Dark
Light
Dark
Light

Mengenal Kiai Abdul Chalim Leuwimunding, Pahlawan Nasional Pendiri NU

Mengenal Kiai Abdul Chalim Leuwimunding, Pahlawan Nasional Pendiri NU

Gelar Pahlawan Nasional disematkan secara resmi oleh negara kepada orang-orang terhormat yang berjasa dan berkontribusi besar kepada bangsa. Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, deretan nama yang memperoleh gelar penghargaan itu bertambah. Salah satu nama baru yang kini termuat dalam daftar Pahlawan Nasional adalah KH. Abdul Chalim.

KH. Abdul Chalim atau dikenal dengan KH. Abdul Chalim Leuwimunding adalah satu dari belasan tokoh agama yang mendirikan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Ia lahir di Leuwimunding, Majalengka pada 22 Juni 1898. Kiai Chalim adalah putra semata wayang pasangan suami istri Kedung Wangsagama dan Nyai Satimah. Dilansir dari NU Online, nasab Kiai Chalim dari pihak ayahnya bertemu dengan penyebar agama Islam di Nusantara, yakni Sunan Gunung Jati.

Dalam buku berjudul Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab disebutkan bahwa Kiai Chalim menikah empat kali dan memiliki 16 orang anak. Pernikahan pertamanya dengan Nyai Hj. Nur dikaruniai seorang putri bernama Siti Rahmah. Setelah itu ia menikah dengan Nyai Mahmudah dan memiliki tujuh orang anak, yakni Nyai Hj. Chomsatun, Nyai Hj. Mafruchat, Agus Hafidz Qawiyyun, Nyai Rofiqoh, H. Ahmad Mustain, Nyai Nashihah, dan Mustahdi Chalim. Kemudian, Kiai Chalim menikah dengan Nyai Siti Qana'ah, perempuan asal Plered, Cirebon. Sama seperti sebelumnya, dari pernikahannya yang ketiga ini Kiai Chalim juga memiliki tujuh orang anak. Ketujuh anaknya tersebut adalah Nyai Humaidah, Nyai Muntafiah, Nyai Hudriah, H. Mustafid Chalim, Nyai Farikhah, Nyai Halimah, dan KH. Asep Saefuddin Chalim. 

KH. Asep Saefuddin Chalim adalah pendiri sekaligus pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto. Selain itu ia juga menjabat sebagai Ketua Umum organisasi Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama). Adapun istri terakhir Kiai Chalim adalah Nyai Hj. Siddiqoh, keduanya dikaruniai seorang putri bernama Siti Halimah. Namun, ananda Siti Halimah wafat ketika usianya masih cukup muda.

Pendidikan dan Pertemuan dengan Ulama Nusantara

KH. Abdul Chalim memulai pendidikan formalnya dengan bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Cirebon. Dari sekolah Belanda itu, ia dibekali kecakapan dalam berbahasa Belanda dan Arab yang sangat baik. Setelah menamatkan sekolahnya di HIS, Kiai Chalim melanjutkan pendidikannya dengan mondok di sejumlah pesantren di Cirebon, seperti di Banada, Trajaya, Rajagaluh, Kedungwuni, Babakan, dan Kempek. 

Saat usianya mencapai enam belas, ia berkesempatan untuk berangkat ke tanah suci. Tidak hanya bertujuan menunaikan ibadah haji, Kiai Chalim juga pergi ke Hijaz untuk menuntut ilmu. Ia menghabiskan waktunya di sana selama dua tahun dengan berguru kepada ulama-ulama tersohor, di antaranya Abu Abdul Mu'thi, Syekh Ahmad Dayyat, dan Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani atau yang lebih dikenal dengan Imam Nawawi Banten.

Semasa belajar di Hijaz, Kiai Chalim bersua dan berkenalan dengan banyak ulama Nusantara. Salah satu ulama yang menjadi sahabat karib sekaligus gurunya adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah Jombang. Kedekatannya dengan Kiai Wahab tertuang dalam buku bertajuk Karisma KH Abdul Chalim, Pendiri NU dan Pahlawan Republik yang Rendah Hati oleh Djoko Pitono dan Achmad Lazim Suadi. Sembari menuntut ilmu dan memperluas relasi, Kiai Chalim juga bergabung dengan organisasi Sarekat Islam (SI) Hijaz. Sebagai informasi, Sarekat Islam adalah perkumpulan para ulama Nusantara yang menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda.

Pada tahun 1914, Kiai Abdul Chalim menyelesaikan studinya di tanah Hijaz dan kembali ke Indonesia. Sesampainya di Majalengka, ia membantu orang tuanya bekerja dan banyak menghabiskan waktu dengan tadabur alam. Ia juga bekerja sebagai juru tulis di Kawedanan, Leuwimunding selama beberapa tahun. Di akhir tahun 1921, Kiai Chalim mengundurkan diri dari pekerjaannya dan bertolak ke Batavia. Di sana ia bekerja sebagai buruh gerbong kereta Kramat Jati dan mengajar ngaji anak-anak. Kiai Chalim hanya tinggal sebentar di Batavia, setelah itu ia kembali lagi ke Majalengka bertepatan dengan wafatnya ayahanda pada 1922.

Di tahun yang sama, Kiai Chalim memutuskan melakukan pengembaraan dari Leuwimunding menuju Surabaya untuk menemui teman-temannya. Perjalanan panjang yang ia tempuh dengan berjalan kaki ini memakan waktu empat belas hari. Kiai Chalim sempat menginap di Pesantren Tebuireng Mojokerto dan bertemu KH. Amin Praban. Atas bantuannya, Kiai Chalim pun dapat bertemu dengan sahabatnya, Kiai Wahab Jombang di Surabaya. Ia kemudian diamanahi oleh Kiai Wahab untuk menangani kegiatan administrasi Nahdlatul Wathan dan menjadi pengajar di lembaga tersebut bersama ulama lainnya. Melalui lembaga inilah kemudian Kiai Chalim turut berperan dalam melahirkan kader-kader penerus bangsa. Selain itu, ia juga secara aktif terlibat dalam organisasi Taswirul Afkar, Komite Hijaz, dan pendirian NU.

Bergabung dengan Nahdlatul Ulama

Pada tahun 1926, KH. Abdul Chalim bersama dengan Kiai Wahab dan ulama lainnya bekerja sama mewujudkan keinginan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU. Ketika organisasi Islam itu berhasil dibentuk pada 31 Januari 1926, ia dipercaya membantu Kiai Wahab (Katib Awal) dengan mengisi jabatan Katib Tsani (wakil katib) dalam jajaran Syuriyah. Kiai Chalim menduduki posisi tersebut hingga kepengurusan tahun 1928. Baru setelahnya pada Muktamar ke-3 NU, ia diamanahi menjadi salah satu a’wan Syuriyah. Tidak hanya itu, Kiai Chalim juga mendapat kepercayaan para Kiai NU untuk menjadi bagian dari sembilan tokoh khusus Lajnah Nashihin. Diketahui, Lajnah Nashihin merupakan institusi yang berupaya merangkul ulama-ulama pesantren untuk memperjuangkan kemerdekaan tanah air dan mengembangkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Semasa menjabat sebagai a’wan Syuriyah dan Lajnah Nashihin, Kiai Chalim disibukkan dengan berbagai aktivitas dalam upaya mengembangkan NU. Ia sempat menjadi redaktur Swara Nahdlatoel Ulama dan Ketua Konsul NU Jawa II. Kiai Chalim juga mendirikan Koperasi Kaoem Moeslimin dan turut terlibat dalam mendirikan cabang-cabang NU di Jawa Barat. Pada tahun 1944, Kiai Chalim membentuk laskar Hizbullah cabang Majalengka bersama dengan KH. Abbas Buntet Cirebon. Ketika Hadratussyekh Kiai Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, Kiai Chalim dengan gagah dan berani memimpin pasukan Jawa Barat-Majalengka-Cirebon maju membasmi penjajah.

Tercatat dalam buku Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab bahwa Kiai Chalim pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan sementara, yakni menjadi anggota MPRS hingga pemerintahan definitif terbentuk. Pada tahun 1955, Kiai Chalim menjabat sebagai anggota DPR dari Partai NU mewakili Jawa Barat. Sejak saat itu, ia mulai berfokus pada kesejahteraan masyarakat Jawa Barat dengan membentuk PERTANU (Perkumpulan Petani NU) dan PERGUNU (Perkumpulan Guru NU), yang kini dilanjutkan oleh anaknya, K.H. Asep Saefuddin Chalim. Tidak hanya itu, Kiai Chalim juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan formal Nahdlatul Ulama di Jawa Barat.

Pada tahun 1972, tepatnya tanggal 11 April, Kiai Chalim menghembuskan napas terakhirnya seusai menunaikan salat. Dikutip dari NU Online, sebelum wafat Kiai Chalim berwasiat agar selalu menjalin persaudaraan, mencintai tanah air, menimba ilmu dan selalu bertindak demi kemaslahatan umat. Pahlawan Nasional ini dimakamkan di Komplek Pesantren Sabilul Chalim Leuwimunding, Majalengka, Cirebon, Jawa Barat.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo