah perilaku yang sebenarnya ada pada diri kita sebagai orang tua atau guru.
Editor: Kendi Setiawan


