Menjaga ketajaman mental dan otak hingga usia 80-an bukan hanya soal keberuntungan, tetapi juga gaya hidup. Orang-orang yang tetap lincah secara mental, memiliki ingatan yang tajam, sering memiliki kebiasaan harian yang mereka jalani secara konsisten. Orang-orang ini tahu bahwa menjaga ketajaman mental adalah tentang merawat pikiran, seperti halnya merawat tubuh.
Kebiasaan sehat ini—pembelajaran seumur hidup, aktivitas fisik, pola makan sehat, interaksi sosial, menerima perubahan, tidur berkualitas, latihan mental, dan pandangan positif— berkontribusi pada kesehatan kognitif. Ini bukan hanya tentang mengadopsi kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, tetapi menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita.
Berikut kebiasaan pagi orang yang tetap tajam otaknya hingga usia 80-an yang ditulis oleh Nick Wignall di laman YourTango
1. Merencanakan Kegiatan Sehari-hari
Jika Anda sering menunda-nunda atau kesulitan tetap konsisten, cobalah lebih disiplin dalam merencanakan aktivitas Anda.
"Aturan saya adalah selalu merencanakan hari saya sehari sebelumnya. Kemudian, keesokan harinya, rencana itu seperti resep yang hanya perlu saya ikuti," tulis Nick.
Menurut Nick, kita tidak perlu memikirkan apa yang akan dikerjakan karena itu sudah diatur. Hal yang perlu dilakukan adalah mengisi kekosongan dalam rencana yang sudah dibuat. Ketika orang kesulitan menjalani hidup yang mereka inginkan, sering kali itu masalah disiplin, hanya saja bukan seperti yang mereka kira.
"Jika Anda berusaha lebih disiplin saat sedang bekerja, Anda sudah terlambat. Disiplin adalah latihan yang mempersiapkan Anda sebelumnya agar bisa bekerja lebih mudah," lanjut Nick.
Dia menyarankan kita mempertanyaan pada diri sendiri dua pertanyaan ini:
• Apa bagian penting dalam hari saya yang tidak saya lakukan sesering yang saya inginkan?
• Bagaimana jika saya merencanakan hari itu sebelumnya?
Nick mengingatkan bahwa disiplin adalah tentang mempermudah diri Anda, bukan menyulitkan.
2. Membiasakan Pemanasan
Saat kuliah, cerita Nick, dia memiliki kebiasaan aneh. "Setiap kali saya perlu belajar atau menulis makalah, saya akan berjalan-jalan di kampus pada malam hari dan mencari ruang kelas kosong," tulisnya.
Kemudian Nick akan menyebarkan catatan dan buku saya di meja dan membuka laptop. Selanjutnya, dia akan mengambil headphone besar berkualitas studio, memutar lagu dari Dave Matthews Band yang khusus, menutup mata, dan hanya mendengarkan.
"Setelah lagu selesai, saya melepas headphone dan mulai bekerja," lanjutnya.
Nick menyebut itulah ritual pemanasan yang dia lakukan. Ritual pemanasan adalah aktivitas singkat yang Anda lakukan sebelum memulai pekerjaan.
Seperti merencanakan pekerjaan sebelumnya, ada banyak manfaat dari memiliki ritual pemanasan untuk pekerjaan kreatif kita. Manfaat terbesarnya menurut Nick adalah: Ritual pemanasan menenangkan pikiran Anda yang gelisah dan memungkinkan energi kreatif mengalir.
Pikiran gelisah adalah suara bising, negatif, dan terus-menerus dalam kepala Anda yang tidak berhenti mengkritik ide atau pekerjaan Anda. Suara ini bisa sangat menghambat kreativitas. Anda tidak bisa hanya menyuruh kritik dalam diri Anda untuk diam. Semakin Anda melawannya, semakin buruk rasanya, dan semakin kecil kemungkinan Anda bisa menyelesaikan pekerjaan.
Ritual pemanasan bekerja karena sifatnya yang repetitif, otomatis, dan hampir hipnotis. Setelah Anda menenangkan bagian kritis otak Anda, bagian yang lebih kreatif dan produktif dapat bekerja dengan baik.
Nick menyarakan soal ritual pemanasan jangan terlalu dipikirkan yang rumit-rumit, semakin sederhana semakin baik. Bisa dengan mendengarkan lagu tertentu seperti contoh saat Nick kuliah. Bisa dengan menyeruput secangkir kopi atau teh hangat sambil menikmati matahari terbit (atau terbenam).
"Bisa juga dengan menjawab email yang tidak terlalu penting untuk beberapa menit. Meskipun ini bukan contoh yang saya buat, saya pernah mendengar psikolog organisasi Adam Grant menjelaskan bahwa dia sering melakukan ini sebelum menulis kreatif," tutur Nick.
Tujuan disiplin adalah untuk melepaskan kreativitas Anda dengan menghilangkan hambatan-hambatannya.
3. Berhenti Membenarkan Penundaan
Menurut Nick penundaan adalah alasan terbesar yang dia dengar dari orang yang kesulitan melakukan pekerjaan kreatif. Meskipun banyak hal seperti media sosial atau kebijakan bekerja dari rumah yang membuat lebih sulit untuk tetap fokus,alasan terbesar orang menunda adalah karena mereka bingung dengan apa itu penundaan.
Kebanyakan orang bingung antara dorongan untuk menunda dan tindakan menunda itu sendiri.
Saat Anda mulai bekerja, Anda merasa sedikit cemas tentang bagaimana melanjutkannya. Untuk mengalihkan kecemasan itu, pikiran Anda menawarkan alternatif yang lebih menarik: buka media sosial! Seperti gravitasi, Anda melihat ponsel dan merasa dorongan untuk membukanya dan tenggelam dalam aliran informasi yang baru dan menarik.
Namun, Anda belum menunda pekerjaan Anda. Pada titik ini, itu hanya dorongan dari pikiran Anda (dengan sedikit perasaan).
Di sini lah masalah muncul. Reaksi alami kebanyakan orang terhadap dorongan untuk menunda adalah mengkritik diri sendiri: "Ah, saya benar-benar penunda. Kenapa saya tidak bisa fokus?!"
Masalah dengan kritik diri ini adalah Anda menambahkan lapisan emosi negatif yang lebih dalam. Sekarang, selain kecemasan awal dan dorongan untuk menunda, Anda juga membawa rasa malu dan marah.
Pada titik ini, emosi negatif begitu kuat sehingga dorongan untuk menunda menjadi lebih besar karena potensi kelegaan dari distraksi jauh lebih besar. Ini meningkatkan kemungkinan Anda akan menunda dan membuka media sosial.
Nick memberikan saran sebagai berikut:
Anda merasa dorongan untuk menunda sebagai cara mengurangi kecemasan.
Tapi alih-alih mengkritik diri karena dorongan itu, Anda memvalidasinya: “Saya memang merasa cemas, tapi itu normal dan wajar. Bahkan para pembuat karya hebat pun merasa cemas. Semua orang merasakan dorongan untuk menunda—ini hanya pikiran saya yang mencoba membantu. Mungkin saya akan coba bekerja sedikit dulu dan lihat bagaimana rasanya…”
Dengan memvalidasi dorongan untuk menunda—mengingatkan diri bahwa itu wajar dan Anda punya pilihan lain—Anda tidak hanya mengurangi emosi negatif, tetapi juga membawa perasaan yang lebih positif seperti belas kasih dan kelegaan karena ingat bahwa Anda tidak sendiri.
Hasilnya, Anda jauh lebih mungkin untuk mengatasi hambatan awal dan tetap fokus.
Saat Anda memahami perbedaan antara merasakan dorongan untuk menunda dan bertindak menunda, Anda membuka ruang. Di ruang ini, Anda bisa memilih untuk membangun kebiasaan baru yang lebih mendukung kreativitas dan produktivitas Anda: Anda bisa memvalidasi penundaan Anda daripada melawannya. Bentuk disiplin tertinggi adalah belajar untuk bersikap lembut pada diri sendiri.
Editor: Kendi Setiawan


