Dark
Light
Dark
Light

KKN Moderasi, IAIN Papua, dan Kisah para 'Penghibur'

KKN Moderasi, IAIN Papua, dan Kisah para 'Penghibur'

Oleh: Ade Yamin
Masalah lain yang lebih pelik dari sekedar pemaksaan dan pemerataan adalah adanya fenomena batu loncatan atau numpang lewat yang terjadi di PTKIN dengan sangat jelas merontokkan dsecara sistematis pilar kekokohan sebuah perguruan tinggi.

Di IAIN Papua, Fenomena 'batu loncatan' dan 'numpang lewat' bukanlah isapan jempol atau pepesan kosong belaka. Sejak diresmikan oleh Menteri Agama pada bulan oktober tahun 2005 hingga tahun 2024 ini, tercatat sedikitnya 2 dosen dengan gelar Magister dan 8 dosen dengan gelar Doktor di bidang Keagamaan telah 'pulang kampung'. Konon katanya akan menyusul eksodus doktor lainnya. Usulan mereka konon sudah sampai di kampung masing masing, meninggalkan IAIN Papua yang katanya ladang fisabilillah itu. 

Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka yang pulang kampung adalah mereka yang telah diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi yang di antaranya dibiayai dengan anggaran milik IAIN Papua. Namun, setelah disekolahkan hingga jenjang tertinggi, diberi kesempatan lebih untuk menduduki posisi-posisi strategis di kampus maupun di masyarakat, mereka kemudian pulang kampung dengan beribu alasan. Akhirnya lahir satu kesimpulan prematur, bahwa ternyata mereka itu semua sejak semula hanyalah menjadikan IAIN Papua itu batu loncatan dan numpang lewat saja di Papua demi posisi yang lain di daerah asalnya.

Eksodus para dosen ini kemudian secara langsung melahirkan tanda tanya besar: Begitu kekurangankah dengan ahli agama, sehingga harus melucuti sumber daya saudara mudanya (itu pun kalau dianggap saudara) yang merupakan penjaga pintu depan bangsa Indonesia ini?

Jika harus di tulis secara sarkas, maka apa yang dialami oleh IAIN Papua ini sebenarnya ibarat para penghibur syahwat yang hanya dibutuhkan untuk pemenuhan hasrat sesaat, kemudian ia ditinggalkan, untuk tetap dipandang sebagai penghibur yang keberadaannya hanyalah sebagai tempat pelampiasan.

Tengoklah sesaat apa yang dialaminya saat ini, sepi peminat, kehilangan sumber daya dosen ahli, kekurangan energi (BOPTN yang rendah). Namun dalam berbagai perspektif, ia disetarakan dengan para raksasa perguruan tinggi keagamaan yang ada, padahal secara jujur harus diakui bahwa IAIN Papua itu ibarat bayi yang sedang mengalami Stunting saat ini. 

Lantas apa hubungan antara IAIN Papua dan kisah para penghibur dengan KKN Moderasi yang ada di Cigugur Kuningan Jawa Barat saat ini? Bukankah uraian tentang kondisi IAIN Papua tak memiliki korelasi langsung dengan moderasi beragama? Ya, secara langsung konektivitas itu tidak tampak. Namun, apa yang dialami oleh IAIN Papua saat ini adalah contoh yang baik untuk mengelola moderasi di Indonesia. Penyeragaman terhadap paham moderasi itu memiliki potensi untuk melucuti aneka warna kehidupan masyarakat Indonesia yang memang memiliki sejarah, filosofi, karakter, geografi dan kebudayaan berbeda.

Seharusnya, setiap daerah dipandang dan diberdayakan sesuai dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki tanpa harus takut dan minder akibat harus bersaing dengan para babon PTKIN, karena ia memiliki satu keunggulan kompetitif yang dapat memperkuat kemajemukan bangsa Indonesia. Itu bermakna bahwa PTKIN dan moderasi itu ibarat satu koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Keberhasilan mengelola PTKIN dan keragaman di dalamnya harus paralel dengan keberhasilan dalam mengelola perbedaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, KKN Moderasi merupakan satu jalan di antara banyak jalan yang dapat ditempuh untuk mewujudkan semangat moderasi itu sendiri.

Jayapura-Jakarta-Cirebon-Kuningan, merupakan jalan melingkar panjang yang harus ditempuh oleh dua mahasiswi IAIN Papua, untuk menyelami luasnya keragaman bangsa Indonesia, lewat perjumpaan dengan kebudayaan lain di Kecamatan Cigugur. Mungin tak ada hal istimewa yang mereka bawa dan dapat tunjukkan kepada khalayak.

Mungkin tak ada juga prestasi mentereng yang mereka berdua dapat pamerkan, juga tak ada keahlian khusus yang dapat ditularkan agar mereka memiliki sedikit nama. Fifin Iba dan Wandaruni Iha hanya membawa diri mereka apa adanya, merupakan potret hidup anak-anak Papua, yang lahir dari kesederhanaan, tetapi sejatinya perbedaan merupakan bangunan kehidupan yang telah disemaikan dalam diri sejak dari buaian, hingga ke liang lahat.

Anak-anak Papua mungkin berbeda dan memang berbeda. Anak-anak Papua memang kurang dan serba kekurangan. Anak- anak Papua juga mungkin lemah dan sangat lemah. Namun, anak-anak Papua memiliki kebudayaan yang telah menjaga mereka untuk tetap rukun dan damai, dengan meletakkan adat dan keluarga, di atas semua kepentingan golongan maupun agama.

Bagi anak-anak Papua, keluarga adalah segala-galanya, sebagaimana kami menganggap PTKIN lain di indonesia sebagai keluarga kami dan Kementerian Agama sebagai orang tua kandung. Semoga kami tidak dilupakan dan tidak terus dilemahkan.

Ade Yamin, Penangungjawab LPPM IAIN Fattahul Muluk Papua.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo