Dark
Light
Dark
Light

Memutus Rantai Kemiskinan dengan Pendidikan

Memutus Rantai Kemiskinan dengan Pendidikan

Kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Nusantara masih terbilang belum merata. Data Dirjen Dukcapil Tahun 2022 mencatat, masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi hanya 6,41% dengan rincian D1 dan D2 0,41%, D3 1,28%, S1 4,39%, S2 0,31%, dan S3 0,02%. 

Banyak dari mereka yang menganggap bahwa pendidikan hanya akan menghabiskan biaya yang sangat besar terlebih ketika harus memasuki perguruan tinggi, bahkan pendidikan tinggi dikategorikan sebagai kebutuhan tersier yang hanya bisa ditempuh oleh masyarakat dengan strata sosial menengah keatas.

Jika diamati, banyak menemukan fenomena darurat pendidikan di berbagai daerah khususnya pedesaan yang lebih mengarahkan anaknya untuk bekerja setelah menyelesaikan jenjang pendidikan menengah. Terlebih para perempuan yang diharuskan menikah di umur yang belum matang sehingga mereka harus putus sekolah.

Masih banyak masyarakat yang menganggap pendidikan bagi perempuan tidak penting. Pasalnya, mereka memposisikan perempuan sebagai subordinat yang tidak setara dengan laki-laki dalam haknya untuk menerima pendidikan yang layak. Bahkan mereka mengatakan bahwa setinggi-tingginya pendidikan perempuan tetap kodratnya hanya berperan di dalam rumah.

Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa bahaya darurat pendidikan nasional bisa mengakibatkan terhadap meningkatnya angka kemiskinan baik skala nasional atau regional. Banyak masyarakat yang melupakan sejarah bahwa pemintah kolonial sengaja tidak memberikan fasilitas pendidikan secara merata agar masyarakat pribumi bisa menjadi budak di negeri sendiri. Minimnya pendidikan sehingga mereka tidak bisa memanfaatkan potensi kekayaan alam dan dan sumber dayanya sendiri.

Banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa negeri ini bisa meraih kemerdekaannya juga tidak lepas dari peran para tokoh kemerdekaan yang terdidik. Mereka bisa merumuskan dasar-dasar negara dan berdiplomasi di kancah internasional untuk mempertahankan kedaulatan dan mendapatkan pengakuan dari negara-negara lain.

Masyarakat Nusantara khususnya umat Islam sebenarnya harus bisa memahami pentingnya pendidikan karena menuntut ilmu merupakan kewajiban individual. Nabi Muhammad bersabda sebagai berikut:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: "Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).

Hadits ini juga mencakup kewajiban bagi perempuan meskipun secara tekstual tidak menyebutkan secara eksplisit diksi Muslimah. Kewajiban mencari ilmu ditekankan kepada perseorangan, bukan dilihat dari jenis kelamin, bahkan menyebutkan diksi Muslim itu bisa diartikan otomatis mencakup kepada Muslimah.

Imam Syafi’i sendiri sudah mengingatkan akan kepentingan pendidikan untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat:

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ

Artinya: "Siapa yang menginginkan kesuksesan di dunia, maka dia harus meraihnya dengan ilmu. Siapa yang menginginkan kesuksesan di akhirat, maka dia harus meraihnya dengan ilmu." (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, [Maktabah Syamilah], juz 1, hal. 20.).

Salah satu pentingnya mendapatkan pendidikan tinggi adalah untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Dipungkiri atau tidak, kesempatan seseorang untuk mendapatkan kelayakan hidup jauh lebih besar jika dia mempunyai pengalaman pendidikan tinggi yang dibuktikan dengan adanya pengakuan dalam bentuk ijazah.

Seseorang bisa mendaftarkan dirinya menggunakan ijazah yang dia miliki di berbagai instansi yang membuka lapangan pekerjaan. Mereka juga bisa mencoba peruntungan dalam seleksi CPNS, atau membangun usahanya sendiri melalui soft skill dan jaringan yang dia dapatkan semasa kuliah.

Di era orde baru, lulusan perguruan tinggi sangat mungkin untuk menjabat posisi penting di suatu instansi dan otomatis kemungkinan besar akan bergelimang harta dibandingkan masyarakat yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai usaha yang besar.

Era sekarang, seseorang yang menamatkan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan kesempatan untuk merubah nasib kehidupan. Mereka lebih memiliki peluang untuk tidak terjerat dalam kemiskinan struktural yang diwariskan turun temurun.

Kelayakan hidup yang didapatkan tentunya tidak otomatis diartikan sebagai kehidupan yang bergelimang harta seperti orang kaya raya. Sebab, menjadi orang kaya tentunya harus menjalankan bisnis yang sukses dan beruntung serta tidak mengalami kebangkrutan yang mengakibatkan gulung tikar.

Fenomena ini tidak bisa dibandingkan dengan beberapa pengusaha kaya yang tidak lulus kuliah bahkan dikeluarkan dari kampus. Berapa banyak orang yang sukses tidak dari jalur pendidikan dan benar-benar sukses membangun bisnisnya mulai dari nol dan tanpa ditopang oleh orang terdekatnya.

Rasio itu harus dibandingkan dengan orang yang putus sekolah dan putus kuliah lainnya yang masih berusaha keras mencari nafkah bagi keluarganya. Banyak orang yang mendapatkan kelayakan hidup sebab dia menyelesaikan pendidikannya.

Perlu diingat bahwa negara maju memiliki indeks pendidikan masyarakat yang tinggi. Dengan hal ini, mereka bisa menghasilkan uang dari pekerjaannya dengan angka yang tinggi yang dibuktikan dengan GDP (gross domestic product) perkapita rata-rata masyarakatnya yang tinggi.

Bayangkan saja bagaimana akibat yang akan ditimbulkan jika masyarakat Nusantara masih tidak peduli dengan isu darurat pendidikan nasional. Mimpi menjadi generasi emas di 2045 akan hanya menjadi wacana yang tidak bisa direalisasikan dengan baik.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo