Dark
Light
Dark
Light

Anak-Anak Bertanya Situasi Demonstrasi, Apa yang Harus Orang Tua Ajarkan?

Anak-Anak Bertanya Situasi Demonstrasi, Apa yang Harus Orang Tua Ajarkan?

Situasi terkini terkait unjuk rasa masyarakat dan mahasiswa di sejumlah kota dan pemerintahan daerah mulai tidak kondusif. Fasilitas umum dan bangunan bersejarah menjadi sasaran amuk massa yang tengah menyampaikan aksi protes. Media sosial dibanjiri dengan informasi yang simpang siur dan tak pasti. Sebagian informasi positif, namun tak bisa dimungkiri ada informasi penggiringan yang mengarah pada tindak kekerasan. 

Peristiwa ini sungguh-sungguh memilukan. Korban jatuh dari kedua belah pihak, pengunjuk rasa atau aparat keamanan. Dari peristiwa ini kita bisa belajar, betapa sensitivitas dan rasa solidaritas sesama anak bangsa sedang diuji. Kita semua wajib menahan diri untuk tidak mengarahkan jari telunjuk kepada siapa pun yang dianggap bersalah. Sebab, di tengah kondisi semacam ini, salah mengkomunikasikan pesan dapat berdampak buruk bagi banyak pihak. 

Di tengah-tengah situasi yang memprihatinkan ini, orang tua tak boleh abai pada keingintahuan anak-anak. Anak-anak memiliki dunianya sendiri yang penuh dengan kegembiraan. Namun, peristiwa besar yang mengundang keprihatinan ini pasti akan melintas menjadi bagian yang ia dengar dari berbagai platform media sosial. Peristiwa yang di dalamnya banyak sekali tindakan kekerasan tentu akan mengusik ruang tanya yang ada pada dunia anak-anak. 

Respons seperti apa yang seharusnya kita berikan kepada anak-anak ketika mereka menanyakan beberapa topik yang mengarah pada peristiwa demonstrasi besar ini?

Berikut ini 5 cara agar anak mampu mengelola informasi yang diperoleh dengan baik. 

1. Tanyakan lebih dahulu apa yang mereka ketahui
Pertanyaan tentang hal apa yang sudah anak-anak ketahui menjadi poin penting agar kita tahu sejauh mana anak-anak telah terpapar informasi. Dengan itu, kita bisa memilah mana informasi yang benar dan mana yang tidak.

Di samping itu, kita juga dapat memperhitungkan secara terukur, cara berkomunikasi dengan anak-anak sesuai dengan perkembangan emosi di usianya yang belia itu. 

Tunjukkan kepada mereka mana informasi yang merupakan fakta dan mana yang keliru. Dari sini, anak-anak akan belajar rasa tanggung jawab.

Dalam hal ini anak-anak belajar memahami bahwa informasi yang keliru dapat mengakibatkan orang lain mengarah pada persepsi lain. Sehingga, ketika kita ingin menyampaikan informasi tertentu, mengecek sumber-sumber yang valid adalah bagian dari tanggung jawab yang harus ada pada diri kita. 

2. Tanyakan bagaimana perasaan anak-anak
Sangat penting bagi anak-anak untuk mengenal emosi yang mengemuka dari dalam dirinya, apakah gembira, sedih, tidak nyaman, empatik, dan lain-lain.

Sejak dini anak-anak perlu dilatih memvalidasi sendiri apa yang mereka rasakan di lubuk hatinya saat sebuah peristiwa tampak di depan matanya. Anak-anak tanpa bekal pembelajaran validasi emosi memiliki kecenderungan tempramental dan kerap bertindak impulsif. 

Menanyakan perasaan anak-anak juga perlu disertai rasa penerimaan tanpa penghakiman agar anak-anak tetap rileks menghadapi persoalan yang sedang melanda perasaannya. Misalnya, ketika anak telah jujur mengakui perasaannya adalah marah, kita malah menghakiminya, "Kayak gitu saja marah."

Penghakiman ini menjadi anak semakin menjauh dan justru mengalami kebingungan emosi. Seharusnya kita menyampaikan, "Baiklah, ekspresi kamu adalah wajar, apa kiranya yang ayah atau bunda bisa bantu?"

3. Tanyakan bagaimana menurut pendapat anak-anak
Anak-anak selalu memiliki segudang gagasan murni yang lahir di atas pemikiran netral tanpa kepentingan pragmatis seperti orang dewasa. Ini kesempatan untuk menggali lebih dalam pengetahuan dan keterikatan anak pada isu yang terjadi.

Penyikapan mereka terhadap situasi yang terjadi menjadi proporsional sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Pendapat anak-anak perlu dikuatkan jika positif dan harus segera diluruskan jika jauh dari substansi yang mengarah pada hal negatif. 

Namun begitu, pandanglah pendapat anak-anak sebagai sebuah karya berpikir yang wajar. Jangan mengajaknya untuk menentukan pilihan agar sama dengan pilihan kita yang dewasa. Tetaplah adil dalam menatap kepolosan anak-anak yang mempunyai ruang pemikiran merdeka. 

4. Berikan informasi yang benar
Sebagai orang tua, jadilah jujur. Gunakan segala sumber informasi yang patut dipercaya. Orang tua harus berdaya menentukan mana fakta yang benar dan mana opini yang hanya kosong dan menyesatkan.

Protes kita terhadap pejabat yang kurang memiliki kepekaan sosial tidak perlu diperlihatkan secara fulgar kepada anak-anak. Berikan kesempatan kepada anak-anak untuk melihat dengan kaca mata pribadinya. Ajaklah sesering mungkin jika ia mendapatkan informasi terbaru agar mau berbagi dengan oran tuanya. 

Apa yang terjadi sekarang ini dapat menjadi hikmah bersama bahwa hidup adalah sebaik-baiknya kita mau berbagi dan menerima perbedaan dalam beragam bentuk. Anak-anak anda adalah bagian tidak terpisahkan dari arus zaman yang riuh oleh informasi dari segala arah. Orang tua mesti berbekal kemampuan mengelola ini agar anak-anak tidak terjebak pada alur kebencian karena perbedaan. 

5. Sampaikan informasi secara runut dan apa yang harus dilakukan
Ketenangan orang tua dalam menyampaikan kebenaran adalah landasan yang baik agar anak-anak mudah memahami maksudnya. Hilangkan kehendak untuk mengajak anak mengikuti kecenderungan pemikiran kita.

Tanpa rasa tenang itu, orang tua akan mudah terkecoh oleh emosi pribadi. Alih-alih memberikan banyak pilihan positif kepada anak-anak, bisa jadi malah sebaliknya, anak menggugat keberpihakan pemikiran kita. 

Dengan rasa tenang, Anda akan mudah menjelaskan secara runut apa yang sebenarnya terjadi. Lalu berikan jalan pilihan yang masuk akal bagi anak-anak untuk memahami informasi tersebut. Diskusikan bersama apa yang sebaiknya dilakukan. Buatlah bersama daftar solusi-solusi bermakna yang bisa dilakukan segera dan nyata.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo