Dark
Light
Dark
Light

8 Kecerdasan Anak, Orang Tua Wajib Memerhatikan yang Dominan, Boleh Jadi itu Penentu Masa Depannya

8 Kecerdasan Anak, Orang Tua Wajib Memerhatikan yang Dominan, Boleh Jadi itu Penentu Masa Depannya

Sistem persekolahan kita tampaknya masih mengunggulkan siswa berprestasi menggunakan cara rangking. Seturut dengan sekolah, orang tua di rumah sering kali ikut terpacu agar anak-anaknya mengejar panggung juara kelas sebagai target yang tak boleh ditawar. Bagi sekolah dan orang tua, anak cerdas adalah anak yang mampu menunjukkan rata-rata nilai di semua mata pelajaran dengan skor maksimal. 

Mungkin saja, ide rangking ini terinspirasi oleh tes IQ yang sudah berkembang sejak awal abad ke-20. Tepatnya 1904, adalah Alfred Binet, seorang psikolog di Paris yang mengembangkan suatu tes untuk melihat secara objektif kecerdasan seseorang, untuk selanjutnya bisa diprediksi bahwa seorang individu akan berhasil atau gagal dalam hidupnya. 

Kemudian terkenal sebuah tes IQ yang berkembang luas ke seluruh penjuru dunia. Pada intinya, dalam tes tersebut, pribadi yang cerdas adalah seseorang dengan skor yang tinggi, berada pada level di atas 130. Di bawah itu sampai skor 100 dianggap rata-rata. Seseorang dengan skor IQ Kurang dari 100, siap-siap saja dianggap bodoh dan seringkali dianggap akan memiliki masa depan suram. 

Hampir satu abad tes IQ sejak ditemukannya, tes ini tak ada yang mengutak-atik secara kritis. Sebagian besar psikolog sepakat ini adalah tes pamungkas yang bisa menilai seorang anak manusia cerdas apa bodoh. Baru sekitar tahun 1980-an psikolog jebolan Harvard, Howard Gardner menantang kepercayaan yang diyakini umum ini. Dalam bukunya, Frame of Mind, ia mengatakan bahwa kita telah mendefinisikan kecerdasan secara sempit. Ia mengajukan sebuah konsep Multiple Intelligence (MI) atau kecerdasan majemuk. 

Gardner berupaya melebarkan jangkauan lingkup potensi manusia melampaui batas-batas skor IQ. Dalam lintas kebudayaan melewati sekat demografi, geografi, dan segala pembeda yang melingkupinya, otak manusia memiliki bagian-bagian yang sama dalam merespons dunia. Tidak ada ras yang lebih unggul dari lainnya, tidak ada warga negara lebih pintar dari negara lainnya. Gardner mempertahankan kajian penelitiannya yang mengungkapkan bahwa kecerdasan manusia terkait dua kapasitas utama, yakni, kemampuan mememcahkan masalah-masalah dan kemampuan menciptakan produk-produk dan karya-karya berbudaya dalam sebuah konteks yang kaya dan keadaan yang naturalistik. 

Berikut ini 8 kecerdasan yang dicetuskan oleh Howard Gardner, dikutip dalam bukunya Thomas Amatrong, Kecerdasan Multipel di Dalam Kelas. Setiap anak menyandang kedelapan kecerdasan itu. Namun, umumnya, manusia dominan pada satu sampai empat wilayah kecerdasan tertentu yang menentukan gambaran kehidupannya di masa yang akan datang. Orang tua wajib mengetahui ciri-cirinya agar mudah membekali sang buah hati dengan pendekatan yang tepat. 

1. Linguistik
Kemampuan linguistik ialah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif baik lisan (orator, pendongeng, atau politisi) atau tulisan (penyair, penulis naskah drama, editor, atau jurnalis). Beberapa bentuk praktiknya termasuk retorika (menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain melakukan aksi tertentu), mnemonik (menggunakan bahasa untuk mengingat informasi), penjelasan (menggunakan bahasa untuk menginformasikan), dan metabahasa (menggunakan bahasa untuk membicarakan bahasa itu sendiri). Anak dengan kecerdasan ini bisa dikenali melalui kemampuan bicaranya yang lancar dan menggunakan banyak diksi. 

2. Logis-Matematis
Kemampuan menggunakan angka secara efektif (ahli matematika, akuntan pajak, atau ahli statistik) dan untuk alasan yang baik lainnya (ilmuwan, programer komputer, atau ahli logika). Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola-pola dan hubungan-hubungan yang logis, pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat), fungsi dan abstraksi terkait lainnya.

Wujud dalam kapasitas yang mencakup kategorisasi, klasifikasi, kesimpulan, generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Anda mengenali anak dengan kelebihan ini melalui kecakapannya berhitung dan membangun asosiasi antar ide. 

3. Spasial 
Kemampuan untuk memahami dunia visual-spasial secara akurat (pemburu, pramuka, atau pemandu) dan melakukan perubahan-perubahan dalam persepsi tersebut (dekorator interior, arsitek, seniman, atau penemu). Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan yang ada di antara unsur-unsur ini. Kemampuannya muncul dalam bentuk memvisualisasikan, mewakili ide-ide visual, atau spasial secara grafis, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam sebuah matriks spasial.

Secara mudah bisa kita kenali pada anak yang gampang mengingat ruang. Sekali melihat suatu tempat, ia langsung mengenali secara detail dan tak mudah tersesat. 

4. Kinestetik-Tubuh
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan (sebagai aktor, pantomim, atlet, atau penari) dan kelincahan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu (pengrajin, pematung, mekanik, ahli bedah, atau koki).

Kecerdasan ini meliputi keterampilan fisik seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, fleksibilitas, dan kecepatan. Anak yang aktif bisa jadi dominan kekuatan kinestetik-tubuhnya. 

5. Musikal 
Kemampuan untuk mencerap bentuk-bentuk musik seperti merasakan (misalnya, penikmat musik), membedakan (misalnya, kritikus musik), menggubah (komposer), dan mengekspresikan (sebagai perfomer, penyanyi atau pemain musik) . Anak dengan kecerdasan ini peka terhadap ritme, nada atau melodi, dan warna nada dalam sepenggal musik. Ia dikenali dengan pandai bernyanyi atau bermain alat musik. 

6. Interpersonal
Kemampuan untuk memahami dan membuat perbedaan-perbedaan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan terhadap orang lain, mencakup kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh. Secara gampang kita bisa menyebutnya sebagai pribadi yang pandai bergaul. 

7. Intrapersonal
Pengetahuan diri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengetahuan itu. Kecerdasan ini termasuk kekuatan mengenal diri secara akurat. Kesadaran terhadap suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan. Serta kemampuan untuk mendisiplinkan diri, pemahaman diri, dan harga diri. Anak dengan kecerdasan ini cenderung memerhatikan penampilan diri agar sempurna. 

8. Naturalis
Keahlian dalam mengenali dan mengklasifikasikan berbagai spesies flora dan fauna, dari sebuah lingkungan individu. Juga mencakup kepekaan terhadap fenomena alam lainnya seperti formasi awan, gunung, dll. Anak dengan keahlian ini biasa dikenali dengan ketertarikan dan keberaniannya bersentuhan dengan binatang atau tumbuhan tang bagi lainnya terlihat menjijikkan atau menakutkan. 

Sebagai orang tua, pengetahuan ini penting, sebab dengan memahaminya, orang tua bisa memberikan fasilitas keminatan anak-anak dan mampu merespons tingkah laku sang anak dengan tepat. Catatan pentingnya adalah setiap anak memiliki kedelapan kecerdasan itu namun hanya satu sampai empat yang dominan.

Dengan memahami ini diharapkan orang tua akan lebih bijak menyikapi anak dalam keseluruhan sikap yang ditunjukkan. Dengan pengetahuan ini pula, orang tua wajib memahami bahwa anak-anak tidak perlu mengejar mati-matian mendapatkan rangking satu. Sebab, hakikatnya setiap anak adalah rangking satu pada setiap kecerdasan yang menonjol pada dirinya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo