Penghentian kerja Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala timnas Indonesia meninggalkan kesedihan bagi penggemar Tim Garuda. Pun demikian dengan yang terjadi lebih dari 60 tahun silam, saat Tony Pogacnik mundur selepas gagal membawa Indonesia meraih medali emas pada Asian Games di Jakarta, pada 1962.
Pria asal Yugoslavia itu kemudian memilih tinggal di Bali dan membuka penginapan di Kuta. Sepak bola hampir tersingkir dari kehidupan sehari-hari. Namun seperti Shin Tae-yong yang dicintai publik sepak bola saat ini, nama Tony kembali disebut penggemar sepak bola saat prestasi Indonesia makin merosot mutunya. Ia tergugah untuk tampil kembali dalam pentas sepakboIa. Dia menerima tantangan untuk mengasuh tim PSSI dalam penyisihan Piala Dunia 1978.
Antun Pogacnik adalah pelatih bertangan dingin. Namanya tak lepas dari kehebatan Indonesia yang pada masa itu yang ditakuti di kawasan Asia. Bahkan Tim Merah Putih sempat dijuluki Macan Asia.
Dia ditunjuk sebagai pelatih timnas Indonesia pada Februari 1954. Dia datang dengan segudang pengalaman mumpuni. Saat masih aktif bermain, Pogacnik pernah membela timnas Yugoslavia dan Kroasia.
Satu catatan fenomenal yang pernah ditorehkannya adalah membawa Indonesia tampil di Olimpiade Melbourne 1956. Di sana, dia mencatat sejarah dengan menahan raksasa sepak bola dunia saat itu, Uni Soviet, dengan skor 0-0.
Pertandingan babak perempat final Olimpiade Melbourne 1956, yang dilangsungkan pada 29 November itu Indonesia tampil apik. Para pemain seperti Maulwi Saelan, Endang Witarsa, Thio Him Tjiang, Ramlan, dan Rusli Ramang bermain dengan luar biasa.
Laga yang semula diramalkan akan dimenangi Uni Soviet dengan mudah ternyata menyaji drama luar biasa. Dari pinggir lapangan, Tony menginstruksikan para pemainnya untuk menerapkan strategi pertahanan berlapis. Walhasil Uni Soviet yang diisi pemain hebat semisal Igor Netto, Eduard Streltsov, dan Valentin Ivanov, tak bisa menembus gawang yang dijaga Maulwi Saelan.
Begitu pertandingan usai, banyak orang takjub. Presiden FIFA, Sir Stanley Rous memuji betapa sempurnanya pertahanan Indonesia. “Baru sekali saya melihat permainan bertahan yang sempurna sekali,” ujar Presiden FIFA, Sir Stanley Rous, dinukil Tabloid BOLA edisi 27 Juli 1984.
Peraturan kala itu menyebutkan pertandingan ulang adalah cara untuk mencari pemenang saat laga berakhir imbang. Dalam laga dua hari kemudian, Uni Soviet berhasil memainkan strategi jitu untuk mencukur gundul tim asuhan Pogacnik. Indonesia kalah telak, 0-4.
Meski kalah namun tim Indonesia kala itu teramat harum. Keberhasilan di Melbourne ini seolah menjawab kegagalan di Asian Games di Manila, dua tahun sebelumnya. Kala itu, meski tampil perkasa di babak awal, langkah Indonesia terhenti di semifinal.
Mereka kalah 2-4 dari tim tangguh, Taiwan. Kesialan berlanjut ketika Indonesia harus puas di posisi keempat usai dikalahkan oleh Burma dengan skor tipis 4-5 dalam perebutan tempat ketiga. Maulwi Saelan, kiper Timnas Indonesia, menyebutkan bahwa kegagalan Toni Pogacnik di Asian Games Manila disebabkan oleh terbatasnya waktu persiapan.
"Baru tiga tahun kemudian Tony berhasil melambungkan PSSI dalam babak penyisihan Olimpiade Melbourne 1956, serta pada tahun 1958 berhasil meraih medali perunggu Asian Games III," ujarnya dalam wawancara yang dimuat di harian Fajar, Jumat (7/2/1986) hal. 4 pada berita berjudul Ketua Dewan Pelatih Nasional: Pelatih Asing Sebaiknya Penasihat Teknis Saja.
Pada 1958, Indonesia hampir mencetak sejarah. Selain merebut medali perunggu pada Asian Games, pasukan Pogacnik sebenarnya bisa tampil di Piala Dunia ke-6 tahun 1958 yang digelar di Swedia. Lolos dari hadangan Cina di babak kualifikasi pertama, Indonesia melaju jauh hingga ke babak kualifikasi yang kala itu masih menggabung Asia-Afrika.
Kehadiran negara Israel menyebabkan banyak peserta mundur. Setelah Sudan kemudian Mesir mengambil langkah serupa. Sialnya, Israel kemudian menjadi lawan Indonesia. Sama dengan negara-negara lain yang menolak invasi Israel dalam Perang Arab, Indonesia pun menolak main dengan negeri itu.
Skandal Senayan
Pencapain timnas di tangan Pogacnik cukup membuat Indonesia optimistis dengan target di Asian Games 1962. Prestasi di Olimpiade dan dua Asian Games sebelum membuat Presiden Soekarno ingin medali emas. Apalagi, Indonesia berstatus sebagai tuan rumah.
Namun, Timnas Indonesia yang tergabung di grup A gagal lolos. Bahkan mereka terhenti di babak penyisihan. Dalam babak penyisihan itu, Indonesia, Vietnam Selatan, dan Malaya memiliki poin yang sama, yakni enam. Sayangnya, dibanding Vietnam Selatan dan Malaya, pasukan Pogacnik kalah dalam selisih gol. Akibatnya, Indonesia hanya menjadi penonton.
Pencapaian yang maksimal, tentu saja. Apalagi dalam turnamen itu, Indonesia hanya diperkuat oleh pemain kelas dua. Pogacnik terpaksa mencoret sepuluh pemain yang diduga menerima suap dalam sebuah pertandingan uji coba melawan Thailand dalam persiapan menuju Asian Games tersebut yang kemudian dikenal dengan Skandal Senayan.
Banyak pemain yang kemudian mundur dari sepak bola selepas skandal memalukan itu. Dalam sebuah wawancara, Sunarto menyatakan tidak ada minat lagi selepas skandal itu terungkap. "Hanya sekonyong-konyong tidak ada minat lagi. Mengenai peristiwa Senayan sebaiknya dilupakan saja," katanya dalam wawancara dengan wartawan Kompas.
Seperti media lainnya, harian itu juga menurunkan tulisan yang menyayangkan skandal itu. “Seandainya menjelang Asian Games IV tidak terjadi skandal Senayan yang dimaksudkan di atas, Indonesia pasti menjuarai seluruh Asia. Kesemua itu hanya kenangan manis belaka," tulis media itu pada 1973.
Desakan yang meminta Tony mundur pun bermunculan. Namun, PSSI menyatakan kegagalan di Asian Games 1962 bukan sepenuhnya salah Pogacnik. Ketua PSSI saat itu Abdul Wahab dalam koran Merdeka, Sabtu, 13 Oktober 1962, menyatakan Pogacnik akan tinggal 4 tahun lagi di Indonesia dan akan tetap menjadi pelatih kepala Timnas Indonesia sebab tenaganya masih dibutuhkan.
Nyatanya, itu tidak benar. Selepas kegagalan itu, Pogacnik sempat mengajukan pengunduran diri. Namun permohonannya ditolak oleh Presiden Soekarno. Setahun kemudian, dia mengundurkan diri karena menghadapi masalah pada lututnya. Total dengan menjalani pekerjaan tersebut selama sembilan tahun, praktis Pogacnik menjadi pelatih terlama menangani tim nasional Indonesia.
Pogacnik sempat kembali menangani timnas dalam babak kualifikasi Piala Dunia 1978 Argentina. Pada Februari 1977, dengan membawa skuad terbaiknya, seperti Iswadi Idris, Risdianto, dan Andi Lala, Pogacnik pergi ke Singapura. Di sana mereka bertarung dengan negara lain, selama sebulan. Sayang, langkah pasukan Pogacnik terhenti di babak awal.
Pogacnik, yang menjadi warga negara Indonesia, wafat pada Mei 1978. Dia tidak saja memberikan banyak kemenangan bagi Indonesia yang dicintainya. Seperti yang disampaikan pengamat sepak bola Kadir Jusuf, Pogacnik merupakan bapak sepak bola modern Indonesia yang menjadi peletak dasar permainan sepak bola modern di Indonesia.
Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.
Editor: Fajar WH


