Jakarta, Arina.id—Selama bulan Ramadan, tren produksi sampah organik cenderung meningkat di Indonesia. Rata-rata peningkatannya bahkan mencapai 20 persen dalam skala nasional. Ironisnya, mayoritas sampah organik ini berasal dari sisa yang tidak habis dimakan.
Berdasarkan data harian sampah nasional dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS) pengelolaan sampah dari tiga tahun terakhir selalu meningkat antara 5 hingga 10 persen.
Tahun 2023 peningkatan volume sampah 5-10 persen didominasi sampah makanan. Pada tahun 2024 meningkat 15-18 persen dengan komposisi besar sampah rumah tangga dan kemasan plastik. Dan pada tahun 2025 kenaikan sampah mencapai 10-12 persen sampah makanan tetap mendominasi.
Di Lombok Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat kenaikan volume sampah harian dari rata-rata sekitar 112 ton menjadi 116–117 ton per hari pada awal Ramadan. Secara angka mungkin terlihat kecil, tetapi tambahan 4–5 ton per hari berarti beban kerja ekstra bagi petugas kebersihan yang harus mengangkut, memilah, dan menumpuk sampah lebih banyak dari biasanya kapasitas tempat pembuangan akhir jadi semakin terancam.
Aktivitas pasar Ramadan menjadi salah satu penyumbang terbesar peningkatan sampah, terutama dari kemasan makanan sekali pakai. Banyak orang membeli makanan berlebihan saat berbuka, baik karena lapar mata maupun keinginan mencoba berbagai menu. Akibatnya, tidak sedikit makanan tersisa yang akhirnya terbuang.
Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hablum minal 'alam—hubungan dengan alam—melalui langkah sederhana yang berdampak nyata.
"Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani Bumi salah satunya lonjakan sampah," ujarnya ditemui di Pusat Studi Qur'an Pondok Cabe, beberapa waktu lalu.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan volume sampah meningkat rata-rata 10–20 persen selama Ramadan, dengan sekitar 40 persen berupa sisa makanan. Padahal sisa makanan bisa disimpan untuk dikonsumsi kembali, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau diolah menjadi kompos. Mengompos di rumah membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus mengembalikan nutrisi ke tanah.
Greenpeace mengajak masyarakat membawa wadah guna ulang seperti tumbler dan kotak makan, serta memilih kemasan alami seperti besek, tampah, atau daun pisang untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.
"Untuk menjalankan puasa dengan lebih ramah lingkungan, kita juga bisa menerapkan gaya hidup minim sampah dan konsumsi bijak selama Ramadan dengan mengikuti panduan Ramadan Ramah Lingkungan," tuturnya.
Isu pengelolaan sampah mendapat perhatian serius dari Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional XI Tahun 2025 yang digelar di Jakarta pada 20–23 November 2025. Dalam forum tersebut, MUI menetapkan fatwa tentang pedoman pengelolaan sampah di sungai, danau, dan laut.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, menyatakan bahwa membuang sampah ke sungai, danau, dan laut hukumnya haram karena mencemari sumber air dan membahayakan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya.
MUI menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian dari ibadah sosial (mu‘āmalah). Setiap Muslim wajib menjaga kebersihan sungai, danau, dan laut sebagai sumber air yang penting bagi kehidupan.
Fatwa ini tidak hanya berisi larangan, tetapi juga pedoman bagi berbagai pihak. Masyarakat didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sesuai jenisnya, serta mengolah sampah organik menjadi kompos. Pelaku usaha diminta mengurangi timbulan sampah dari proses produksi, tidak membuang limbah ke perairan, dan melakukan daur ulang.
Editor: Suci


