Dark
Light
Dark
Light

Hari Anak Sedunia: Hancurnya Impian Anak-anak Palestina

Hari Anak Sedunia: Hancurnya Impian Anak-anak Palestina

Sejak meletusnya perang antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas, ribuan nyawa anak-anak melayang. Alih-alih memperingati Hari Anak Sedunia pada 20 November lalu, anak-anak Palestina yang “beruntung” selamat dari serangan Israel harus bersusah payah mencari tempat berlindung.

"Di saat anak-anak di seluruh dunia merayakan Hari Anak Sedunia, impian anak-anak Palestina justru hancur akibat tindakan penduduk Israel," Demikian rilis resmi dari Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina sebagaimana dilansir dari kantor berita WAFA.

Ia mengatakan bahwa peringatan Hari Anak Sedunia tahun ini menjadi saat-saat memilukan bagi ribuan anak Palestina karena kehilangan kehidupan, hak, rumah, sekolah, dan impian. Semua itu dihancurkan oleh rezim pendudukan ilegal Israel. Mereka menyaksikan bagaimana kekuatan digunakan dengan semena-mena dan berlebihan. Pemandangan tragis yang tidak seharusnya dilihat oleh anak-anak mengakibatkan penderitaan dan trauma berkepanjangan.

“Selama enam minggu terakhir, serangan mematikan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 5.500 anak-anak, sementara ribuan lainnya masih berada di bawah reruntuhan dan diperkirakan tewas,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, kekerasan struktural dan sistemik terhadap anak-anak adalah simbol dari penjajahan, perampasan, dan apartheid yang terus-menerus dilakukan oleh rezim pendudukan ilegal. Masa depan anak-anak akan kehidupan yang bermartabat, aman, dan damai kini hilang dalam sekejap.

“Negara Palestina akan terus mengambil langkah tegas untuk melindungi dan membela martabat, hak, dan kehidupan anak-anak Palestina, termasuk mencari pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang dilakukan terhadap anak-anak," ucap Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, Riyad Al-Maliki.

Dalam kaitannya dengan memperjuangkan perdamaian bagi anak-anak Palestina, pemerintah Palestina telah menyerukan kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk memasukkan pasukan Israel dan milisi pemukim Israel ke dalam daftar pihak-pihak yang melakukan pelanggaran berat yang berdampak pada anak-anak dalam situasi konflik bersenjata.

“Lebih jauh lagi, negara Palestina menyerukan kepada semua negara, khususnya negara-negara Pihak Peserta Agung (High Contracting Parties) pada Konvensi Jenewa untuk mengambil tindakan efektif guna mengakhiri agresi militer yang sedang berlangsung terhadap anak-anak Palestina, termasuk dengan menahan pejabat pemerintah, komandan militer, dan pasukan Israel, serta para pemukim yang bertanggung jawab atas pelanggaran berat dan kejahatan keji terhadap anak-anak Palestina.” pungkasnya.

Keadaan Anak-Anak Palestina

Dilansir The Conversation, jumlah anak-anak di Gaza yang meninggal pada bulan Oktober lalu melebihi jumlah total anak-anak yang terbunuh setiap tahunnya sejak tahun 2019. Hal ini menyebabkan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut Gaza sebagai "kuburan bagi anak-anak".

Pertempuran antara Hamas dan Israel menyebabkan sejumlah sekolah ditutup dan pergerakan antar kota sangat dibatasi. Menurut pengarahan UNICEF kepada Dewan Keamanan PBB, eskalasi yang terjadi baru-baru ini dapat menyebabkan “trauma yang berlangsung seumur hidup” bagi anak-anak di Palestina dan Israel. Namun, bahkan sebelum konflik Hamas-Israel terjadi, dampak konflik berkepanjangan yang dialami anak-anak Palestina sudah terlihat jelas.

Sejak tahun 2019 hingga tahun 2022, Gutteres memimpin sebuah penelitian yang mengeksplorasi kesejahteraan anak-anak di Gaza, Yerusalem Timur, dan Tepi Barat. Ia bekerja sama dengan Dewan Pengungsi Norwegia dalam menyurvei sekitar 800 anak-anak dan guru. Penelitian itu menemukan bahwa anak-anak merasa tidak aman sepanjang waktu dan tidak mampu menenangkan diri ketika dilanda rasa takut.

Tidak aman sepanjang waktu

Partisipan anak-anak di Gaza yang terlibat dalam penelitian Gutteres mengalami setidaknya tiga kali operasi militer Israel berskala besar. Dikarenakan blokade Israel kala itu berlangsung sangat lama, anak-anak tumbuh dalam kondisi kerawanan pangan dengan pasokan listrik dan air minum yang tidak memadai. Selain itu, penelitian juga mendapati sebagian besar pengasuh anak menganggur, sehingga tidak sedikit anak-anak yang rentan terhadap kondisi kehidupan yang buruk dan kekerasan dalam rumah tangga.

Kendati demikian, survei pada tahun 2019 menunjukkan anak-anak di Gaza memiliki ketahanan yang luar biasa. Sebanyak 80% dari mereka merasa bahwa keadaan akan lebih baik di masa depan. Keberhasilan yang mereka raih di sekolah menawarkan harapan untuk menemukan jalan keluar dari kerasnya kehidupan mereka. Sayangnya, pada tahun 2022 keadaan berubah secara signifikan. Sebab, lockdown akibat Covid-19 yang diikuti dengan meningkatnya angka kekerasan pada musim semi tahun 2021 hanya memberikan 20% dampak positif terhadap masa depan anak-anak.

Agresi militer Israel dan kekerasan yang dialami anak-anak di rumah menurunkan kepercayaan mereka untuk bercita-cita, berharap, dan bermimpi akan hari esok yang lebih baik. Perasaan itu digambarkan oleh sekelompok anak laki-laki dalam sebuah cerita yang ditulis bersama:

“Kita tetap takut akan masa depan dan tidak mempercayainya akan memberi kita lebih banyak harapan. Kita tidak bisa melupakan peristiwa yang telah kita lalui dan merasa tidak aman sepanjang waktu.”

Tidak mampu menenangkan diri ketika dilanda rasa takut

Hal yang sama juga dialami oleh anak-anak di Tepi Barat ketika mereka kedatangan pemukim dan militer Israel di wilayah mereka. Anak-anak yang disurvei di bagian Hebron -yang berada di bawah kendali militer Israel- (Hebron H2) dan di Yerusalem Timur menghadapi pembatasan harian ketika hendak pergi ke sekolah dan pulang dari sekolah. Banyak dari mereka yang harus melewati pos pemeriksaan militer dan mengalami pelecehan di sana.

Dengan adanya pandemi Covid-19, anak-anak merasa sedikit ada kelonggaran dari kegiatan bepergian yang “biasanya” mereka lakukan sehari-hari. Sekelompok gadis yang tinggal di Hebron H2 menulis:

"Jalanan saat itu tenang dan sunyi, dan tidak ada konflik yang biasa terjadi antara kami dan para tentara."

Namun, ketika sekolah kembali dibuka pasca pandemi, ketegangan dan kekerasan di Tepi Barat justru meningkat. Hal itu disebabkan pesatnya perluasan pemukiman Israel di tanah Palestina. Serangan-serangan yang dilancarkan ke sekolah dan lingkungan sekitar juga meningkat.

Di wilayah yang terdampak cukup parah, survei mencatat penurunan kesejahteraan anak-anak secara signifikan, terutama dalam kemampuan mereka menenangkan diri ketika dilanda ketakutan dan memikirkan solusi dari ancaman-ancaman yang mereka hadapi setiap hari. Di sebuah sekolah di luar Yerusalem, sekelompok gadis menulis:

"Setiap kali ada insiden, dilakukan pemogokan dengan menutup sekolah kami lagi dan kami dikembalikan untuk belajar rumah, yang mana kami tidak suka. Kami frustasi, tertekan, dan marah dengan situasi ini."


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo