Dark
Light
Dark
Light

Belajar dengan Cinta, Bukan Tekanan

Belajar dengan Cinta, Bukan Tekanan

Jika diajukan pertanyaan, apakah seorang guru mencintai anak didiknya? Pasti semua guru akan menjawab, “ya.” Siapa pun Anda, sebagai guru, sudah tentu mencintai anak murid yang Anda didik.

Lalu, seperti apakah wujud cinta itu? Apakah cinta itu hadir dalam praktik pelayanan pembelajaran kepada anak-anak? Seperti layaknya cinta, yang selalu menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan? Apakah belajar merupakan bentuk kesenangan, atau malah sebaliknya?

Dengan cinta, seseorang selalu diilhami oleh imajinasi, keindahan, harapan, cita-cita, kejujuran, empati, dan sejumlah kebajikan lainnya. Cinta memberi kekuatan kepada seseorang untuk menuangkan idenya menjadi karya. 

Cinta pula yang menghiasi diri Nabi Muhammad Saw sebagai pribadi yang luhur budinya. Ketika dakwahnya di Thaif berbuah hinaan, Sang Nabi senantiasa memandang jauh ke depan, bahwa kegagalan hanyalah yang tampak di permukaan. Sejatinya, suara kebenaran telah mereka dengar, dan jika bukan mereka yang menerima kebaikan itu, maka keturunan mereka masih memiliki peluang untuk memeluk agama Allah.

Cinta juga terpancar dari sikap Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah kisah, Khadijah, seorang saudagar kaya, mendampingi dakwah Sang Nabi tanpa keraguan sedikit pun. Ia tahu apa yang harus dilakukan ketika suaminya menerima wahyu pertama. Ia meyakini bahwa itulah kebenaran hakiki dari Sang Maha Suci. Suara cinta yang memperkuat dakwah Islam tanpa keraguan dan ketakutan.

Hanya cinta pula yang membalut jiwa Kristus ketika memikul salib melalui Via Dolorosa menuju puncak Golgota. Ia menanggung penderitaan tak terperikan demi menyuarakan kebenaran. Jiwa dan raganya ditindas oleh kekuasaan yang manipulatif dari Gubernur Pontius Pilatus yang lemah dan tidak cakap. Sang penguasa menutupi kesalahannya dengan menimpakan hukuman kepada Yesus.

Siddharta Gautama rela meninggalkan kemegahan istana demi mencari pencerahan. Ia melangkah ke dalam dirinya sendiri, menemukan makna hidup sejati. Ia lepaskan segala kemewahan duniawi demi kejernihan dan kesucian pikiran. Ia adalah pembawa pesan pentingnya kesadaran penuh, kesadaran akan makna kehidupan yang hakiki. Cinta pada kejernihan telah membawanya mencapai puncak pencerahan.

Cinta mewarnai hidup Mahatma Gandhi. Ia membawa negerinya merdeka tanpa mengangkat senjata. Ajaran welas asihnya menyentuh sanubari para penjajah. Kekuatan kedamaian kolektif membawa India menjadi negeri merdeka. Cinta pula yang membakar semangat Galileo. Cintanya pada ilmu pengetahuan mengoreksi keyakinan dogmatis gereja waktu itu.

Rasa cinta adalah energi pendobrak yang sangat kuat. Para pendiri bangsa Indonesia adalah orang-orang yang rela menderita dalam pengasingan oleh bangsa kolonial. Soekarno, Hatta, Sjahrir, KH Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantara, Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan lain-lain adalah tokoh-tokoh pahlawan yang patut kita hormati dengan sepenuh hati. Mereka adalah bagian penting sejarah bangsa Indonesia dalam menegakkan kebenaran dan mengusir kolonialisme.

Tokoh-tokoh hebat yang saya kemukakan adalah contoh betapa cinta mewarnai sisi hidup mereka untuk mencipta karya yang berguna bagi umat manusia. Dalam pendidikan, cinta itulah yang harus kita tanamkan pada anak murid. Cinta yang mendorong lahirnya inovasi dan karya berbudaya. Cinta yang mampu menghadirkan solusi atas masalah di masyarakat. Cinta yang menjadikan manusia seutuhnya, pribadi yang melihat “liyan” sebagai refleksi dirinya sendiri. Cinta yang memanusiakan manusia. Cinta yang mengajarkan rasa cukup atas apa yang dimiliki. Cinta yang mampu menghapus kerakusan pada kekuasaan dan harta benda. Di sanalah visi utama pendidikan: menanam dan menumbuhkan cinta pada kepribadian anak didik. Dan hanya “Guru Cinta” yang mampu menghadirkannya.

Kembali ke pertanyaan awal yang sedikit menggugat. Jika cinta, guru pastilah mampu membangkitkan murid untuk berani bermimpi. Mimpi yang bukan khayalan. Mimpi besar, visi untuk terus memperbaiki kehidupan. Agar kelestarian semesta tetap terjaga. Orang bijak berkata, tanpa manusia, alam akan terus bertumbuh. Maka, manusia perlu merawat, bukan merusaknya. Karena tanpa alam, kepunahan manusia hanyalah soal waktu. Apakah dalam keseharian anak-anak kita menunjukkan perilaku seperti itu?

Hari-hari ini, tampaknya anak-anak kita masih jauh dari memiliki mimpi besar seperti itu. Bagaimana bisa mereka memikirkan masa depan jika beban tugas begitu berat? Waktu mereka dirampas oleh tumpukan pekerjaan rumah. Setidaknya, saat ini anak-anak perlu merasa bahagia dan gembira dalam belajar, bukan terintimidasi oleh tugas-tugas yang tidak menyuburkan visi mereka. Karena mimpi besar berdiri di atas fondasi kebahagiaan, bukan tekanan dan stres dari proses belajar yang tidak menyenangkan.

Mari kita lihat kisah nyata yang saya alami. Seorang siswa kelas 5 SD sesekali menggaruk-garuk kepalanya, memegang jidatnya dengan wajah serius. Ia sedang mengerjakan soal tentang kecepatan, jarak, dan waktu. Di bukunya tertulis rumus besar: J = K × W. (Jarak = Kecepatan × Waktu). Soalnya disajikan dalam bentuk tabel. Ia diminta mengisi bagian yang kosong jika dua komponen diketahui.

Anak itu bingung karena dua hal. Pertama, ia belum lancar perkalian. Otomatis, pembagian pun masih asing. Kedua, jika diketahui kecepatan dan waktu, ia masih bisa menghitung jarak (meski tertatih). Tapi jika yang ditanya kecepatan atau waktu, ia bingung. Ia tidak paham kenapa rumusnya berubah dari perkalian menjadi pembagian. Bahkan, ia tak tahu mengapa rumusnya seperti itu.

Jujur saja, saya sendiri sempat bingung harus mulai dari mana. Persoalannya bukan sekadar memberi jawaban, tapi memahami akar masalah. Menyalahkan guru yang “asal kasih tugas” pun tidak bijak. Hal terpenting adalah bagaimana menghibur dan memotivasi anak untuk terus belajar. Bukankah tugas guru adalah menjelaskan secara sederhana, dengan bahasa yang bisa dipahami anak?

Saya kemudian meminta anak itu berdiri dan berjalan. Dengan ketukan jari sebagai penanda waktu, saya memberi aba-aba “stop” setelah lima ketukan. Ia berjalan sejauh sembilan keramik lebih sedikit. Saya ajak ia menyepakati bahwa ia telah melangkahi sepuluh keramik. Lalu saya bertanya, “Kalau kamu lanjutkan jalan seperti tadi, dan saya hitung lima ketukan lagi, berapa keramik yang akan kamu lewati?” Dengan yakin ia jawab, “Sepuluh lagi.”

Saya tanya lagi, “Kalau lima detik kamu lewati sepuluh keramik, berarti dalam satu detik kamu lewati berapa keramik?” Ia berpikir sejenak lalu berkata, “Dua.” Saya sambung, “Itulah kecepatanmu.”

Singkat cerita, anak itu akhirnya memahami konsep kecepatan. Saya hanya bantu mengisi satu soal; sisanya ia kerjakan sendiri. Yang menarik, ia bertanya, “Kok rumusnya nggak dipakai?” Saya jawab, “Karena rumusnya sudah masuk ke dalam pikiranmu. Kamu tahu siapa itu jarak, siapa kecepatan, dan siapa waktu. Jadi rumus itu hidup di kepalamu.”

Kisah ini sebenarnya lebih rumit dari yang saya sampaikan. Setelah tugas selesai pun, ia masih khawatir: “Gimana kalau gurunya nanya, mana caranya?” Mengajari anak SD dengan langsung menjejalkan rumus menurut saya adalah pengabaian terhadap nalar anak.

Dalam sebuah ceramah, Karlina Supelli pernah berkata bahwa pendidikan kita sebenarnya belum sampai ke ranah kognitif, karena terlalu berfokus pada hafalan. Dan saya kira itu benar.

Pengalaman siswa semacam ini masih banyak kita temui di sekolah-sekolah kita. Itu baru satu topik di matematika. Kebingungan seperti ini juga terjadi di pelajaran lain. Kita bisa bertanya, apakah model PR seperti itu mendorong siswa membangun imajinasi dan visi masa depan? Saya kira tidak. Tugas yang memberatkan justru bisa membelokkan anak ke pelampiasan sesaat. Dan kalau demikian, masihkah itu bisa disebut sebagai laku cinta?


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo