Dark
Light
Dark
Light

Cerita Arkaan Harumkan Indonesia di Prancis Berkat Ekosistem MAN 2 Kota Malang

Cerita Arkaan Harumkan Indonesia di Prancis Berkat Ekosistem MAN 2 Kota Malang

'Kota Pendidikan' tersemat di salah satu kota di Jawa Timur ini. Selain banyaknya kampus-kampus negeri dan swasta, pun juga sekolah-sekolah yang mampu menelurkan siswa-siswi maupun santri berprestasi baik di kancah nasional bahkan internasional.

MAN 2 Kota Malang contohnya. Banyak siswa-siswi yang mengharumkan sekolah hingga tingkat internasional. Muhammad Dakita Arfa Alfaritsi (Arfa) dan Arkaan Javier (Arkaan) sukses pulang dengan dua penghargaan pada International Physics Olympiad (IPhO) 2025 beberapa bulan lalu.

Sebagai informasi, Arkaan Javier tidak sendiri dari Indonesia. Empat rekannya juga menyabet penghargaan. Muhammad Dakita Arfa Alfaritsi yang juga dari MAN 2 Kota Malang meraih medali perunggu.

Kemudian Daffa Virwandy dari SMAN 17 Palembang menyabet medali perunggu. Muhammad Rakha Naufal Maulana asal SMAN 1 Kota Serang juga menyabet medali perunggu. Terakhir ada Gusti Komang Abhika Atmaja dari SMA Kesatuan Bangsa Yogyakarta juga mendapatkan predikat honrable mention (HM).

International Physics Olympiad (IPhO) adalah kompetisi fisika internasional paling bergengsi bagu siswa sekolah menengah. Tujuan penting IPho yaitu menguji pengetahuan, keterampilan analitis, berpikir kritis, memecahkan masalah. Lalu kompetensi dalam fisika teoritis sekaligus eksperimental ke level tertinggi.

Arina.id berkesempatan mengulik perjalanan Arkaan Javier awal Oktober 2025 ini. Remaja asli Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ini mengisahkan ekosistem yang dibangun di MAN 2 Kota Malang sangat mendukung baik akademik maupun non akademik.

Dukungan Madrasah
"MAN 2 Kota Malang benar-benar perhatian. Kalau sekolah lain itu mungkin susah sekali buat izinnya kalau di MAN 2 Kota Malang ada lomba itu gurunya langsung turun memberikan support," beber Arkaan Javier, Rabu (8/10/2025).

Tak hanya itu, sekolah dalam pembelajarannya juga mengnggunaan sistem SKS, kurikulum sesuai KMA dan Permendikbud, pembelajaran berbasis teknologi (e-learning, zoom meeting).

Ditambah program magang global, bimbingan TOEFL, pengembangan kompetensi 4C (Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration), serta kegiatan olimpiade dan riset untuk siswa berpotensi sangat mendukung.

"Apalagi kakak kelas juga banyak yang berprestasi dan mereka berpengalaman membantu (adik kelas) berprestasi. Makanya ekosistem sangat menunjang kami. Terlebih ada laboratorium di MAN 2 kota malang fasilitasnya memang yang lengkap sekali," akunya.

Arkaan mengaku awalnya ketika duduk di bangku MTsN suka bidang pelajaran Matematika. Lalu, ia mengulik informasi orang yang jago Matematika sehinhga membuatnya inspiratif.

Akan tetapi, itu tak bertahan lama. Arkan dengan ilmu eksak merasa kesusahan. Akhirnya dirinya mencari yang dekat dekat dengan matematika namun jauh lebih mudah.

"Akhirnya saya putuskan yaitu fisika. Disitu saya mulai suka fisika," terangnya.

Proses yang panjang
Arkaan sendiri dalam berproses mengaku tidak mudah. Beberapa kali gagal dalam olimpiade membuatnya tidak mudah menyerah namun semakin belajar dari kesalahan.

Dirinya menambahkan ajang bergengsi itu adalah ajang internasional ini berlangsung di Paris, Perancis, 18–24 Juli 2025 silam. Arfa meraih medali perunggu, sedangkan Arkaan mendapatkan Honorable Mention (HM).

Arfa dan Arkaan sebelumnya sukses meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2024 bidang Fisika. Usai melalui seleksi ketat dan pembinaan intensif, keduanya lolos Pelatnas Tahap 2.

Keduanya menjadi peserta mengerucut menjadi 10 peserta terbaik se-Indonesia. Alhasil, pada akhirnya masuk tim inti 5 besar nasional yang mewakili Indonesia di IPhO 2025.

Dikatakannya, proses mengikuti olimpiade sangat panjang. Mulai dari tingkat kota, provinsi dan nasional. Saat itu sejak kelas 10 sudah mempersiapkan diri, karena di MAN 2 Kota Malang sudah harus memilih satu fokus bidang ilmu olimpiade.

"Pas daftar tingkat kota dan provinsi itu kelas 11. Lalu, untuk yang olimpiade nasional dan internasional itu kelas 12," jelasnya.

Dirinya mengaku peserta yang ikut dari berbagai negara dunia. Ia bersama tim dari Indonesia harus bersaing dengan 405 siswa dari 92 negara.

Tahun ini, peserta IPhO meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 kemarin. 

"Pesertanya setiap negara mengirimkan 4 sampai 5 perwakilan satu tim. Total ada ratusan yang pasti," tambahnya.

Remaja yang baru saja masuk kuliah di Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan dukungan dari guru, pembimbing serta orang tua cukup berarti. Meski jauh dari orang tua, namun tetap mendapatkan motivasi. Karena ia tidak tinggal di rumah, jarak MAN 2 Kota Malang dengan rumahnya belasan kilometer.

Pembimbing Olimpiade pun menurut Arkaan juga telaten memberikan latihan soal-soal dan arahan. Dengan begitu, para siswa bisa menangkap materi dengan cukup baik serta mudah dimengerti.

"Pembimbing saya dan di sekolah juga berpengalaman. Sehingga ekosistem yang ada di MAN 2 Kota Malang dan fasilitasnya mendukung," tegasnya.

Lolos di Universitas Indonesia melalui jalur tes tulis internasional ia mengaku banyak persiapan yang dilakukan termasuk giat belajar, akan tetapi tidak diforsir secara berlebihan. Hal yang paling penting selama sebelum mengikuti lomba ada tambahan hampir di luar jam sekolah. 

"Minimal 20 menit (belajar). Saya rasa 1 atau 2 soal per hari itu sudah cukup untuk mempersiapkan lomba-lomba. Asalkan konsisten," imbuhnya.

Membagnun percaya diri
Ditanya adakah hikmah dari torehan prestasi ini, Arkaan mengungkapkan secara tidak langsung membangun percaya diri dan akademiknya. Ia pun bisa lebih mudah dalam menggapai cita-cita dan terus berproses dan berkembang. 

"Setelah itu saya dari juga membangun percaya diri. Bahwa apa pun yang kita kerjakan dengan serius pasti ada kemungkinan untuk kita berhasil. Sehingga saya lebih pede untuk mengambil keputusan yang menantang sekali," katanya.

Dia berpesan kepada adik-adik angkatan di MAN 2 Kota Malang serta di seluruh Indonesia, mahasiswa baru Teknik Elektro Universitas Indonesia ini menerangkan baik di akademik maupun non akademik agar terus menggapai cita-cita. 

Pesan pertama adalah harus semangat. Kedua, mewanti-wanti agar tidak takut terlalu takut untuk mengambil risiko.  Sebab, kata dia, segala risiko yang diambil dengan pertimbangan yang matang, akan membuat semakin bijaksana dan menambah pengalaman.

"Karena siapa tahu risiko yang kita ambil itu bisa memperbaiki kita juga bermanfaat, karena ketika kita suatu hal yang yang diinginkan pasti kita akan berkembang untuk membuahkan yang kita inginkan," paparnya.

Madrasah berdaya saing
Terpisah, Kepala MAN 2 Kota Malang, Samsudin dalam keterangannya menaruh rasa syukur dan mengapresiasi pencapaian membanggakan kedua siswa ini.

Menurutnya torehan prestasi internasional yang diikuti Arfa dan Arkaan menjadi bukti konkret bahwasannya peserta didik madrasah bisa bersaing di kancah internasional. Sekolah dibawah naungan Kementerian Agama RI tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain di luar.

"Ini tidak lepas dari kerja keras anak-anak kita, pembinaan yang berkesinambungan, serta kolaborasi semua pihak di madrasah," papar Samsudin dikutip, Rabu (8/10/2025).

Samsudin tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika MAN 2 Kota Malang, serta Komite Madrasah, serta para guru pembina yang terlibat dalam pembinaan prestasi, terlebih bidang sains.

Senada, Ketua Olimpiade dan Riset MAN 2 Kota Malang, Wulaidah mengatakan kesuksesan ini melalui sebuah proses panjang sejak kelas X, yaitu dimulai sejak pembinaan rutin mingguan, try out, sanpai karantina intensif menjelang OSN hingga Pelatih Nasional (Pelatnas).

"Arfa dan Arkaan merupakan anak-anak yang sangat gigih dan tidak mudah menyerah. Mereka layak memperoleh penghargaan ini. Kami bangga dan siap mendampingi peserta didik lain untuk mengikuti jejak mereka," papar Wulaidah.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo