Masyarakat Indonesia sedang menghadapi fenomena musim yang jarang terjadi yakni kemarau basah. Kondisi kemarau basah ditandai salah satunya dengan jatuhnya air hujan di musim kemarau.
Datangnya kemarau basah menguntungkan petani karena tanaman mereka tetap hijau dan subur karena tercukupi kebutuhan airnya.
Menurut Badan Meterologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG), fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2025, diikuti masa transisi (pancaroba) pada September–November, dan musim hujan mulai Desember 2025 hingga Februari 2026.
Laman bmkg.go.id menyebutkan sebanyak 403 Zona Musim (ZOM) atau 57,7% wilayah diprediksi mulai kemarau pada April–Juni 2025, dengan Nusa Tenggara mengalami kemarau lebih awal. Secara umum, awal musim kemarau 2025 tergolong normal hingga lebih lambat dibanding rata-rata, mencakup 409 ZOM (59%).
Akumulasi curah hujan selama musim kemarau diperkirakan normal di sebagian besar wilayah. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2025, dengan waktu puncak yang cenderung sama atau lebih awal dari biasanya.
Sementara itu, durasi musim kemarau 2025 diprediksi lebih pendek dari normal di 298 ZOM (43%).
Pernah Terjadi pada 2020
Meski jarang terjadi, fenomena kemarau basah bukan baru pertama kali. Pada tahun 2020, Indonesia mengalami fenomena kemarau basah yang disebabkan oleh pengaruh La Niña dengan intensitas lemah hingga sedang. Akibatnya, beberapa wilayah seperti Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua mengalami curah hujan yang lebih tinggi dari normal selama musim kemarau.
Misalnya, di Kota Palu yang secara klimatologis rata-rata curah hujannya pada bulan Juni sampai September berkisar antara 9 sampai 17 mm per bulan, tercatat curah hujan pada periode yang sama mencapai 55 hingga 80 mm per bulan.
Data tersebut menunjukkan adanya anomali positif curah hujan yang signifikan, di mana curah hujan melebihi ambang batas normal musim kemarau, sehingga BMKG mengklasifikasikan kondisi tersebut sebagai kemarau basah. Fenomena ini biasanya ditandai dengan curah hujan yang tetap tinggi selama dua sampai tiga bulan berturut-turut di musim kemarau, disertai dengan indeks ENSO negatif dan suhu muka laut yang hangat di wilayah Indonesia.
Cara Menghadapi
Masyarakat dalam menghadapi fenomena kemarau basah tidak perlu merasa khawatir berlebihan yang akhirnya merugikan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi kemarau basah.
Berikut ini beberapa cara mengatisipasi fenomena kemarau basah yang bisa diterapkan oleh kita semua, secara mudah dan sederhana:
1. Memantau Informasi Cuaca
Agar bisa mengantisipasi kemarau basah yang tidak biasa ini, kita bisa memantau terus informasi dari BMKG agar tahu bagaimana prediksi cuaca yang akan terjadi.
2. Memperbaiki Infrastruktur
Salah satu cara untuk mengantisipasi dampak dari kemarau basah ini adalah, pihak yang terkait harus memperbaiki infrastruktur yang ada, semisal memperbaiki sistem drainase, menjaga kelancaran dan kebersihan gorong-gorong, dan terus melakukan perawatan terhadap waduk. Ini perlu dilakukan karena cuaca sudah tidak lagi bisa diprediksi secara jelas.
Pemerintah harus selalu siap sedia, kapan pun, untuk segala cuaca.
3. Siap Siaga untuk Bencana
Selain pemerintah yang harus selalu siap sedia, warga yang tinggal di daerah rawan bencana, juga harus selalu waspada, dan siap untuk evakuasi atau segera melakukan tindakan bila kondisi tak terduga terjadi. Selain mengetahui jalur evakuasi yang jelas, warga juga harus selalu mempersiapkan logistik darurat, bila saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
4. Petani Harus Adaptif
Untuk mengantisipasi kemarau basah, petani harus bisa menyesuaikan jadwal tanam dan memilih jenis tanaman yang tahan terhadap curah hujan tinggi. Petani sebaiknya menggunakan sistem drainase yang efektif agar air tidak menggenang di sawah atau ladang.
5. Edukasi Kesehatan dan Kebersihan
Hal yang sangat penting lainnya sebagai cara untuk mengantisipasi kemarau basah adalah, pihak-pihak yang terkait harus melakukan edukasi tentang menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keseimbangan alam, serta selalu menjaga kesehatan dalam kondisi cuaca apapun kepada seluruh warga masyarakat.
Editor: Kendi Setiawan


